[Cerita] Bagaimana Rasanya Jadi Anak Kembar?


Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalaamu’alaykum.wrh.wbr.

Aku sedang memikirkan sesuatu (saat menulis ini). Teman-temanku suka sekali bertanya, “Enak, ya, jadi anak kembar? Rasanya gimana, Fi?”  Aku sebenarnya ga terlalu memikirkan tentang ini, karena hanya anak kembar yang tau dan paham betul bagaimana rasanya dilahirkan kembar. ^^

Sejak aku SD (seingatku) hingga sekarang, sudah banyak sekali yang bertanya tentang “sense” menjadi anak kembar, maka kucoba jelaskan di sini. Hoho. Siapa tahu ada yang kepingin punya saudara kembar, atau bahkan anak kembar. 😛 Jadi bisa ngebayangin duluan how it feels to be a twin. Ini kubuat spesial untuk kakak kembarku yang cantik dan kuat. Juga teman-teman kembar yang kukenal ataupun tidak, dan tentunya untuk pembaca budiman. ^^

Yang kutuliskan di sini hanya berdasarkan yang kurasa selama 19 tahun, 4 bulan, dan 3 hari aku bernafas. Juga hanya tentang rasa menjadi kembar dua saja, kalau yang kembar tiga atau lebih aku kurang tahu. 😛 Jadi kalau ada yang merasa tak sependapat sih wajar saja, ini sampelnya hanya kami berdua (aku dan kakakku), dan beberapa teman kembar yang kukenal. Semuanya ada delapan pasang, ditambah Upin dan Ipin jadi sembilan, wkwkwk. Selain itu tidak semua harus kuceritakan, ada rahasia-rahasia yang hanya anak kembar yang tahu. Hehe. 😀

Pertama-tama kita bahas dulu deh, kembar itu apaan ya? Kembar itu adalah yang sama dan bersama. Memang tak semua kembar sama (seperti aku dan dia), tapi setiap kembar selalu bersama, sejak belum lahir sudah bersama, dan akan terus bersama sampai menikah (kalau sudah menikah bersama pasangannya, wkwkwk). Hoho.

Uhm. Gimana rasanya jadi anak kembar, mau yang enaknya apa ga enaknya dulu nih? Setelah itung kancing baju, ternyata yang ga enaknya dulu. 😀 Okay deh kita coba cerita dikit gimana ga enaknya jadi anak kembar. (Agak susah ini, soalnya aku bersyukur dilahirkan kembar, ga ingat ga enaknya apa :cool:)

  • Pertama, menjadi anak kembar berarti harus siap untuk dibanding-bandingkan. Sama halnya dengan kakak adik, biasanya adiknya selalu diminta mencontoh kakaknya oleh orang tuanya. Tapi serasaku, kebanyakan yang membanding-bandingkan anak kembar itu bukan orang tuanya, tapi teman-temannya, baik yang dikenal ataupun tidak. Misalnya, kalau yang satu ga ganteng, satunya secakep Naoki, pasti jadi omongan. Atau kalau yang satu cuma bisa dapet 20 besar, satunya lagi malah ikut olimpiade, akan jadi bahan gunjingan. *aku geram kalau terjadi pada kami 😡
  • Kedua, anak kembar biasanya memang beda. Ga ada yang persis sama kayak pinang dibelah dua. Tebal atau tipis perbedaanya itu lah yang jadi sorotan. Bila perbedaannya membuat anak kembar sama-sama di atas (atau di bawah) sih ga jadi masalah. 😎 Tapi kalau membuat salah satunya jadi terkesan ga lebih baik, ini yang bikin serba ga enak. Sebut saja Mawar dan Melati. Kalau Mawar orangnya tomboy dan lusuh, sedangkan Melati seanggun Anna KCB, maka jangan heran satu kampung bakal rebut. Mawar tentu minder, sedangkan Melati akan jadi serba ga enak. Pokoknya masing-masing merasa beda dan terasingkan bila itu terjadi. 😦
  • Ketiganya apa lagi, yaa. Uhm. Biasanya anak kembar itu suka sekali bertengkar, gara-gara hal kecil saja bisa satu rumah jadi badai. Contoh, misalnya karena stok toko habis, ibu membelikan si A hape yang lebih mahal 100 ribu dibandingkan si B, jangan dikira si B bakal ikhlas begitu saja. Apa lagi kalau masih kecil, mereka ga tanggung-tanggung bertengkarnya. Contoh lain bisa dilihat di Upin dan Ipin, waktu kak Ros nya belikan buku baru, keduanya malah bertengkar tentang gambar di buku itu, katanya gambar eskrim punya Upin, gambar ayam punya Ipin, padahal cuma gambar juga bisa jadi rebutan yang diributkan, loh. Aku dan kakakku dulu waktu masih kecil juga begitu. Misalnya waktu main gelitikan, karena aku ga tahan gelitik dan selalu kalah, ujung-ujungnya malah jadi berkelahi. Hehe. Ini ga cuma jadi masalah bagi anak kembar, tapi juga orang tuanya yang susah merukunkan mereka. (Ayah, Ibu, maafin kita yang dulu ga rukun..)
  • Keempat, soal nama. Biasanya anak kembar itu namanya mirip loh, kayak aku aja (Nofriani) dan kakakku (Nofriana), teman-temanku ada yang Rona-Romi, Aina-Aini, Kurniawan-Kurniawati, Resi-Repi, Mutiara-Intan, Anang-Alan, dan artis Upin-Ipin. Orang-orang biasanya suka salah panggil. @.@ Dulu aku suka dipanggil dengan nama kakakku. Bahkan biar ga salah malah dipanggil semua namanya, “yuk pa, yuk pi”. Kalau aku sih gapapa. 😉 Tapi untuk yang merasa ga nyaman ini akan benar-benar mengganggu, semacam nama kita dipermainkan atau ditukar-tukar. Biasanya yang ga suka ini sehari-harinya bertengkar. ^^v

