[Cerita] Mercusuar Berbalut Sutera#Part2


Bagian Pertama dulu yaa : ^^ Klik

Akhirnya aku mengenakan seragam putih abu-abu. Prestasi belajarku yang sempat turun waktu SMP melonjak lagi di SMA. Setiap bagi rapor, aku selalu juara 1, kadang-kadang dapat juara umum juga. Tapi tak pernah sedikit pun ibu “memandang”-ku, apalagi memujiku! Bagi rapor untukku persis dengan hal penagihan hutang. Kalau pas ya sudah, dan kalau kurang bakal terus ditagih. Tapi, saat Ana baru masuk 10 besar saja, ibu malah syukuran! Keluarga dekat diundang hanya karena Ana berhasil masuk 10 besar! Padahal setiap semester aku selalu ranking 1 dan tak pernah sekalipun ibu bilang, “bagus”!

Aku juga sering memenangkan lomba-lomba tingkat propinsi. Tapi kawan, tak pernah sekalipun ibu menanyakan “gimana lombanya?”. Tak ada sama sekali sapaan “nak” yang selalu kudengar dari bunda. Tak ada lagi belaian hangat dalam tidur malamku. Bunda, aku rindu padanya.. Bagiku, lebih baik ayah menduda daripada harus menyiksaku begini!

Ya, akulah yang paling menderita di rumah itu, aku mirip dengan ayah, pemikir dan sakit-sakitan. Tapi karena ayah laki-laki, beliau lebih kuat dariku. Sedangkan aku, sebentar-sebentar sakit. Yang maag lah, tipes lah, anemia lah, dan seterusnya. Tapi itulah ibu, tak pernah sedikit pun memperlakukanku dengan baik! Kasar! Tiap aku jatuh sakit bukannya dimanja, tapi dimarahi karena aku tidak bisa jaga kesehatan dan hanya menghabiskan uang ke dokter. Maklum, ibu tidak kerja, sehingga hidup kami bertujuh, ayahlah yang menopangnya.

Ketika aku naik ke kelas 3, aku jatuh sakit lagi. Kali ini aku terdiagnosa mengidap vertigo! Sebuah penyakit yang membuat penderita merasakan pusing luar biasa. Kata dokter aku tertekan dan menderita stress berat! Awalnya ibu berniat marah, tapi ayah mencegahnya. Ayah memang tidak banyak bicara kalau ibu tidak kelewatan, “Jangan salahkan anak terus, otak kecil adek tu udah terganggu. Berhentilah marahin anak terus.” Kalimat pertama yang kulihat menyebabkan wajah ibu mengisyaratkan sebuah sesal.

Sejak itu, ibu mulai jarang memarahiku. Sesekali saja kalau aku ngeras atau malas melakukan tugas rumah. Aku juga yang salah karena terlalu banyak belajar. Kemudian, usai Ujian Nasional, saat lagi ramainya penerimaan mahasiswa baru, aku ikut USM perguruan tinggi kedinasan di Jakarta. Singkat cerita aku lulus tes tertulis dan wawancara. Namun saat di tahap akhir, tes kesehatan, aku dinyatakan terkena bronchitis, karena dinginnya daerahku. Aku tak menyangka, aku kira batuk-batuk yang kuderita karena kurang istirahat saja.

Aku menangis, mengeluh dan menggerutu, sial sekali aku. Berhari-hari kulewati dengan bermuram durja. Semangatku hancur! Tapi tahukah kau? Ibu malah marah padaku! Ibu bilang aku terlalu cengeng, “Kamu ngerokok?!” Pertanyaan kasar yang memukul telak hati lemahku. Selain menangis, aku hanya diam saja. Ibu bahkan tidak peduli bahwa aku sangat kelelahan karena baru saja pulang dari kota untuk menjalani tes kesehatan.

Seketika itu aku benar-benar ingin menganggap aku tak pernah kenal ibu! Aku hanya punya ayah yang masih sangat baik padaku. Ayahlah yang selalu menghiburku, “Ibu emang kasar, Nak. Tapi hatinya baik.” Ya, ibu tidak jahat, beliau tidak pernah memukuli kami. Tapi, bukan itu yang kumau! Sifat lembut warisan dari bunda membuatku tak tahan dibentak, tak tahan dikasari seperti yang bertahun-tahun ibu lakukan padaku. Setiap malam aku mendoakan bunda, ingin kuputar waktu, mati bersama bunda hingga tak harus kutemui wanita itu!

