[Renungan] Bakti Beta pada Ayah dan Bunda


Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Assalaamu’alaykum.wr.wb.

“… dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’”

Sobat.. Kumaha, damang? ^^.. Lama tak bersua.. *ga ada yang nanya, hehe..

Subhanallah sekali, ya.. Allah azza wa jalla memerintahkan sedetil itu kepada kita untuk bersikap kepada dua manusia paling berjasa dalam hidup kita.. Terjemahan surah Al Isra ayat 23 dan 24 di atas membawa kita pada sebuah renungan.. Renungan yang mungkin sangat jarang kita lakukan..

Tidak terasa, ya.. Kita sudah dewasa.. Rasanya baru kemarin kita berayun di pelukan ibu.. Sekarang kita sudah bisa berlari.. Rasanya baru saja kita menangis merengek pada ayah, minta dibelikan Barbie dan robot-robotan.. Sekarang kita sudah bisa mengatur finansial kita. *aku ada temennya ga ya? Aku blm bisa :p. Rasanya baru sebentar sekali berlalu kita tidur di pelukan ibu, baru sebentaar sekali berlalu kita digendong ayah saat kita menangis..

Saat kita jauh merantau, raga ini meninggalkan orang tua kita (kalau kita kuliah atau menikah).. Adakah sang hati merindukan mereka (lagi)..? Rindu masakan ibu, rindu tawa ayah, rindu dekapan kedua orang tua kita..

Adakah kita berpikir, belasan tahun (atau lebih) kita hidup dalam kasih sayang mereka, adakah kata manis  yang kita ucapkan? Adakah dekap hangat yang kita berikan? Adakah panggilan sayang kita utarakan? Atau setidaknya, adakah kita mengucapkan terima kasih..?

Adakah kita teringat, saat kita membanting daun pintu kamar hanya karena ibu tidak mengizinkan kita terlalu wara-wiri, ibu tidak marah.. Walaupun seharusnya kita tahu, hati ibu terasa sakit saat kita bertingkah begitu.. Adakah kita terngiang, saat kita mogok makan hanya karena ayah belum bisa membelikan kita sepeda motor baru, ayah tidak marah.. Ukhtifillah wa akhifillah.. Adakah kita berpikir, sepasang suami istri ini adalah manusia yang paling sabar dalam menghadapi kita..*aku kangen ibu T.T

Sobat tersayang.. Kebanyakan dari kita mungkin berbahagia, masih bisa memandang wajah ayah, menggenggam tangan ibu.. Sungguh, benar-benar tidak enak rasanya kehilangan orang tua.. *dan jangan coba buktikan! Selagi bisa, alangkah baiknya kita berusaha mengekspresikan kasih sayang kita.. Sungguh, kesempatan tidak akan datang dua kali..

Sobat tersayang.. Saat ini, marilah sejenak kita berpikir, sudah berapa banyak kita menyakiti hati mereka, sedang baru ada berapa dari list kebaikan mereka yang kita balas, atau setidaknya kita hargai..? Berapa lama kita di depan facebook, dibanding lamanya kita berdoa sehabis solat untuk sepasang hati yang mendidik kita dari kecil.?

Sobat semua tentunya tahu, bagaimana rasanya dikhianati teman sendiri, saat kita sudah baik dan ramah sekali padanya, eh, dia tidak pernah peduli akan masalah kita.. Walaupun dalam berbuat baik tidak sepantasnya kita pamrih, tapi merasakan sikap kasarnya tentu menyakitkan,  kata-kata pedasnya bagai jarum-jarum tajam yang menusuk-nusuk di bantalan empuk hati kita..*aku pernah, wkwkwk

Itu baru sebulan dua bulan kita berteman dan berbuat baik..

Bagaimana dengan sepasang mata letih ibu yang berkaca-kaca saat kita lahir, belasan tahun yang lalu, dan sekarang kita sudah besar..? Bagaimana perasaan ibu saat kita menyakiti hatinya..? Bagaimana sesaknya dada ayah saat kita mengecewakannnya..? Dan bagaimana mirisnya ibu dan ayah kita saat kita membentak mereka?

Walau hanya sekadar “ah”, sangat tidak pantas kita ucapkan, pada dua orang yang sangat baik pada kita, mengorbankan segalanya untuk kebaikan kita.. Itulah sebabnya Allah melarang kita secara langsung lewat firman suci-Nya.. Karena saat kata kasar itu diucapkan, paku-paku yang ditancapkannya akan tetap membekas di dinding hati orang tua kita.. Dipelototi saja tidak enak, apa lagi sampai terdengar kata-kata pedas..? Dampak yang akan kita rasakan sungguh sangat besar bila kita berani melawan orang tua kita, murka orang tua juga murka Allah, kan, friend?