Selanjutnya nih, gimana enaknya jadi anak kembar. ^^ Aku sebenarnya agak ngeri-ngeri tulis ini. seperti terkesan pamer atau semacamnya, jadi kutulis seperlunya aja, ya. (Agak susah juga, karena mendaftarnya membuatku ingin pulang kampung T.T)

  • Pertama, menjadi anak kembar itu membuat kita merasa betul-betul sama dan disamakan. Apalagi kalau orang tuanya adil dan bijak. Kalau yang satu dapat ini, minimal kalau ga dapat “ini” yang lain dapat “itu”. Contoh nih, misalnya di hari lebaran, kalau yang satu mau minta jilbab baru, minimal yang lain (walaupun ga minta) dikasih uang atau pengertian. Cuma biasanya dikasih jilbab juga, biar sama. Kan enak tuh, ga minta malah dikasih. :p Hanya saja ga semua anak kembar suka digini’in. Mungkin yang nggak suka anak laki-laki kali ya. Terutama kalau kembar beda jenis kelamin.
  • Kedua, ini mungkin ga dirasa kembar laki-laki. Tapi sebagai kembar perempuan, enak sekali rasanya ada teman tidur, curhat, belajar, dan lain lain. Aku dengan kakakku sering sekali (terutama kalau pulang kampung) cerita-cerita soal suami idaman atau cowok yang lagi dikagumi, atau jenis baju yang disukai, atau tentang kuliah dll. Saling sharing pengalaman, makan bakso bareng, dan kangen-kangenan. :p Begitupun kakak sekosan yang aku kenal, mereka tinggal sekamar, sampai sekarang aku tidak bisa membedakan keduanya. Tapi mereka kulihat sangat akrab dan erat. Keduanya sudah kerja, meskipun di kantor yang berbeda. Sering kulihat mereka mencuci baju bersama, nonton TV bersama, memasak bersama, dan lain-lain. Gaya berpakaiannya juga mirip, bikin iri deh. Aku selalu ingat kakakku bila melihat mereka berdua. 😦
  • Ketiga, soal perbedaan. Layaknya pepatah, perbedaan ga selamanya salah, asal disikapi dengan  baik dan bijak. 😎 Malah bisa buat saling tolong dan memperat tali persaudaraan. Aku ga tau kembar-kembar lain. Tapi aku dulu suka mengerjakan PR bahasa Inggris kakakku, hehe. Dan beliau suka mengerjakan PR menggambarku. 😛 Karena udah kuliah jadi ga bisa saling bantu bikib PR lagi. Kakakku yang hampir ga pernah sakit itu suka merawatku kalau aku sakit, begitupun aku suka traktir bakso kalau pulang dan uang ID turun. Hehe. Pokoknya perbedaan yang saling melengkapi. ^^
  • Keempat, dengan menjadi anak kembar, kita merasa ga sendiri. Apalagi untuk yang cuma berdua (ga punya adik atau kakak), biasanya akan sangat akrab. Meskipun di atas kami masih ada dua kakak perempuan (jadinya empat), aku dan kakakku tetap bisa dekat. Memang ada juga yang malah ga akrab karena alasan tertentu. Tapi ntah bagaimana sejak besar, dengan sendirinya akan merasa punya sahabat, tempat berbagi. Aku dulu suka bertengkar dengan kakakku, kadang-kadang soal nyuci piring aja bisa jadi masalah. Tapi sekarang tiap mau pisah (aku ke Jakarta) dan pulang, kami berpelukan, malah kadang diikuti deraian air mata. Ga semua anak kembar bisa begitu. Tapi kalau udah begitu rasanya enak dan bersyukur sekali.

