[Cerita] Jadilah Bulan tuk Merindu Bumi


Bismillaahirrahmaanirrahiiim.

Assalaamu’alaykum.wrh.wbr.

Kali ini aku mau mellow dikit, ah. Mau cerita, nih. 😉 Sedikit tentang sebuah harapan. Sebuah penjelasan bahwa dalam hidup ini, tidak bisa kita hanya mengisinya dengan harapan saja. Tidak bisa hanya berkhayal, selalu bermimpi dan bermimpi. Setinggi bulan dan sebesar matahari. Tapi, pada akhirnya mimpi itu membawa kita tenggelam pada khayalan palsu yang memabukkan. Bahasaku agak sulit, ya. ^^’

Uhm. Mari kita perjelas. Kisah berikut ini isinya sebagian fiksi, sebagian non fiksi, sebagian argumentasi, dan tentunya sebagian kukutip langsung dari Alquranul Kariim, Maha Benar ALLAH dengan segala firman-NYA.

Suatu hari saat masih SMP, kita berangan menjadi pembaca puisi terkenal, tapi membayangkan diri ini menyanyi di depan kelas saja serasa sudah merontokkan seluruh badan. Bermimpi meraih juara umum, tapi waktu nonton bahkan lebih lama dari waktu belajar.

Di masa SMA, bermimpi mengikuti lomba Olimpiade Matematika tingkat Nasional. Uwh, cita-cita yang tinggi, mulailah kita mengumpulkan sekotak prestasi (kalau segudang kebanyakan) untuk meraih cita-cita itu. Tapi, usahanya masih kurang. Membeli satu buku pun rasanya beraaat sekali. Gimana  mau pinter?

Juga saat kita bermimpi mengikuti lomba English Debating di kancah internasional. Tapi bagaimana mungkin berani berkhayal hal itu akan terjadi padahal belajar ngomong saja tidak pernah? Terus saja berkhayal dan masih keep staying on the track. Merugi sekali kalau begitu.

Aku sendiri, saat kuingin menjadi penulis hebat dan sukses. Beraninya kubermimpi sementara aku tidak punya semangat untuk meraih itu. Lebih banyak takut gagal dibanding mengirimkan naskahku. Bermimpi dapat nilai A, tapi melamun lebih sering kulakukan daripada menghadap buku.

Kemudian saat beberapa waktu lalu kumengenal seseorang, terkagum-kagum dengan keluasan ilmu dan kemuliaan akhlak beliau. Dan ketika kuterbuai dalam harapan bahwa suatu saat nanti ada seorang ikhwan sebaik dan sehebat beliau datang mengetuk pintu hati ayahku, melamarku, menjadikanku istrinya, serta merta..

Aku terkaget!

Pantaskah kuberharap?

Tidak!

Ah, aku tak seindah itu untuk mengharapkan pangeran berkuda putih menyambut tanganku.

Dengan semua mimpi-mimpi itu (yang nyata atau tidak), aku akhirnya sadar. Bermimpi itu hanyalah untuk orang-orang bodoh dan gagal, jika tak diikuti usaha memperbaiki diri dan kiat memandang keadaan diri (baca: ngaca). Benar kata pepatah, bagai pungguk merindukan bulan.

Begitu pula halnya dengan saat kita bermimpi menjadi manusia tersukses di dunia, harus ada usaha yang kita lakukan untuk meraih itu. Saat kita bermimpi mendapatkan IP 4.00, harus ada waktu yang kita sisihkan untuk belajar.

Saat pingin dilamar pria berjanggut dan berwajah teduh, imam yang solih dan sabar, aku rasa alangkah pantasnya kita mengoreksi diri, pantaskah kita berharap begitu? Berharap meraih tempat setinggi 10 meter padahal tinggi kita semampai (semeter tidak sampai)?

SUBHANALLAH, baru pagi tadi aku mengalami sebuah kejadian, pukulan sangat telak menghujam hati kecilku. ALLAH telah menegurku. Sebuah teguran agar aku bercermin. Agar aku paham, jadilah putri untuk mengharapkan seorang pangeran, jadilah netbook untuk berteman dengan laptop. Dan jadilah Java untuk bersama dengan C++.

Analogi yang serta-merta aku sadari, saat kita berharap meraih tempat di salah satu deretan Jannah ALLAH. Tapi bila juz 30 saja tak hafal, bila solat sehari pas-pas 17 rakaat, lebih sering nonton bola daripada mengaji. Aku rasa tak pantas sekali rasanya berharap begitu.

