[Renungan] Merayakan Valentine Bukan Identitas Muslim


Bismillahirrahmaanirrahiim..

Assalaamu’alaaykum..wrh..wrb..

Apa kabar nih, pembaca? v^^v. Dengar-dengar dua hari yang lalu (14 Februari) adalah hari Valentine -.-. Pada ngasih/dapet coklat yah? *semoga kayak akyu yang ga pernah, hehe. Aku sebenarnya ingin tulis ini beberapa hari yang lalu, tapi karena kondisi kurang fit (dan juga mikir biar bahasanya indah plus nunggu mood dateng, ehehe), jadi baru bisa tulis sekarang. :p ga pas lagi jadi momennya, hehe. Tp ga papa lah daripada ga ada, wkwkwk..

Aku pernah beberapa kali nonton film yang bertema atau sebagian isinya tentang Valentine. Seonggok coklat diberikan pada orang yang disayang, ntah itu siapa. Teman atau siapapun. Tempo dulu aku kadang pengen juga sih dikasih ‘begituan’ :D. Tapi kemudian aku mendengar dari kakakku tentang usul-asal perayaan Valentine.

Singkat cerita aku pun tahu mengetahui, Valentine itu (s)opo sih? Hari Kasih Sayang? Nggak, tuh. Tiep saat tiep tempat, sok atuh bebas kita menunjukkan kasih sayang kita. Masa cuma setahun sekali nunjukkin cinta? v^^v. Kalau artinya hari bertabur coklat (*istilahku :D), berarti kita boleh makan coklat tgl 14 februari doang, dong? Kalau kita mau berpikir, sungguh ini sangat lucu, sob.

Tuhan kita, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, artinya begini

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah“(QS: Ali Imrân 28)

Diantara salah salah satu makna dari perwalian yang dimaksud di sana adalah Al-Mutâba’ah yaitu mengikuti. Sebagaimana sabda Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam;

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk diantara mereka” (HR. Abu Dawud 4031, Ahmad 2/92,50. Dishahihkan Al-Bany dalam Al-Irwâ’ 1269).

Nih sedikit penjelasan yang aku tahu (dan dari cerita kakakku yang cantik :)) dan aku tambah dari beberapa sumber:

Valentine’s Day Ituh Produk Para Orang Kafir

Jika melihat sejarah dan perkembangan Hari Valentine, maka dapat kita pastikan bahwa perayaan tersebut tidak ada contohnya dalam Islam dan termasuk syi’ar dari agama Nashrani. Sehingga menjadi suatu kewajiban bagi orang yang percaya kepada Allah dan Rasul-Nya (yang notabenenya adalah termasuk kita) untuk tidak sekali-kali ikut meramaikan perayaan tersebut, dan orang-orang Islam hendaknya menjadikan hari itu seperti hari-hari lainnya. Biasa aja menyingkapi valentine, bud.. v^^v Ga ada yang menarik, mending kita mendoakan orang yang kita sayangi.. Alangkah lucunya bila kita mengikuti apapun yang didikte orang-orang kafir di sana, teman..

Sekilas Tentang Sejarah Hari Valentine

(Yang ini aku searching2 dulu, takut2 salah tulis)

Sewaktu pemerintahan Kaisar Claudius II, Romawi terlibat operasi ekspansif militeris, Claudius mempunyai banyak kesulitan merekrut tentara untuk perluasan wilayahnya. Claudius beralasan bahwa yang menyebabkan para lelaki tidak mau melayani kekaisaran adalah karena kasih sayang mereka kepada rumah dan keluarga. Akibatnya Claudius mendeklarasikan bahwa seluruh pertunangan dan pernikahan pada masa kekaisarannya adalah tidak sah serta para pasangan cinta dilarang untuk menikah. *wah, ngeri amat. -.-

Konon, ada seorang pendeta bernama St. Valentine yang dicintai dan dikagumi oleh banyak orang. (*jd orang2 pada mengenang pendeta?) Ia menganggap dekrit kaisar itu unfair, karena itu ia meneruskan untuk menikahkan pasangan manusia secara diam-diam. Akhirnya kaisar marah besar dan memerintahkan si pendeta untuk dipenjarakan (269 M) dan dihukum mati. St. Valentine (ada juga yang mengatakan ditembak) kemudian dikultuskan sebagai orang suci (pelindung pasangan kekasih). (*ntah aku juga kurang paham kultus itu apa @.@)

