[Renungan] It’s Not All About You


Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Assalaamu’alaykum..wrh..wbr..

(Ya Allah, luruskanlah niat hamba, aamiin..)

Aku tadi pagi lagi agak sedikit kecewa. Hah, ntah kesal ntah kecewa ntah sedih ntah apa yang menyelimuti hatiku. Pokoknya perasaanku ga enak. *sebelumnya maaf postingannya agak beda nih (tentang aku dikit), hehe.

Jadi ceritanya begini, di kampusku tercinta sedang ribut-ributnya kabar akan ada kuliah umum wajib yang pembicaranya orang luar. Dari Australia, #bapaknya ganteng, wkwkwk. Aku sendiri juga begitu, tidak sabar lihat dan dengar orang asing berbicara di negeri ini. Akhirnya tibalah hari ini pelaksanaan kuliah umum itu.

Nah, usul-usul jam setengah sepuluhan mulailah kuliah itu. Seperti yang sudah kutebak sebelumnya, bahasa Inggrisnya ga bakal sejelas Inggris Amerika. Aku memang tidak banyak menangkap yang dibicarakan sih, tapi ntah kenapa aku semangat sekali untuk bertanya. Setiap ada materi, kuliah, atau seminar, aku selalu ingin tanya ini itu. Tapi rasanya kali ini berbeda.

Setelah pak pembicara selesai menyampaikan kuliahnya, kan mahasiswa dikasih kesempatan ngomong  dan bertanya. Aku sudah menyiapkan catatan kecil di kertas kecil untuk bertanya dalam bahasa Inggris, jujur saja aku sangat bersemangat (selalu begitu kalau ada kuliah bahasa Inggris, heheh :mrgreen:). Aku ingin sekali mempraktikkan kemampuanku yang masih ecek-ecek dengan native speaker. 😦 Tapi aku tidak mengerti kenapa dari tadi (pagi tadi) aku tidak kunjung ditunjuk oleh moderatornya.

Alhasil aku hanya bisa menilai bahwa aku terlalu kecil (nggak juga sih, hehe :D) dan tidak dikenal untuk ditunjuk moderator bertanya pada pemateri. Pada kesempatan kedua malah aku sudah mengacungkan tinggi-tinggi sedapatku dari tempat dudukku. Tapi tidak juga moderator memperhatikan. Wah, aku jadi sedikit kesal. Padahal Mister itu sudah mengarahkan telunjuknya ke arahku pertanda dia mengizinkanku. Aku juga (saat itu) tidak paham kenapa aku tidak diizinkan (oleh moderator). Haaah. Kesal.

Begitulah selama beberapa menit. Aku juga awalnya belum mengerti kenapa aku kesal. Di luar ruangan tempat absensi mahasiswa, teman-temanku bertanya, “Kok ga nanya tadi, fi?”. Aku jawab, “Tadi mau nanya tapi ga ditunjuk-tunjuk.” Aku membela diri.

Pulang-pulang aku buka facebook. Semua orang membicarakan tentang kuliah umum tadi. Status bertebaran, “Wah, pak, saya ga ngerti nih bahasa Inggrisnya”, “Tuh bapak ga ngerti, bahasa Indonesia aja susah apalagi bahasa Inggris.” Blah blah blah.

Teman-teman kuliah sampai kakak-kakak tingkat yang friends ku di facebook rata-rata update status begitu. Glek. Tiba-tiba aku memahaminya. Kenapa aku tadi ingin sekali bertanya. Karena itu menggunakan bahasa Inggris, dan aku ingin orang yang memandang lemah aku melihat bahwa aku juga punya kelebihan.

Astaghfirullah. Satu kata terucap. Mengelus-elus dada lah yang aku lakukan saat itu (tadi). Sejurus kemudian aku buka email. Dari folder blog ku, ada beberapa komen di postinganku mengatakan “Aku mau langganan, caranya gimana ya?”, “Wah, blognya bagus sekali”,”Bahasa Inggrisnya bermanfaat, dek fi”. Ntah aku ingin menangis atau bersyukur. Sungguh aku pagi tadi lupa diri dan tidak melihat betapa seharusnya aku bersyukur teman-teman nyata di dunia maya meraut manfaat yang kucoba sodorkan.

Aku teringat lagi, dulu di SMA aku pernah dibilang “sok bisa”. Ternyata aku masih suka begitu tanpa kusadari. Aku hanya tidak punya partner belajar bahasa Inggris. Itu saja. Mungkin itu akhirnya aku ingin bisa dengan cara apapun. Tapi tidak seharusnya aku show off. Memang orang yang lancar berbicara bahasa Inggris terdengar hebat dan keren abis. Tapi aku, aku sudah salah niat. Betapa pentingnya niat yang dilandasi ikhlas karena Allah.