Naah, sampai di sini dulu, ya. Cerita tentang anak kembar. Semoga bermanfaat untuk yang kepingin punya saudara, atau yang berharap punya anak kembar. ^^ Menjadi kembar adalah anugrah. b^^d

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalaamu’alaykum.wrh.wbr.

Aku sedang memikirkan sesuatu (saat menulis ini). Teman-temanku suka sekali bertanya, “Enak, ya, jadi anak kembar? Rasanya gimana, Fi?”  Aku sebenarnya ga terlalu memikirkan tentang ini, karena hanya anak kembar yang tau dan paham betul bagaimana rasanya dilahirkan kembar. ^^

Sejak aku SD (seingatku) hingga sekarang, sudah banyak sekali yang bertanya tentang “sense” menjadi anak kembar, maka kucoba jelaskan di sini. Hoho. Siapa tahu ada yang kepingin punya saudara kembar, atau bahkan anak kembar. 😛 Jadi bisa ngebayangin duluan how it feels to be a twin. Ini kubuat spesial untuk kakak kembarku yang cantik dan kuat. Juga teman-teman kembar yang kukenal ataupun tidak, dan tentunya untuk pembaca budiman. ^^

Yang kutuliskan di sini hanya berdasarkan yang kurasa selama 19 tahun, 4 bulan, dan 3 hari aku bernafas. Juga hanya tentang rasa menjadi kembar dua saja, kalau yang kembar tiga atau lebih aku kurang tahu. 😛 Jadi kalau ada yang merasa tak sependapat sih wajar saja, ini sampelnya hanya kami berdua (aku dan kakakku), dan beberapa teman kembar yang kukenal. Semuanya ada delapan pasang, ditambah Upin dan Ipin jadi sembilan, wkwkwk. Selain itu tidak semua harus kuceritakan, ada rahasia-rahasia yang hanya anak kembar yang tahu. Hehe. 😀

Pertama-tama kita bahas dulu deh, kembar itu apaan ya? Kembar itu adalah yang sama dan bersama. Memang tak semua kembar sama (seperti aku dan dia), tapi setiap kembar selalu bersama, sejak belum lahir sudah bersama, dan akan terus bersama sampai menikah (kalau sudah menikah bersama pasangannya, wkwkwk). Hoho.

Uhm. Gimana rasanya jadi anak kembar, mau yang enaknya apa ga enaknya dulu nih? Setelah itung kancing baju, ternyata yang ga enaknya dulu. 😀 Okay deh kita coba cerita dikit gimana ga enaknya jadi anak kembar. (Agak susah ini, soalnya aku bersyukur dilahirkan kembar, ga ingat ga enaknya apa :cool:)

Pertama, menjadi anak kembar berarti harus siap untuk dibanding-bandingkan. Sama halnya dengan kakak adik, biasanya adiknya selalu diminta mencontoh kakaknya oleh orang tuanya. Tapi serasaku, kebanyakan yang membanding-bandingkan anak kembar itu bukan orang tuanya, tapi teman-temannya, baik yang dikenal ataupun tidak. Misalnya, kalau yang satu ga ganteng, satunya secakep Naoki, pasti jadi omongan. Atau kalau yang satu cuma bisa dapet 20 besar, satunya lagi malah ikut olimpiade, akan jadi bahan gunjingan. *aku geram kalau terjadi pada kami 😡

Kedua, anak kembar biasanya memang beda. Ga ada yang persis sama kayak pinang dibelah dua. Tebal atau tipis perbedaanya itu lah yang jadi sorotan. Bila perbedaannya membuat anak kembar sama-sama di atas (atau di bawah) sih ga jadi masalah. 😎 Tapi kalau membuat salah satunya jadi terkesan ga lebih baik, ini yang bikin serba ga enak. Sebut saja Mawar dan Melati. Kalau Mawar orangnya tomboy dan lusuh, sedangkan Melati seanggun Anna KCB, maka jangan heran satu kampung bakal rebut. Mawar tentu minder, sedangkan Melati akan jadi serba ga enak. Pokoknya masing-masing merasa beda dan terasingkan bila itu terjadi. 😦