Tanggal 14 Ditetapkan Sebagai Hari Valentine

Pada tahun 494 M, Dewan Gereja di bawah pimpinan Paus Glasius I (merupakan kaisar pertama yang memeluk Nashrani) mengubah bentuk upacara Lupercalia (hari peribadatan kepada Dewa Lupercus yang merupakan Dewa Kesuburan, Padang rumput, dan Pelindung peternakan),   menjadi perayaan Purifikasi (pembersihan diri). Dan pada thn 496 M, Paus Glasius I mengubah tanggal perayaan Purifikasi menjadi tanggal 14 Februari (yang sebelumnya dilakukan pada tanggal 15 pebruari). Sebagai pengkultusan terhadap St. Valentine, maka tanggal 14 Februari oleh Paus Glasius I ditetapkan sebagai St. Valentine’s Day (Hari Valentine). Sehingga tradisi Lupercalia dimarakkan kembali pada tanggal 14 Februari sekaligus sebagai peringatan kematian St.Valentine (Sang Pelindung Pasangan Kekasih).

Catatan dari Guru Ngajiku: Hari Valentine itu juga dikenal sebagai hari di ‘penyerahan tubuh wanita kepada pria’ à yang kebanyakan bukan pasangan halal. Masya Allah, sob. Aku searching2, di hari Valentine itu seluruh umat dunia yang merayakan –ntah muslim yang ga tahu atau nggak—merayakannya dengan ‘main’ ke hotel. T.T Masa ini sih yang dinamakan cinta? Cuma seharga coklat batangan lapanribuan?

Merayakan Valentine Itu DOSA

Benar tidaknya sejarah om Saint Valentine di atas tidak perlu kita buktikan, yang jelas perayaan tersebut bukan bagian dari syariat agama Allah yang notabenenya kita pemeluknya. Selain bentuk penyerupaan terhadap ritual orang-orang kafir (sama halnya dengan perayaan tahun baru Masehi), ada banyak pelanggaran lain yang tidak mungkin terhindarkan dalam acara tersebut diantaranya:

  1. Menambah dan menetapkan hari raya (perayaan) yang tidak ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya padahal Hari Raya adalah bersifat taufiqi (tidak bisa ditetapkan kecuali dengan dalil syar’i). Kayak subhat.
  2. Terjadi percampur-bauran antara dua lawan jenis yang berbeda. Ckckck.
  3. Berpakaian ala orang-orang kafir (pendek, ketat, tipis, bahkan laki-laki berdandan seperti wanita atau sebaliknya.<Ckckck>)
  4. Didalamnya terdapat pemborosan harta, kita tahulah coklat itu mahal. Belum lagi kalo sampe ada yang ngerayain pake pesta dugem2an.. *mending buat beli buku atau nyumbang di mesjid, pahalanya ngalir v^^v.
  5. Bagi orang Islam yang berakal, tentunya tidak akan pernah mau menjerumuskan dirinya dalam lautan kemaksiyatan ini. d^^b

So, kesimpulannya apa nih? Haram  menyelenggarakan acara hari valentine dan haram pula turut mengambil bagian dari kegiatan-kegiatan tersebut sekecil apapun bentuknya (termasuk mengedarkan undangan dan mengucapkan selamat). (ditulis tebal2 miring dan bergaris bawah biar maduk, hehe)

Ingatlah selalu, sob. Cinta itu bukan coklat, dan tidak ada waktu khusus untuk cinta. Cinta itu bukan ‘menyerahkan’.

Semoga kita tidak termasuk orang yang merugi ya sobat2.. 🙂 Aamiiin…

—-

Catatan:

Bagi yang merasa tidak cocok dengan tulisan ini, tidak apa-apa tidak menyetujuinya. v^^. Saya cuma menyampaikan dan mengingatkan. Bagi yang kebetulan non muslim. Saya mohon maaf bila ada kata yang menyinggung, ini saya buat semata-mata untuk rekan muslim.. v^^v

6 thoughts on “[Renungan] Merayakan Valentine Bukan Identitas Muslim

Terima kasih atas komentar antum. :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s