[Renungan + Cerita] Kisah Teladan ‘Umar bin Khaththab#part2


Kisah berikut bagian kedua (terakhir) dari kisah sebelumnya. ^^

Ini buku pertamaku, beli ya! ^^ Rp.35.300,-. Bisa pesen di Leutika Prio langsung, hehe.. ^___^ Makasih..

Mendengar salam ‘Umar, ibu itu mendongakkan kepalanya seraya menjawab salam ‘Umar. Tapi setelah itu, ia kembali pada pekerjaannya mengaduk-aduk isi panci.

“Siapakah gerangan yang menangis di dalam itu?” tanya ‘Umar.

Dengan sedikit tak acuh, ibu itu menjawab, “Anakku…”

“Apakah ia sakit?”

“Tidak,” jawab si ibu lagi. “Ia kelaparan.”

‘Umar dan Aslam tertegun. Mereka masih tetap duduk di depan kemah sampai lebih dari satu jam. Gadis kecil itu masih terus menangis. Sedangkan ibunya terus mengaduk-aduk isi panic di atas api.

‘Umar tidak habis pikir, apa yang sedang dimasak oleh ibu itu? Lama betul matangnya. Kebingungan, Khalifah ‘Umar bertanya, “Apa yang sedang kau masak, hai ibu? Kenapa tidak matang-matang juga masakanmu itu?”

Ibu itu menoleh dan menjawab, “Hmm, kau lihatlah sendiri!”

‘Umar dan Aslam segera menjenguk ke dalam panci tersebut. Kaget bin kaget keduanya terbelalak melihat apa yang ada di dalam panci. ‘Umar berteriak, “Apakah kau memasak batu?”

Si ibu mengangguk.

“Buat apa?”

Dengan suara lirih, ibu itu menjawab, “Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah ‘Umar bin Khaththab. Ia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi belum. Aku seorang janda. Sejak pagi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi ia kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rejeki. Namun ternyata tidak. Sesudah maghrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku, dengan harapan ia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar ia bangun dan menangis minta makan.”

Setelah menjelaskan panjang lebar, ibu itu terdiam sejenak. Kemudian ia melanjutkan, “Namun apa dayaku? Sungguh ‘Umar bin Khaththab tidak pantas jadi pemimpin. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya!”

Mendengar penuturan si ibu, Aslam berniat menegur perempuan itu. Namun Khalifah ‘Umar sempat mencegah. Dengan air mata berlinang beliau bangkit dan mengajak Aslam cepat-cepat pulang ke Madinah. Tanpa istirahat lagi, ‘Umar segera memikul gandum di punggungnya, untuk diberikan kepada janda tua nan sengsara itu.

Karena ‘Umar bin Khaththab terlihat keletihan, Aslam berujar, “Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku yang memikul karung itu…”

Dengan wajah merah padam, ‘Umar menjawab sebat, “Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau kira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?”

Aslam tertunduk. Tersuruk-suruk Khalifah ‘Umar berjuang memikul karung gandum itu. Angin berhembus. Membelai tanah Arab yang dilanda paceklik.

Subhanalloh, bila kita baca cerita ini dengan hati yang sejuk, maka sungguh mata ini berkaca-kaca, saudaraku. Lihatlah pemimpin negeri ini, sibuk korupsi, sibuk rebutan kursi, sibuk ngoleksi istri, sibuk cari uang sana sini. Na’udzubillah.. Sungguh, kepemimpinan seperti Khalifah ‘Umar inilah yang patutnya kita jadikan pelajaran (selain Rasul ALLAH tentunya). Belum lagi keberanian beliau menentang siapa saja yang menjelekkan Islam. Sedangkan kita saudaraku, malah sibuk menjaga nama baik, sibuk maksiat, sibuk menambah harta tanpa peduli halal haramnya. Tapi tak pernah sekalipun kita berpikir untuk mengangkat kemuliaan kita di hadapan ALLAH. Kapankah terakhir diri ini membaca Alquran dengan tartil dan menyejukkan, kapankah terakhir diri ini bersujud di atas sajadah malah, kapankah terakhir diri ini mengisi tangan-tangan yang menengadah di jalanan.

Dan..

Ntah seberapa cepat kita mati hingga seujung kukupun tak ada lagi yang bisa kita perjuangkan.

Setiap dari kita kiranya ingin masuk surga. Namun, tidaklah mudah untuk meraihnya, harus ada yang kita “bayar”. Tidak cukup hanya mengaku sebagai muslim, butuh ketaatan dan pengorbanan. Lihatlah bagaimana sikap itu diajarkan oleh salah seorang sahabat Nabi Muhammad Shalollahu ‘Alaihi Wa Sallam, ‘Umar bin Khaththab Radhiallohu Anhu.

Memang kita bukan manusia yang sempurna layaknya Rasul ALLAH. Tapi kita adalah hamba ALLAH, sama seperti beliau, ada harga yang harus kita raih untuk memasuki jannah ALLAH. Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang merugi, Aamiin..

“ALLAH telah menjanjikan kepada orang yang beriman dan beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Maidah : 9)

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang solat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari solatnya, (ibadah) orang-orang yang berbuat riya dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS. Al Maun : 4-7)

Semoga bermanfaat. d^^b

–Nofriani–

34 thoughts on “[Renungan + Cerita] Kisah Teladan ‘Umar bin Khaththab#part2

  1. kisah yg tak lekang oleh wktu.smg kita semua mmpu meneladani umar bin khatab r.a
    Eh..ternyata dijaman kita ada jg hlo..pemimpin sperti umar.coba deh lihat youtube..ketik aja rismaharini.dan kawan2 lihat aja video2x.klw masih kurang ..googling aja,ada bnyak ungkapan rismaharini yg bisa mmbuat kita kagum.
    Jika umar pemimpin teladan di masanya..bisa jd risma adlah sosok pemimpin masa kini yg meneladani umar.
    Wallahualam

Terima kasih atas komentar antum. :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s