Ketika Kutunggang Impian


Bismillaahirrohmaanirrohiim.

Assalaamu’alaykum warohmatulloh wabarokaatuhu.

“Nothing changes if you don’t start making a change.”

Ya. Sebuah kalimat yang kuramu dari kalam ALLAH Yang Maha Benar dan Maha Mengetahui, Maha Menguasai Hati, “…Sesungguhnya ALLAH tidak akan mengubah nasib suatu kaum sehingga kaum itu mengubah apa yang ada dalam diri mereka sendiri…” (QS. Ar Ra’d : 11)

Saudaraku, pernahkah kita merasa dikasari, dibohongi, dijahati, orang-orang seperti tak suka kita senang? Merasa kita sial amat sementara tidak ada yang peduli dengan kita? Sepi, sendiri, dan menyendiri sambil gigit jari di sudut lemari? Merasa semua sudah hilang dan pergi? Dan tak ada satu orang pun mengulurkan jemarinya?

Pernahkah kita merasa terus gagal, tidak pernah bisa meraih walau hanya setitik senyum keberhasilan? Seakan-akan tak ada satupun alasan bagi kita untuk bersyukur? Kitalah satu-satunya makhluk yang tidak pernah merasakan buah dari pohon sabar dan ikhtiar? Kita pula lah satu-satunya makhluk yang terus mengucurkan air mata kegagalan?

Aku pernah. Lama sekali, sejak kuliah di Jakarta, aku merasakan semua yang kutanyakan. 😉 Seorang Nofriani, pernah merasakan itu.

Aku mau cerita, nih. Sedikit tentang sebuah perubahan semangat hidupku karena harapan dan impian. It’s not a big change, but it helps me change anything. Dalam hidup ini, kita tidak bisa mengisinya dengan harapan tok. Tidak bisa hanya berkhayal, bermimpi dan bermimpi. Setinggi bulan dan sebesar matahari. Tapi, ketiadaan asa membuat mimpi itu menenggelamkan kita pada khayalan palsu yang memabukkan. Seperti yang pernah kualami.

                Suatu hari saat SMP, aku berangan menjadi pembaca puisi terkenal, tapi membayangkan diri ini menyanyi di depan kelas saja badanku sudah rontok semua. Bermimpi meraih juara umum, tapi waktu nontonku bahkan lebih lama dari waktu belajar. Patah semangat duluan.

                Juga saat dulu aku bermimpi mengikuti lomba English Debating di kancah internasional. Tapi bagaimana mungkin aku berani berkhayal hal itu terjadi padahal belajar ngomong saja tidak pernah? Terus saja berkhayal dan masih keep staying on the track and stay being sad in shadow.

                Dulu, saat kuingin menjadi penulis hebat dan sukses. Beraninya kubermimpi sementara aku tidak punya semangat untuk meraih itu, sibuk merendahkan diri. Lebih banyak takut gagal ketimbang mengirimkan naskahku. Bermimpi dapat nilai A, tapi melamun lebih sering kulakukan daripada menghadap buku. Merugi sekali kalau begitu. Sungguh, baru kusadari belum lama ini.

                Dengan semua mimpi-mimpi itu, aku sadar. Mimpi diperuntukkan bagi orang-orang bodoh dan gagal, jika tak diikuti semangat, memperbaiki diri, memandang keadaan diri (ngaca), dan berubah (menjadi lebih baik). Takkan ada yang berubah. Benar kata pepatah, bagai pungguk merindukan bulan. Tapi bila pungguk mau berubah, bahkan lebih baik dari bumi, maka matahari pun akan jatuh cinta menyinarinya.

                Subhanalloh, ALLAH telah menegurku. Sebuah teguran agar aku bercermin. Agar aku paham, jadilah putri untuk mengharapkan seorang pangeran, jadilah netbook untuk berteman dengan laptop. Dan jadilah Java untuk bersama dengan C++. Berubahlah untuk melihat sebuah perubahan.

                Ah, kawan, hidup ini tak seperti di negeri dongeng. Apa yang kita mau akan terjadi, apa yang kita pingin akan kita raih. Tidak, tidak begitu. Kita boleh bermimpi, tapi pertama pandanglah diri ini. Bercerminlah. Pantas tidaknya kita, itulah yang seharusnya memompa semangat kita untuk memperbaiki diri, melakukan perubahan hingga kita sampai pada posisi yang kita citakan.

Seperti yang kita pelajari di SMA, Hukum-hukum dari Isaac Newton, ternyata ada kaitannya dengan “perubahan”.

Hanya dengan mengingat ALLAH hati kan terasa tenang..

Hukum Newton I, Kelembaman. “Suatu benda bergerak akan tetap bergerak—dan benda diam akan tetap diam—selama jumlah gaya yang bekerja padanya sama dengan nol.” Penerapannya –menurutku—ketika kita berada pada suatu stage, jika bukan kita yang berusaha berubah (gaya milik benda), atau ada sesuatu yang membuat kita berubah (ada gaya dorong atau gaya tarik pada benda), maka takkan terjadi walau secuil perubahan. Begitu terus. Saat semangat kita jatuh, jika bukan kita sendiri yang berusaha bangun, atau ada yang mengulurkan tangannya pada kita, apa yang akan terjadi selanjutnya? Ya kita tetap berbaring di tempat. So, do something to make a change.