Setelah sekitar sepuluh hari masa pengobatan, tes kesehatan diulang kembali. Alhamdulillah paru-paruku sudah bersih. Sebulan kemudian hasil tes final diumumkan.

Aku lulus!

Maka bersiaplah aku pergi merantau ke pulau Jawa. Dalam masa persiapan aku rajin meng-sms kakakku yang kuliah di Jawa, bertanya apa-apa yang mesti kusiapkan untuk hidup di Jakarta. Tapi pesan yang sangat aku ingat saat itu adalah “Ingatlah, sebentar lagi sikap ibu akan berubah.” Awalnya aku kira kakak bercanda. Di tahun pertama tak banyak perubahan yang kualami. Ibu masih sering marah-marah di telpon, mengklaim bahwa aku tidak cukup hemat di Jakarta. Padahal semua manusia tahu, tak ada yang tak mahal di Jakarta!

Suatu hari aku mendengar kabar bahwa ayah baru kemalingan. Uang 10 juta untuk biaya pernikahan kakakku yang paling tua, raib dari lemari di kamar ibu. Dibawa lari oleh orang yang sudah sangat lama tinggal di keluarga kami.

Burhan!

Ya! Dia yang mencuri uang itu dan membawanya lari. Setelah 10 tahun ia tinggal bersama ibu. Kudengar ibu jatuh sakit sampai harus diopname karena shock, anak kesayangannya telah mengkhianatinya.

Selasa, 25 Januari 2011.

“Ibu kesepian di sini, Nak. Baliklah cepat..” Ibu menelponku sekitar jam 10 malam. Pertama kalinya dalam sejarah hidupku, kudengar ibu bilang begitu!

Tiba-tiba saja dalam satu malam semua kenangan pahit bersama ibu melebur karena kalimat singkat itu. Kudengar dari jauh ibu menangis terisak-isak, katanya sudah tak ada orang di rumah. Kakakku yang tua sudah menikah, kembaranku kuliah di kota, sedangkan aku dan kakakku yang tengah di Jakarta, tinggal ayah yang menemani ibu. Sepupuku yang seharusnya bersama ibu sudah lari ntah kemana. Akhirnya ibu sering menelpon kami, menanyakan kabar, mengingatkan untuk tidak telat makan dan tidak lupa minum teh hangat. Sekali-kali bilang “rindu”. Ntahlah, aku bersyukur, sepupuku lari dari rumah. Bila ibu bilang kangen atau semacamnya, aku merasakan kehangatan, seperti ada bakpao coklat di hatiku.

Kemudian dalam tafakurku, aku teringat masa-masa aku kena bronchitis dulu. Ketika ayah mengantarku ke Jakarta, ayah bercerita ibu menangis semalaman! Beliau tahajud jam 3 pagi, mendoakanku! Agar aku diberikan kesembuhan atas penyakitku. Beliau menangis sangat lama untukku. Ya, aku, anak yang dirinya merasa paling sial di rumah itu, ibu doakan agar Allah memberiku kemudahan untuk merantau ke Jakarta. Kemudian aku teringat pula saat ibu akan melepas kepergianku ke Jakarta dulu. Ibu menangis, memelukku erat, berujar lirih, “Hati-hati di jalan, ya, Nak.. Jaga kesehatan, tambahkan ijazahmu empat tahun lagi..”

Kata-kata yang sengaja kulupakan karena ketidakramahan ibu padaku, kembali teringiang di hatiku. Malam itu, lepas ibu memutus telponnya, aku tersungkur di atas sajadah pemberian bunda. Ntah apa yang kupikirkan, aku merasa sudah menjadi anak durhaka. Aah. Kenapa aku sudah lupa akan semua kebaikan ibu..? Maafkan aku, Ibu.. Maafkan..

Beliau bukan ibu kandungku, tidak ada ikatan darah di antara kami. Ntah apa yang kupikirkan tapi tiba-tiba saja aku sangat merindukan beliau, merindukan wangi masakannya, sup bening yang selalu beliau buatkan kalau aku sakit. Aku teringat ketika beliau marah. Tiba-tiba aku tersadar, beliau marah bukan tanpa alasan. Marahnya juga karena memang aku yang salah! Karena beliau terlampau khawatir! Ibu hanya tak tahu bagaimana menyampaikan cintanya padaku. Ya Allah, aku menangis lagi, kangen ibu..