Mungkin dari sobat UKHTI ada yang membantah, “Aku sudah baik, kok, sama ayah ibuku, sudah bisa membuat mereka bahagia punya anak sepertiku.. Aku juga bisa sabar dan tawadhu.. Blah, blah, blah..” Masya Allah.. Kita sudah lupa diri.. T.T

Seperti yang ada dalam kitab Ibnu Atqoilah, yang artinya “Barang siapa yang yakin bahwa dirinya merasa tawadhu, merasa rendah hati, maka berarti dia benar-benar orang yang takabur.” ><

Sungguh, tidaklah cukup waktu kita untuk meng-list kebaikan ayah dan ibu kita, tidak terukur airmata dari dua pasang mata yang melihat kita tumbuh besar, tidak tertampung peluh yang mereka bulirkan demi kesuksesan kita.. Sedang kita juga tidak ingat betapa banyak kita menyakiti hati mereka.. Sadar tidak sadar, saat kita berkata yang tidak baik, apa lagi sampai membentak, kita telah berbuat salah satu dosa yang paling besar di antara dosa-dosa besar.. Durhaka pada kedua orang tua.. Nastaghfirullah, semoga kita tidak termasuk di dalamnya.. Aamiin..

Betapa dahsyatnya maksud firman Allah tentang kata “ah” tersebut, kita diperintahkan untuk sangat berhati-hati dalam berbuat dan  bersikap pada kedua orang tua kita.. Hingga kata “ah” saja tidak boleh kita ucapkan..

Sobatku yang super *gaya pak Mario, hoho.. Marilah kita menyisihkan waktu dan pulsa untuk menelepon ibu, menanyakan kabar ayah dan ibu.. Mereka tentu akan sangat bahagia.. Jika tidak sekarang kita berusaha meraih ridho mereka, kapan lagi..? Kita pun tidak mungkin menunggu ‘jemputan’ malaikat maut.. Untuk kita, atau untuk mereka..

Satu kalimat untuk kita..

Cinta orang tua kita seperti kaca, mudah bersinar-sinar karena (bakti) kita, tapi juga bisa pecah dengan mudah, karena kita juga.. Walau hanya sekadar “ah”, dapat menjadi peluru yang memecahkan kaca itu..

Semoga bermanfaat. d^^b

Wassalaamu’alaykum.wr.wb. ^^

(komen2 dikit yak, kasih bintang atau jempol, makasih v^^v)

Artikel Tak Kalah Fenomenal: Menghapus Kesedihan

Enjoy d^^b

14 thoughts on “[Renungan] Bakti Beta pada Ayah dan Bunda

  1. teringat tetes air mata ibu saat saya terkapar sakit.
    teringat belai lembut itu, yang tiada pernah tergantikan.
    SUBHANALLAH..
    apalagi yang harus kita terima dari orangtua kita setelah semuanya mereka serahkan atas kita?
    semoga kita menjadi anak2 yang berbakti pada orang tua.

    sangat bermanfaat.

    terima kasih

    • jazakallah akh, ats komennya..
      sungguh bahagia anak yg msh pny org tua..
      sungguh bahagia org tua yang pny anak berbakti..

      semog Allah melindungi ayah, ibu, dan ibu di sana.. Aamiin..

      Alhmadlh.. sama2 akh.. 🙂

    • yup nda, ni karya ‘baru’, udah lama dibikin tp baru dipost.. :p
      uhm, motivasi yah?
      sedang diusahakan, *sambil menunggu mood datang, wkwkw

    • hehe, iya 😆 Insya Allah bunda dan ayah menanti di sana.. v^^v
      terima kasih kunjungannya mas, saya salut sama web nya mas, hijau dan ada saljunya.. d^^b

  2. Aslm.. syukron dah ngunjungin blog ana.. salam kenal juga 🙂 ..
    sampai kapanpun qta tak akan bisa membalas jasa ortu, apalagi ibu. btw, jadi teringat kisah ini:

    Seorang pria mengadu kepada Umar bin Khattab tentang ibunya yang telah renta dan sakit-sakitan. Si pria ini berkata, “Aku merawatnya dengan baik setiap hari, aku menyuapinya dengan tanganku sendiri, aku menggendongnya kemanapun dia mau pergi. Aku juga mendoakannya dalam setiap sujudku. Apakah yang kulakukan ini sudah sebanding dengan apa yang diberikannya padaku?”

    Umar menjawab tegas, “Sekalikali pun tidak! Kau tak akan bisa membalas semua yang telah diberikan dan dilakukannya untukmu. Itu karena kau merawatnya sambil menunggu kematiannya, sedangkan dia dulu merawatmu sambil menunggu kehidupanmu.”

    • Wa’alaykumussalaam.wrh.wrb..
      iya mbk..
      ‘afwan ukhti mau nanya kalo soal orang tua tiri itu bagaiman ya ukh, an mau bikin tp ragu2.. ^^’

      subhanallah sekali, jazakillah udah mengingatkan mbak.. v^^v

  3. sy sejak sebelum dilahirkan sudah ditinggal bapak dan tak pernah menafkahi saya sampai sekarang ini,masih adakah baktiku kepadanya?

    • masya Allah.. maaf saya tidak tahu…
      uhm.. saya tidak bisa memberi komentar ttg ini, saudaraku..
      bila memang Andd merasa tak perlu, ya tak apa.. tapi setidaknya kita tidak balik menjahati..
      Semoga Allah memuliakan kita.. Aamiin…

Terima kasih atas komentar antum. :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s