Juga Hukum Newton III: Reaksi = (-) Aksi. Besarnya reaksi akan sama besar dengan aksi, tapi arahnya berlawanan. Maksudnya begini, ingin makan apel? Beli/tanamlah. Seenak apa rasa apel yang kita mau? Tergantung rajinnya kita menyiraminya, atau apel apa yang kita beli. Jadi, bila kita baik, insya ALLAH kebaikan akan datang. Dan bila kita mau berubah, insya ALLAH perubahan akan terjadi. Bila kita mau semangat, tidak ada istilah “tenggelam dalam kesedihan” seperti yang dialami banyak remaja (kayak aku dulu).

Sama halnya saat aku tulis ini dengan harapan teman-teman bisa lebih semangat dan ikhlas menjalani hidup, bahagia dan bersyukur. Padahal aku awalnya sedang patah semangat, lagi rapuh-rapuhnya (nanti kuceritakan kenapa). Eh, seiring finishing artikel ini ntah dapat spirits injection dari mana. Bisa dibilang, beraksi dulu baru menunggu reaksi. Kalau aku tetap murung bermuram durja, aku akan tetap menangis sendirian di kamar. Tidak ada perubahan kecuali mata bengkak, hehe.

Aku menyadari sesuatu, banyak manusia, termasuk aku dulu, mengharapkan kebaikan terjadi. Tapi ups, tunggu dulu, pada tempatnya kah harapan itu? Sudahkah kita berubah, melakukan kebaikan sebelum mengharapkan hal yang sama? Kita menginginkan pujian padahal tak sekalipun kita belajar menghargai? Mengharapkan tawa padahal tersenyum saja rasanya enggan? Mengharapkan perubahan terjadi padahal tak ada usaha untuk berubah? Pantas? Tidak!

Inilah yang menurutku orang suka keliru. Bagiku lawan dari berubah adalah menunggu. Banyak orang menunggu saja, padahal katanya tak suka menunggu. Kenapa? Ya karena tak ada yang bisa kita dapatkan hanya dengan menuggu sesuatu terjadi. Yang sudah berubah saja belum tentu puas, apalagi yang tidak.

Memang, bila kita berubah tak secepat itu efeknya terasa. Harus sabar dan ikhlas. Insya ALLAH akan ada hasilnya. Seperti aku, aku terpaksa rajin sakit, sampai sekarang. Sudah bawaan dari kecil. Tiap kali jatuh sakit aku merasa sangat sial. Padahal seharusnya aku sadar, ingin sehat ya jaga kesehatan.

Kuakui, dulu aku tak berusaha jaga kesehatan, kena maag kronis karena aku dulu suka telat makan, jam tiga baru makan siang. Aku menderita darah rendah, lah aku tidurnya telat terus. Kena tipes, aku suka makan mie. Seharusnya aku yang paham aku tak kuat, berusaha untuk setidaknya tak lemah. Jadilah reaksi tubuh kurusku memberontak karena aksiku tak memperlakukannya dengan baik.

Sedih, itulah yang kurasa, kehilangan semangat hidup. Sederet penyakit di tubuhku membuatku bosan hidup. Tapi sesuatu terjadi sehingga aku memilih berubah, memilih semangat menjalani hidup. Memang tak banyak sih, tapi aku berani mengatakan aku mulai melakukan   dalam mendidik diri. Aku mulai disiplin makan dan istirahat, juga mengonsumsi Habatussauda (Jintan Hitam), kalau ada uang aku juga minum madu, plus makan yang bergizi. Tentunya selalu berusaha senang. Kalau olahraga masih belum (rajin). Walau belum puas, rasanya aku sedikit lebih kuat. (Semoga bukan pamer)

But, the big question is “What if I’ve done my best but nothing happens yet”? Kita udah berusaha baik sama orang, tapi orang itu masiiih saja kasar (kayak aku). Sudah berusaha belajar tiap malam, tapi masiiih saja dapat nilai jelek (kayak aku). Sudah berusaha jaga kesehatan, tapi masiiih saja sakit (kayak aku juga). Dan seterusnya. Satu sebabnya mungkin kita tak sepenuh hati melakukannya (what? Astaghfirulloh), bisa jadi ada sifat riya nyelip di tindak tanduk kita, sehingga ALLAH tidak ridho. Atau ada sifat takabur, ujub, atau bahkan dendam. Astaghfirulloh.

