[Cerita] Mercusuar Berbalut Sutera#Part1


Aku punya tiga orang tua. Dan aku tidak tahu yang mana yang paling kusayang.

Dalam duduk kuberpikir, apa yang akan kutuliskan tentang mereka? Terlalu banyak kisah pahit dan manis yang kualami, satu buku pun tak kan habis bila kugunakan untuk memajang kisahku dan ketiga orang tuaku. Cerita ini dimulai tahun 1998, saat aku masih duduk di kelas 2 SD. Ibu kandungku sedang sakit parah, kanker payudara! Sebut saja beliau “bunda”. Aku memang tidak ingat betul kejadian itu. Tapi yang kurasa, bunda benar-benar kesakitan. Sudah setahun bunda menderita begitu. Tubuhnya membesar sebelah, payudara kanannya bengkak dan membusuk, ada kerak menempel di kulitnya. Tangan kanan beliau membesar dan berair, sedangkan tangan kirinya sekurus tanganku dulu, tangan anak SD!

Minggu, 1 November 1998.

Usiaku tujuh tahun kurang 18 hari, shubuh-shubuh jam 4 pagi bunda dijemput Malaikat Izrail saat umurnya masih 41 tahun. Kakak cerita beliau meninggal saat sedang duduk menunggu adzan. Subhanallah! Semoga Allah merahmatimu, Bunda..

Seingatku, kala itu wajah bunda sangat pucat, tubuhnya dibalut kain putih. Lubang hidungnya disumbat dengan kapas, tapi ntah kenapa aku tak takut sama sekali! Jenazah bunda adalah jenazah pertama dan terakhir yang kulihat dari dekat selama hampir 20 tahun aku bernafas. Sampai sekarang, wajah cantik bunda masih sering terbayang samar olehku. Bunda wafat di rumah nenek, saat itu di sana sangat ramai, halamannya dikerumuni orang sekampung. Bundaku terkenal di daerahku, rajin menolong, lembut, kaya, dan cantik! Ayah dan bunda sama-sama PNS jadi bisa dibilang aku dilahirkan di keluarga yang berada.

Aah. Menuliskannya memecahkan kantung mataku, menerobos keheningan malam ini. Keluarga yang menurutku saat itu sudah komplit dan bersahaja, tapi diberikan Allah sebuah ujian dengan kepergian bunda. Meninggalkan ayah dan empat anaknya. Kakakku yang paling tua saat itu masih kelas 2 SMP, yang tengah kelas 5 SD, dan kakak kembarku sekelas denganku. Bunda, beliau lah wanita terlembut yang pernah kujumpai. Mawar pun tak secantik bunda, sutera pun tak selembut akhlaknya. Bunda adalah sosok yang sangat sabar, tidak pernah sekalipun aku ingat beliau memarahi kami. Masih lekat di ingatanku, pelukan dan belaian hangatnya ketika aku tak bisa tidur. Dalam kondisi sakit parah bunda masih mau mengajarkan padaku pelajaran yang tak aku pahami. Walaupun beliau sudah tak sanggup lagi berdiri, bunda masih berusaha memasak dan melakukan pekerjaan rumah. Aah, Allah.. Hanya itu memori yang kuingat tentang bunda.. Akankah aku bermimpi bertemu dengannya lagi..?

Dan hari itu, bunda pergi, saat aku masih belum mengerti apa itu kematian. Saat aku masih buta dengan apa yang dimaksud kepergian, bahkan saat aku masih belum paham tentang hakikat orang tua! Yang aku tahu setiap hari harus bisa jajan kerupuk dan es tontong. Yang aku tahu bunda sedang jalan-jalan ke tempat yang jauh, begitu yang ayah ceritakan padaku dulu. Aah. Maafkan aku, Bunda, tak ada yang bisa kulakukan untukmu selain mendoakanmu dalam setiap tahajudku..

Ayahku lebih muda empat tahun dari bunda. Tapi beliau terlihat lebih tua dari usianya, tubuh kurus ayah menyimpan duka dan luka yang sangat dalam karena kembalinya bunda ke sisi Allah. Ayahku, laki-laki tertampan dan terhebat yang pernah kutemui, pertama kalinya kulihat hari itu beliau menangis! Masih kuingat, beliau tertunduk, nafasnya tersengal, tangannya menyanggah kepalanya di tiang pintu. Pamanku menghibur dan menepuk-nepuk pundaknya, “Sabar, Man.. Sabar..” Begitulah yang samar-samar aku ingat.

Tis!

Putus! Putus ingatanku!

Aku tak ingat lagi bahwa aku pernah punya bunda. Sampai suatu hari, saat aku sudah duduk di kelas 3 SD, ada seorang wanita muda yang mulai sering diajak ayah ke rumah, setahun setelah kematian bunda. Aku dan kakak kembarku yang saat itu masih berusia satu windu, merasa biasa saja dengan kedatangan wanita itu. Hanya kedua kakakku yang sepertinya sudah paham bahwa kami akan dapat ibu baru. Wanita itu sering memasak untuk kami, membersihkan rumah pagi-pagi. Beliau suka menguncirkan rambutku dan kembaranku sebelum berangkat sekolah, kadang-kadang dikepang atau dikuncir dua. Merawat kami dan menjalani masa “PDKT” dengan ayahku.