Ketiganya apa lagi, yaa. Uhm. Biasanya anak kembar itu suka sekali bertengkar, gara-gara hal kecil saja bisa satu rumah jadi badai. Contoh, misalnya karena stok toko habis, ibu membelikan si A hape yang lebih mahal 100 ribu dibandingkan si B, jangan dikira si B bakal ikhlas begitu saja. Apa lagi kalau masih kecil, mereka ga tanggung-tanggung bertengkarnya. Contoh lain bisa dilihat di Upin dan Ipin, waktu kak Ros nya belikan buku baru, keduanya malah bertengkar tentang gambar di buku itu, katanya gambar eskrim punya Upin, gambar ayam punya Ipin, padahal cuma gambar juga bisa jadi rebutan yang diributkan, loh. Aku dan kakakku dulu waktu masih kecil juga begitu. Misalnya waktu main gelitikan, karena aku ga tahan gelitik dan selalu kalah, ujung-ujungnya malah jadi berkelahi. Hehe. Ini ga cuma jadi masalah bagi anak kembar, tapi juga orang tuanya yang susah merukunkan mereka. (Ayah, Ibu, maafin kita yang dulu ga rukun..)

Keempat, soal nama. Biasanya anak kembar itu namanya mirip loh, kayak aku aja (Nofriani) dan kakakku (Nofriana), teman-temanku ada yang Rona-Romi, Aina-Aini, Kurniawan-Kurniawati, Resi-Repi, Mutiara-Intan, Anang-Alan, dan artis Upin-Ipin. Orang-orang biasanya suka salah panggil. @.@ Dulu aku suka dipanggil dengan nama kakakku. Bahkan biar ga salah malah dipanggil semua namanya, “yuk pa, yuk pi”. Kalau aku sih gapapa. 😉 Tapi untuk yang merasa ga nyaman ini akan benar-benar mengganggu, semacam nama kita dipermainkan atau ditukar-tukar. Biasanya yang ga suka ini sehari-harinya bertengkar. ^^v

Selanjutnya nih, gimana enaknya jadi anak kembar. ^^ Aku sebenarnya agak ngeri-ngeri tulis ini. seperti terkesan pamer atau semacamnya, jadi kutulis seperlunya aja, ya. (Agak susah juga, karena mendaftarnya membuatku ingin pulang kampung T.T)

Pertama, menjadi anak kembar itu membuat kita merasa betul-betul sama dan disamakan. Apalagi kalau orang tuanya adil dan bijak. Kalau yang satu dapat ini, minimal kalau ga dapat “ini” yang lain dapat “itu”. Contoh nih, misalnya di hari lebaran, kalau yang satu mau minta jilbab baru, minimal yang lain (walaupun ga minta) dikasih uang atau pengertian. Cuma biasanya dikasih jilbab juga, biar sama. Kan enak tuh, ga minta malah dikasih. :p Hanya saja ga semua anak kembar suka digini’in. Mungkin yang nggak suka anak laki-laki kali ya. Terutama kalau kembar beda jenis kelamin.

Kedua, ini mungkin ga dirasa kembar laki-laki. Tapi sebagai kembar perempuan, enak sekali rasanya ada teman tidur, curhat, belajar, dan lain lain. Aku dengan kakakku sering sekali (terutama kalau pulang kampung) cerita-cerita soal suami idaman atau cowok yang lagi dikagumi, atau jenis baju yang disukai, atau tentang kuliah dll. Saling sharing pengalaman, makan bakso bareng, dan kangen-kangenan. :p Begitupun kakak sekosan yang aku kenal, mereka tinggal sekamar, sampai sekarang aku tidak bisa membedakan keduanya. Tapi mereka kulihat sangat akrab dan erat. Keduanya sudah kerja, meskipun di kantor yang berbeda. Sering kulihat mereka mencuci baju bersama, nonton TV bersama, memasak bersama, dan lain-lain. Gaya berpakaiannya juga mirip, bikin iri deh. Aku selalu ingat kakakku bila melihat mereka berdua. 😦

Ketiga, soal perbedaan. Layaknya pepatah, perbedaan ga selamanya salah, asal disikapi dengan  baik dan bijak. 😎 Malah bisa buat saling tolong dan memperat tali persaudaraan. Aku ga tau kembar-kembar lain. Tapi aku dulu suka mengerjakan PR bahasa Inggris kakakku, hehe. Dan beliau suka mengerjakan PR menggambarku. 😛 Karena udah kuliah jadi ga bisa saling bantu bikib PR lagi. Kakakku yang hampir ga pernah sakit itu suka merawatku kalau aku sakit, begitupun aku suka traktir bakso kalau pulang dan uang ID turun. Hehe. Pokoknya perbedaan yang saling melengkapi. ^^