Aku akhirnya facebook-walking dan mencoba mengingat-ingat apa saja yang sudah kubaca. Teman-teman suka sekali update status pake bahasa Inggris dengan vocab sulit dan struktur yang ga gampang, tidak salah memang. Tapi kemudian aku melihat ada komen di status orang –sebut saja bunga– , “Pamer nian yang bisa baso Inggris (pamer banget yang bisa bahasa Inggris).” Ada juga yang update bahwa sedang di Jepang, baru beli Blackberry, dan lain-lain. Bahkan ada juga yang update bahwa sedang puasa, sedang mengaji, dan lain-lain. Masya Allah, aku ingat kata kakakku,“Hidup ini bukan untuk pamer”.

Aku kemudian sadar satu hal lagi. Bapak moderator tadi berkacamata. Mungkin itu sebabnya beliau tadi mungkin tidak melihatku yang mengacungkan tangan tinggi-tinggi. Mana tempat dudukku remang-remang. Wajar saja kalau aku tidak kelihatan. Aku sudah suuzon tadi. Tidak seharusnya aku kesal tadi. Toh Allah sudah menyelamatkanku dari perbuatan riya tadi. Subhanallah.

Kusadari dua hal hari ini. Tidak perlu merasa hebat sehingga kita harus pamer. Terutama dalam hal bakat dan kemampuan. Toh kalau Allah tidak ridho, apa gunanya? 😦 Dan tidak perlu merasa sedih, masih banyak yang membuat kita merasa bermanfaat. 😉 Dan tidak perlu membuang waktu bersuuzon. Aku sudah menyia-nyiakan waktu dengan berkesal ria tadi pagi. Semoga Allah mengampuni dosaku, Aamiin.. Semoga Allah membimbing dan memuliakan kita. Aamiiin..

*O iya, maaf nih bawaannya serius, heheh..

Semoga bermanfaat, Aamiin. ^^

14 thoughts on “[Renungan] It’s Not All About You

    • uhm, kl curhatnya bermanfaat tdk apa2 sih. tapi kalo menurutku (menurutku, yah, hehe), klo curhatnya kacau dan merendahkan diri jadi tidak ahsan.. hehe..
      iya insya Allah.. ^^

  1. hmm..iyo yo fi… kadang qt sk telat nyadar, mesti hati2 dak boleh sombong… Amiiin..smoga Allah membimbing dan memuliakan qt..semangat terus memperbaiki diri.. ^^

  2. “Ntah aku ingin menangis atau bersyukur. Sungguh aku pagi tadi lupa diri dan tidak melihat betapa seharusnya aku bersyukur teman-teman nyata di dunia maya meraut manfaat yang kucoba sodorkan.”

    Mari berkarya dengan blog, “Bisa jadi, apa yang Anda anggap kecil dan sederhana ternyata besar dan sangat bermakna bagi orang lain. Mari mendulang income pasif pahala dengan membuat karya bermakna.”

      • Diantara sekian banyak nilai-nilai negatif yang ada di internet mudah-mudahan karya kita menjadi nilai-nilai positif, sekecil apapun kontribusi kita akan sangat bermakna.

        jika hendak hibernasi atau hiatus, biarkan blog ini dengan segala konten yang bermanfaat tetap eksis, lebih dari 287,000 pengunjung sungguh sangat besar nilainya, ada banyak manfaat yang bisa diambil oleh para pengunjung.

        بارك الله فيكم

        الذى علم بالقلم – علم الإنسان ما لم يعلم

        ن – والقلم وما يسطرون

      • Iya, aamiiin..
        Saya bukan sedang hibernasi sih (kayak hewan aja), saya sedang di awal semester 8, kebetulan tambah susah bagi waktu. Insha ALLAH saya akan segera posting tulisan yang baru..
        Oh banyak ya? Alhamdulillaah..

        Saya belum bisa baca tulisan Arab gundul, cuma ngerti yang pertama doang itu, apa artinya?

  3. الَذِى عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ اْلإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
    4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. 5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S. Al-Alaq: 4-5)

    ن وَاْلقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُوْنَ
    1. Nun, demi kalam (pena) dan apa yang mereka tulis. (Q.S. Al-Qolam: 1)

Terima kasih atas komentar antum. :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s