Wajar saja, sih, bila ayah ingin menikah lagi, kakakku yang tua cuma bisa masak kangkung, pindang ikan dan telur dadar! Itulah menu kami sehari-harinya! Aku dan kakak kembarku sama sekali tidak terurus sejak bunda pergi. Yang tengah hanya peduli main keluar saja, ke sawah dan meleles di sana. Pokoknya dalam satu kata, keluarga kami saat itu :

Berantakan!

Lalu, akhir tahun 1999, ayah menikah lagi.

Dengan wanita yang sekarang kupanggil ibu. Ya, ibu. Dua belas tahun yang lalu, hidup keluarga kami berubah total dan serta-merta terlunta-lunta. Aku sendiri masih belum mudeng dengan apa yang sedang terjadi saat itu. Aku bahkan tak sadar bunda sudah terganti. Yang aku tahu bunda hanya “berbeda”, yang dulunya tinggi semampai, jadi setinggi anak SMP. Yang dulunya lembut dan ramah, jadi pemarah dan kasar. Itulah salah satu ingatan awalku tentang dia, ibu tiriku!

Ntah sejak kapan pastinya aku sadar, bunda sudah tiada. Mungkin waktu SMP, saat membaca data siswa di raporku, berbeda dengan yang ada di rapor SD. Nama bunda sudah digantikan oleh nama ibu. Ya, rasanya saat itulah aku sadar, aku sudah jadi piatu.

Kenangan pahit bermula saat sepupu tiriku tiba dan diizinkan tinggal bersama kami. Kusebut saja namanya Burhan. Dia anak dari kakak ibu, dibawa ibu sejak usianya masih 5 tahun, disekolahkan dan dirawat layaknya anak sendiri. Sakit rasanya mengingatnya. Aku merasa anak ibu hanya dia, apa-apa selalu diberikan! Maklum kami semua perempuan, dan ibu orangnya lumayan tomboy. Burhan seperti belatung ketiban madu!

Ketidakadilan sering kali menimpaku, kurasa akulah yang makhluk tersial di keluarga itu. Meskipun aku terlahir cerdas, tak ada yang menghargaiku. Kakak kembarku, Ana, sangat diutamakan oleh ibu. Dia berbeda sekali denganku yang sakit-sakitan ini, hanya saja kemampuan akademisnya kurang. Akibatnya ibu lebih memperhatikan dia, walaupun tetap saja kasar. Aku masih ingat, tiap kali aku minta dibelikan buku, ibu takkan memberikannya sampai beliau mendapatkan jawaban kalau Ana sedang tidak butuh buku. Aneh, kan?!

Masa yang terpahit kualami saat SMP dan SMA. Masa-masa tersulit di keluarga kami. Ayah bekerja sampingan sebagai tukang ojek untuk menghidupi kami! Ibu sendiri makin hobi marah-marah! Setiap hari kerjanya teriak-teriak saja! Tiap kami telat bangun, pagi buta pintu akan digedor-gedor! Pokoknya rumah kami ramai! Bukan karena cinta, tapi karena bencana!

Aku juga masih ingat, setiap kali aku melakukan kesalahan kecil, ibu akan marah seharian. Mengomel sangat panjang! Aku diminta duduk dan menunduk, sambil menangis tersedu-sedu. Begitulah sehari-harinya. Hampir setiap hari ibu selalu marah dan teriak-teriak! Apa karena sudah bawaannya, aku juga tidak paham. Yang jelas, aku sama sekali tak merasa sudah mendapatkan ganti seorang sosok yang kurindu, bunda, yang pergi 13 tahun silam.

^^^^

Tertarik? Yuk, lanjut ke bagian dua.. 🙂

13 thoughts on “[Cerita] Mercusuar Berbalut Sutera#Part1

  1. Pingback: [Cerita] Mercusuar Berbalut Sutera#Part2 « Merajut Kata

    • iya ya akh?
      aih ana ga mau GR, hehe..

      ana udah bertekad akh, akan ana rampungkan tulisan2 di sini mjd buku, bismilaah mohon doa akh..

  2. nice post. sungguh sedih kehilangan sosok yang begitu menyayangi kita, merawat kita dengan penuh ikhlas. saya baru tersadar betapa segala tindak beliau menjadi begitu berharga bagi hidup kita malah setelah beliau pergi.

    • iya betul..
      setelah hilang, kita baru merasa memiliki, setelah pergi kita baru merasa ditinggalkan..

      begitulah hidup, dan selalu ada sebuah ganti di atas yang pergi.. syukron..

  3. inspiratif fi, sampe baca berulang-ulang, kemaren baca bagian duanya dulu baru sekarang baca bagian pertamanya,hehe…

    nuansanya sedih, g tau yang mana yang bener n mana yang lebay, hihihi.., tapi kita g boleh sedih terlalu dalam, saatnya tersenyum lagi dan beraktivitas dengan orang-orang terkasih di sekitar kita. *sempat shock beneran baca post yang ini fi, kuteringat ummi hikss..hiks…

    • iya ka makasih.. wah berulang2.. jadi GR saya hehe..

      iya bahasanya agak dilebaykan, ceritanya juga dibikin greget, ga separah itu kondisinya..
      iya betul ka, ibarat phon, kesedihan akan berguguran seiring waktu.. ALLAH juga membantu..

      waaah? “Shock” ga tega saya bikin pembaca (dan penulis shock), iya saya waktu nulis juga ingat ibu dan bunda.. karna nulis sambil berlinang air mata jadi ngena dan saya juga suka baca lagi..
      Makasih kunjugannya ka..

Terima kasih atas komentar antum. :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s