[Renungan + Cerita] Kisah Teladan ‘Umar bin Khaththab#part1


Bismillaahirrohmaanirrohiim.

Assalaamu’alaykum warohmatulloh wabarokaatuhu..

Hanya dengan mengingat ALLAH hati kan terasa tenang

Haih, dah lamaa banget rasanya ga menyapa blogku.. @.@ Sejak terakhir kutulis di sini, isinya dah penuh banget. Hitsnya bahkan dah naik 4000-an, komennya bejibuun, seratus mungkin ada, belum spam.. Dan aku harus balas satu-satu ^^’.

Tapi senang rasanya, banyak yang mendoakanku sembuh, mendoakan puasaku lancar dan lain-lain. Aih, tanpa doa kalian rasanya puasaku ga bakal full (selain “bolong tamu bulanan”). Selama pulkam, aku selalu kepikiran blogku, di sana koneksi internet susah banget. Aku ga punya modem, kalaupun ada sinyalnya juga ga bagus. Mau ke warnet jauh, aku ga bisa ngendarai motor jadi harus jalan kaki.. Wah pokoknya tersiksa banget ga bisa menyapa blog..

Setelah sampai sini (Jakarta), sekitar tanggal 15 September lalu, eh, aku homesick, sakit lah lagi. Hehe. ^.^ Jadi lama lah tak tunda menyapa blog ini..

Alhamdulillah ALLAH masih kasih waktu dan kesempatan untuk main ke blog. ^.^ Syukron katsiron untuk semua sahabatku, di mana pun kalian, kalian saudaraku.

Nah, sekarang kita ke acara inti. ^.^

‘UMAR BIN KHATHTHAB DAN IBU PEMASAK BATU

                Wahai saudaraku, kali ini kuajak dikau menyelami kisah seorang Khalifah pada zaman Rasul ALLAH, salah seorang Khalifah yang sangat kukagumi. Seorang bertubuh besar dan berifisik kuat, tapi berhati sangat lembut dan berakhlak sangat mulia. Seorang ikhwan bernama ‘Umar bin Khaththab.

                Khalifah kedua ini dikenal sebagai pribadi yang tegas dan kuat. Beliau termasuk sahabat yang sangat dikasihi Nabi Muhammad. Sebelum memeluk Islam, beliau bagai lawan tanpa tanding. Musuh-musuhnya sering kali terpukul mundur sebelum sempat melawan jika mengetahui yang akan menghadapi mereka adalah ‘Umar bin Khaththab.

                Saat jumlah umat Islam masih sedikit, Rasul ALLAH pernah berdoa agar Islam dikuatkan oleh salah satu dari kedua ‘Umar, yaitu ‘Umar bin Abdul Mutholib (Abu Jahal itu loh, hayo Abdul Mutholib itu siapa?) atau ‘Umar bin Khaththab. Ternyata ALLAH memberikan ‘Umar bin Khaththab sebagai karunia untuk umat Islam.

‘Umar masuk islam setelah mendengar lantunan surat Thoohaa (surat ke berapa dalam Alquran, hayooo?) yang dibacakan adik perempuannya, Fathimah.  Yakni di tahun keenam sesudah Baginda Muhammad diangkat sebagai Nabi ALLAH (sekitar 6 Hijriyah). Beliau juga dikenal sebagai jenderalnya umat Islam. Beliau sangat keras dalam membela agama ALLAH (kita gimana yaa? >.<). ‘Umar adalah salah satu benteng Islam yang mampu menyurutkan perlawanan kaum Quraisy.  Begitu pemberani dan tegasnya beliau hingga saat dakwah Islam dilakukan secara sembunyi-sembunyi, ‘Umar mengusulkan dakwah dilakukan secara terbuka.

 Pada masa ‘Umar menjadi Khalifah, daerah kekuasaan Islam bertambah luas. Kerajaan Persia dan Romawi Timur dapat ditaklukan dalam kurun waktu satu tahun (636-637 M). Beliau dipanggil “Amirul Mukminin” (Pemimpin orang mukmin). Pemimpin yang sederhana dan peduli dengan rakyatnya ini, wafat setelah dibunuh Abu Lukluk saat hendak memimpin sholat (23 H/644 M). Makam beliau didekatan dengan makam Abu Bakar dan Rasul ALLAH.