Saat ini, bunda sangat kurindu, kasih sayangnya lebih tulus dari sutera terlembut. Indah sekali. Aku bangga sekali pada ayahku. Ayah, mercusuar yang menyinari hati gelapku, telah berjodoh dengan dua wanita terbaik yang pernah kumiliki! Satu bunda, satu ibu. Ya, ibu, perempuan yang mercusuar hatinya terbalut sutera hingga tak dapat kurasa hangatnya.

Aah. Bila suatu hari, aku dihadapkan pada dua wanita ini, mana yang harus kupilih. Lebih baik aku mati daripada harus dipaksa memilih salah satunya! Ingin kusampaikan pada dunia.. Setiap ibu, melahirkanmu atau tidak, dia adalah mulia.. Hanya saja tidak setiap ibu mampu menunjukkan betapa sayangnya ia pada anaknya..

Bunda, sutera hatiku, maafkan aku.. Karena terus merindukanmu, Bunda..

Ayah, mercusuar hatiku, aku bangga jadi anakmu.. Ingin kurangkul erat dikau, Ayah..

Ibu, mercusuar berbalut sutera, aku mencintaimu.. Ingin kucium kakimu, Ibu..

59 thoughts on “[Cerita] Mercusuar Berbalut Sutera#Part2

  1. Assalamualaikum Mba’ fi
    hehe , maaf saya belum baca cerita yang ‘terlihat’ mengharukan ini

    kemarin kak fi komen “Selamat dek”
    afwan mba yang baik hati dan tidak sombong , selamat untuk apa ya ?
    😀

    • Wa’alaykumussa;aamwrh..
      lah ga perlu minta maaf dek.. hehe.. mkasih, harus kangen ortu loh.. hehe

      loooh? kan dah dapet award tuh? katanya “nasib pria berwajah garag” hehe..
      iya mampir2 ke award mbak.. hehe..

  2. Mengambang basah di mata ini kala menemukan ujung cerita, “bu, mercusuar berbalut sutera, aku mencintaimu.. Ingin kucium kakimu, Ibu…” Ingin segera berlari ke Jombang dan berjumpa ibu tercinta. Makasih banyak ya… aku larut di dalamnya dan cerita ini sungguh menginspirasi.

    • iya akh..
      bersyukurlah saudaraku yang msih memiliki ibu..
      yang masih bisa memandangi wajah ibu, yang masih bisa mengatakan “Uhibbuki yaa ummii”..
      Subhanallah..

      ga perlu makasih akh, ALLAH lebih pantas tuk di-makasih-in..

  3. makin cerdas ni anti dalam bercerita, semoga menjadi penulis yang sukses yah ukh

    salam persaudaraan ukh, ana senang dpt bertemu dengan anti…

    salam hangat dari makassar..
    minta alamat emailnya dong ukh..

    atau add ana diYM ukh, neni_mn@yahoo.co.id

    • waduh, ana khawatir ni.. takut terlena sanjungan.. huhu..

      wah kenapa tau ukh ana pingin jadi p*nulis? hehe.. Aamiin mohon doa ukh.. lagi giat2nya ini..

      salam ukhuwah pula ukhtiy sayang..
      Makassar, ngingetin ana sama temen di tingkat 1, dari makassar juga. hhe..
      nggih, ni : fi.g19ec@yahoo.com
      ‘afwan ana mungkin agak lama bisa nge-add ^^’

  4. Menyongsong bula suci ramadan, tulisannya diperbanyak yach, ntar biar bisa di baca-baca kisahnya sambil nunggu berbuka puasa. Ceritanya bagus-bagus.

    • nggih syukron akhiy,..
      iya pilu, pilu sekali,,
      tapi ana kira tak ada gunanya kita sediiih terus, ana sudah dapat ganti yang tak kalah hebat, subhanallah itu yang sangat an syukuri..
      nggih syukron, segera ke TKP..

  5. klo berbicara tentang ibu, lautan yang jadi tinta dan pohon yang jadi pena pun tak akan pernah sanggup menuliskan tentang kisah dan kasih sayangnya, tapi ayah juga sama ^^. Kata-katanya benar-benar membuat hati gerimis nih, makasih 😀

    • hehe, iya makasih ka..
      iya benar.. walaupun harus merajutkan kata sampai maut menjemput, tak sanggup kita gambarkan betapa nikmat ALLAH memberi segalanya untuk kita..
      Mkasih juga..

    • iya ukh syukron..

      uhm? kapan? lupa fi.. @.@ ingat yang manis2 aja sama ibu.. hehe..
      iya, baru terasa sayang kalo dah ga ada..

Terima kasih atas komentar antum. :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s