Ah, kawan. Ntah kenapa aku menulis ini, tapi rasanya tak salah jika aku ingin berbagi. Agar tak hanya aku yang sadar, hidup ini tak seperti di negeri dongeng. Apa yang kita mau akan terjadi, apa yang kita pingin akan kita raih. Tidak, tidak begitu. Aku terenyuk mengingat kalimat yang kira-kira begini “Sesungguhnya ALLAH tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum itu tidak mengubah nasibnya sendiri.”

Kita boleh bermimpi, tapi pertama pandanglah diri ini. Bercerminlah. Pantas tidaknya kita, itulah yang seharusnya memompa semangat kita untuk memperbaiki diri hingga kita sampai pada posisi yang kita citakan. Kutulis ini untuk diriku sendiri, dan saudara seiman.

ALLAHUAKBAR.. ALLAHUAKBAR..

Ampuni hamba-MU ya ALLAH, hamba dan saudara-saudara hamba.

Aamiiiin.

“Ketika kamu dalam kesulitan dan kemalangan, ingatlah janji Allah, Sungguh, sesudah kesulitan itu ada kemudahan.sungguh, sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.S. Alam Nasyrah : 6-9)

“… Demi pena dan apa yang dituliskannya.” (Al-Qalam : 1)

Semoga kita senantiasa berkaca dan memperbaiki diri. Semoga bermanfaat. ^^

25 thoughts on “[Cerita] Jadilah Bulan tuk Merindu Bumi

  1. hmmmmmm, it is the story of the past, isn’t it?

    Boleh-boleh saja nembang sebuah lagu dalam hidup. Tapi lau nembang ga usah merdu-merdu. hi hi hi hi hi. just let it flows like the water.

    waduh fi, lau IP 4,00 aduh tak mungkin lha bagi q untuk mencapainya.. karena nilai A tak serta merta 4,00 bisa saja 3,66 3,74, 3,99. he he hehe

  2. gakpapa bermimpi asal berusaha sekuat tenaga bahwa kita bisa meraih mimpi itu.
    alhamdulillah suami idaman mbak dah mbak dapatkan, giliran fi kpn??? hehehe..
    oia jadi teringat novel ayat2 cinta, Fahri dn Aisyah punya kesamaan yaitu sama2 membuat peta hidup masa depan, mbak jg ngalami yg sama loh..trus teringat jg prnh kata MR, lakukanlah sesuatu yg baik krn blh jadi calon pasangn kita jg melakukan hal yg sama..
    loh koq jadi cerita jodoh ya..hehehe
    gpp ya fi..:-)

    • iya benar,, benar sekali kita musti berkaca sebelum bermimpi dan memperbaiki apa yang tercermin..

      giliran fi ya.. uhm, kapan ya ^^’ lulus aja blm.. wkwkwk.. *tp setiap hari menantinya, wkwkwk

      iya betul.. nanti kesamaan fi apa ya? sama2 sayang ^^’ hehe..

    • Iya benar sekali itu..

      Aih, subhanallah semoga kita termasuk oran-orang yang beruntung karena dekat dng-NYA.. Aamiiin..

  3. bermimpi itu bahasa kiasan.
    kadang berarti terlalu banyak berkhayal (tuulul amal),
    kadang berarti langkah awal sebelum berbuat.

    nah, orang bijak tahu harus pilih yang mana.

    sukses…

    • nah, pas itu..
      semoga kita termsuk orang2 bijak memilih yang benar utk meraih ridho ALLAH.. Aamiiin..

      met sukses juga, akh…

  4. sering-seringlah bermimpi.. tp jgn hanya bermimpi, berusahalah untuk meraih mimpi itu supaya terwujud…
    karena mimpi itulah yang mendorong kita untuk terus maju

  5. “jadilah Java untuk bersama dengan C++”

    hehe.. analogi yang unik, tapi sepertinya kok kurang klop yah..
    untuk mendapatkan yang terbaik, kita harus berusaha menjadi yang terbaik..
    salam…

    • hehe.. 😀 iya dong, harus sama2 orientasi objek yang keren.. *cuma ngerti java

      iya betul.. itu disiratkan aja (maksa), hehe..
      makasih kunjungannya bro..

  6. Pingback: Indriyani » Baik Dibaca

Terima kasih atas komentar antum. :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s