Naah, yang mau ku-share adalah sebuah kisah di zaman kekhalifahan ‘Umar yang membuatku menangis membacanya. Walaupun bukan pertama kali kudengar kisah ini, membacanya lagi dalam kedewasaan dan kematangan (caelah, hehe), membuat airmataku jatuh perlahan menuruni pipiku (caelah lagi, hoho).

Suatu masa dalam kepemimpinan ‘Umar, terjadi “Tahun Abu”. Masyarakat Arab menderita masa paceklik berat. Hujan tak lagi turun, pepohonan mengering, hewan-hewan mati. Tanah tempat berpijak hampir menghitam layaknya abu (semoga ALLAH meringankan ujian kekeringan di beberapa belahan negeri kita, Aamiiin..).

Putus asa mendera di mana-mana. Saat itu ‘Umar sang Khalifah melakoni pribadi yang sebenar-benar pemimpin. Rakyatnya diurus dengan cermat dan saksama, sepenuh hati. Setiap hari beliau menginstruksikan aparatnya menyembelih onta-onta potong dan menyebarkan pengumuman kepada seluruh rakyat. Berbondong-bondong rakyat datang untuk makan. Tapi hatinya pedih, kecemasan kian menebal. Dengan hati gentar, lidah kelunya berujar, “Ya ALLAH, jangan sampai umat Muhammad menemui kehancuran di tangan ini.”

‘Umar khawatir makanan untuk rakyatnya kurang. Sang pemberani itu hanya menyantap sedikit roti dengan minyak zaitun. Akibatnya, perutnya terasa panas dan beliau meminta pembantunya, mengurangi panas minyak dengan api. Minyak dimasak, namun perutnya makin panas dan berbunyi nyaring. Jika sudah demikian, perutnya ditabuh seraya berkata, “Berkeronconglah sesukamu, dan kau akan tetap menjumpai minyak, sampai rakyatku bisa kenyang dan hidup dengan wajar.”

Begitulah saudaraku, sedikit cuplikan kehidupan seorang ‘Umar bin Khaththab. Subhanalloh, sungguh mulia sang Amirul Mukminin, tak berpikir olehnya tuk menikmati jabatan dengan menumpuk harta atau bahan pangan untuk dirinya. Padahal dengan kuasanya bisa saja beliau bertingkah dictator. Hampir setiap malam ‘Umar bin Khaththab melakukan perjalanan diam-diam. Ditemani salah seorang sahabatnya, beliau keluar masuk kampung. Ini beliau lakukan untuk mengetahui kehidupan rakyatnya. ‘Umar khawatir jika ada hak-hak mereka yang belum dipenuhi oleh staf pemerintahannya.

Malam itu, bersama Aslam, Khalifah ‘Umar mengarungi kampung terpencil yang berada di tengah gurun sepi. Tiba-tiba beliau terperanjat. Dari sebuah kemah yang sudah rombeng, terdengar suara gadis kecil menangis keras. ‘Umar bin Khaththab dan Aslam bergegas mendekati kemah itu, untuk mengecek bila penghuninya membutuhkan bantuan.

Setelah dekat, ‘Umar melihat seorang perempuan tua tengah menanakkan panci di atas tungku. Asap mengepul-ngepul dari panci itu, sementara si ibu terus mengaduk-aduk isi panci dengan sendok kayu panjang.

“Assalaamu’alaykum,” ‘Umar memberi salam.

—-

Ini part 2 nya : Klik! ^^

13 thoughts on “[Renungan + Cerita] Kisah Teladan ‘Umar bin Khaththab#part1

  1. Pingback: [Renungan + Cerita] Kisah Teladan ‘Umar bin Khaththab#part2 « Merajut Kata

  2. assalamu’alaikum.. dah sangat lama g mampir..
    blognya dah jauh berkembang..

    kalau ketemu cerita umar, ana lgsung connect.. nge-fans sangat..
    semoga bisa mencontoh sosok pemimpin yg hobinya patroli malam sampai ke pinggiran desa ini, juga pernah patroli malam dikisahnya bertemu dengan seorang gadis n ibunya penjual susu.. dibandingkan dengan pemimpin skrg.. ckckck..

    • Wa’alaykumussalaam warohmatullooh..
      alhamdulillaah ALLAH lah yang mengembangkan..

      iya ana jg ingat kisah itu, yang beliau menikahkan ankny Ashim ke anak penjual susu itu kan?
      semoga kita dikaruniai pemimpin spt itu suatu hari, paling tidak di rumah tangga.. aamiin..

Terima kasih atas komentar antum. :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s