Keempat, dengan menjadi anak kembar, kita merasa ga sendiri. Apalagi untuk yang cuma berdua (ga punya adik atau kakak), biasanya akan sangat akrab. Meskipun di atas kami masih ada dua kakak perempuan (jadinya empat), aku dan kakakku tetap bisa dekat. Memang ada juga yang malah ga akrab karena alasan tertentu. Tapi ntah bagaimana sejak besar, dengan sendirinya akan merasa punya sahabat, tempat berbagi. Aku dulu suka bertengkar dengan kakakku, kadang-kadang soal nyuci piring aja bisa jadi masalah. Tapi sekarang tiap mau pisah (aku ke Jakarta) dan pulang, kami berpelukan, malah kadang diikuti deraian air mata. Ga semua anak kembar bisa begitu. Tapi kalau udah begitu rasanya enak dan bersyukur sekali.

Naah, sampai di sini dulu, ya. Cerita tentang anak kembar. Semoga bermanfaat untuk yang kepingin punya saudara, atau yang berharap punya anak kembar. ^^ Menjadi kembar adalah anugrah. b^^d

23 thoughts on “[Cerita] Bagaimana Rasanya Jadi Anak Kembar?

  1. hohoho..
    lain yang ngalamin langsung anak kembar,,,
    nopriana ada blognya gx mbak?wkwkwk
    kan kembar tuh(apo hbnungannyo dak)
    tp sumpah keren nian puisi yg untuk calon suami tuh fi..(smpe seorang badawi keGRan,,hahaha)

    • hehe.iyo dong daw.. semoga yang kembar2 lain merasokan manfaat dan nikmat jadi anak kembar, hehe.. Aamiin…
      idak daw, dak hobi dio yang cktu2.. ^^’
      hehe, iyo daw.. siapo bae lah, siapopun nanti jadinyo, itulah untuk dio.. ^^ mokasi la mampir sob..

  2. hohoho..
    lain yang ngalamin langsung anak kembar,,
    nopriana ada blognya gx mbak?wkwkwk
    kan kembar tuh(apo hbnungannyo dak)
    tp sumpah keren nian puisi yg untuk calon suami tuh fi..(smpe seorang badawi keGRan,,hahaha)

    • hehe.iyo dong daw.. semoga yang kembar2 lain merasokan manfaat dan nikmat jadi anak kembar, hehe.. Aamiin…
      idak daw, dak hobi dio yang cktu2.. ^^’
      hehe, iyo daw.. siapo bae lah, siapopun nanti jadinyo, itulah untuk dio.. ^^ mokasi la mampir sob..

  3. itu caronyo bikin page baru be, daw..
    cubo buka dashboard, laju pages ->add new..
    biasonyo theme wp tu home, about, itu tu berlaku sbg pages. ^^
    Good luck. yoo.. ^^/

    • Oh, kembar juga ya ukh?

      Hehe, iya bersyukur ALLAH memberi fi sahabat sebaik kk (kembaran).. ^^ Syukron dah main ya ukh..

  4. ana sering bertanya2, org kembar tu bisa kaget nggk mlhat swdra kmbarx??
    karena seolah2 mlhat diri sndiri..
    juga ortunya bisa salah jg nggk memanggil anak kmbarx??

    trnyta org yg punya swdra kmbar memiliki bnyk pnglaman yg berbeda dg org kbnykan..

    • setahu ana nggak tuh akh, apalagi kalau kayak ana dan kakak (ga mirip).. ada naluri yang mengatakan walaupun kembar kami tetap pribadi di tubuh yang tak sama..

      owh, nggak juga.. ayah ibu ana ga pernah salah panggil, pun dengan temen2 yang juga kembar..
      yang biasanya salah itu, yang bukan keluarganya (temen atau guru)..

      iya emang benar, bersyukur ana dilahirkan dengan sosok kakak ana..
      karna kembar memang berbeda, jadi sangat wajar kalau apa yang mereka alami dan rasa pun berbeda pula..
      syukron kujungannya..

  5. ehmmm..anakku jg kembar tp co’ smw msh umur 5bulan.skrng msh ngrasain gmn ribet’y ngurus anak kembar tp kl di jlnin asik2 aj kok.so’ jd gak sabar nunggu jagoan2 kecilku tumbuh besar.

    • waaah, enaknyaa..
      anak pertama ya mba?
      saya belum nikah sih, jadi belum tau rasanya punya anak. ^^

      harus dididik dari kecil mba, biar ga suka tengkar kayak kami, hhe

Terima kasih atas komentar antum. :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s