Ya. Tidak ada pilihan, semangat besar lah yang harus kita punya untuk meraih impian. Semangat untuk berubah dan perubahan semangat. Tidak ada jaminan keberhasilan memang, bila kita berusaha sekuat tenaga, tapi bila kita terus bersedih dan hilang asa maka itulah jaminan kegagalan. Bila dari hati dan bara semangat pun sudah tak salah, aku hanya bisa mengutip, “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al Insyirah : 6) Dan, “Sesungguhnya pertolongan ALLAH itu sangaaat dekat.” (QS. Al Baqarah : 214)

Contohnya aku lagi,

Beberapa waktu lalu Ujian Akhir Semester berakhir dan aku menerima hasilnya. IP-ku turun drastis! Terjun payung dan tidak ada pelampung. Aku tidak tau apa yang salah, tidurku sudah sangat kurang untuk meraih nilai yang baik, aku selalu minta doa pada ayah ibuku, makan yang bergizi, berusaha sehat, semua sudah kukerahkan. Tapi nihil, ntahlah, kuakui aku kecewa. Aku sudah berusaha berubah tapi tak ada efeknya. Aku sudah semangat, sangat, tapi masih gagal.

Persaingan di sini sangat ketat. Aku berusaha mengejar nilai semampuku. Tertatih-tatih. Karena standar ilmu di kuliah adalah nilai, bukan proses. Tapi sepertinya ALLAH sedang mengajarkanku tentang ikhlas. Awalnya sungguh aku tak kuasa, tangisku tumpah saat ditelpon ibu. Rapuh buanget saat itu. Aku menghabiskan waktu dengan merenung, muhasabah, dengar murottal dll. Akhirnya sampailah aku pada memoriku tentang kalimat seseorang yang sangat baik padaku :

“Dek.. Calon penghuni surga itu harus mendapatkan banyak kesulitan dulu untuk bisa meraihnya.” (Ini ada di Al-Baqarah 214).  Aku terdiam dalam renungku. Berpikir. Iya juga, ya. Mungkin ada rasa iri di hatiku, pada mereka yang pintar dan tidak banyak beban hidup (sehat). Atau ada ambisi ‘tuk membuktikan pada yang merendahkanku bahwa aku juga bisa pintar. (Padahal seharusnya untuk mencari ridho ALLAH).

Aah. Setelah instropeksi diri, kusadari sesuatu. Dari pemaparan Hukum III Newton tadi, dalam kehidupan ini reaksi (perubahan) tak harus datang sesaat setelah aksi (usaha untuk berubah). Tak juga harus dalam bentuk yang kita mau. Jika tidak di dunia kita menuainya, Insya ALLAH di akhirat nanti. Misal kita memberi pengemis uang seribu, tak musti seribu pula yang kembali. Bisa jadi pertolongan ALLAH datang dalam bentuk hadiah kiriman laptop dari ayah. Bila aku belajar sangat keras, memang tak ada hasil di lembaran IP itu, tapi ALLAH menjawab doaku dengan memberikan orang tua yang baik, memberikanku nafas dan detak jantung, memberikan kalian semua sahabatku, dan mengingatkanku bahwa “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula”.

Yah, tak apa. Bila tak sekarang kita memanen apa yang kita tanam, maka mungkin satu dua hari lagi. Selama kita bersabar, tetap semangat, mau berkorban untuk sebuah perubahan, insya ALLAH akan datang pertolongan ALLAH. ALLAH ridho, itu sudah cukup. Aku tutup artikel kali ini dengan kalimat pamungkas ala Nofriani, hehe:

Ingin perubahan? Berubahlah. Tapi saat sudah ada usaha kita, jangan heran jika Jawaban Sang Maha Cinta akan jauh dari jangkauan imajinasi kita.

If you’ve tried to change, but still nothing changed, then it wasn’t your fault anymore.

“artikel ini diikutsertakan kontes Make That Change Pendar Bintang”

113 thoughts on “Ketika Kutunggang Impian

    • ‘alaykumussalaam warohmatullooh..
      Aih, terkesimalah pada ALLAH semata mas.. hhe..
      saya mah ga bisa apa2..

      Iya insya ALLAH.. salam kenal juga.

  1. Assalamu’alaikum, Blog ini patut menjadi salah satu blog favoritku, setelah melihat artikel yang anda buat sepertinya kita patut bertetangga. Saya sudah menempel link anda di blog saya silahkan di link balik, semoga tali persaudaraan diantara sesama blogger semakin erat. Salam kenal dan happy blogging…

    • Wa’alaykumussalaam warohmatullooh wabarokaatuhu.
      Waduh nggak juga mas, saya masih belajar..
      Insya ALLAH, segera saya pasang mas.. Terima kasih..

  2. Assalammu’alaikum..
    Inspiratif ni mbak.. saya juga sering mengalami kegagalan.
    Ketika saya gagal, saya suka sekali membaca surah Al – Insyirah..
    Karena setiap meresapi makna dari arti kata setiap ayatnya selalu memberikan saya semangat baru untuk bangkit kembali… 🙂

    • Wa’alaykumussalaam warohmatulloh wabarokaatuhu.
      alhamdulillaah innalillaah..
      Terima kasih..
      Bukan cuma al-Insyirah, al-Baqarah 186 dan 214, at-Tiin, ar-Rad:28, semua isi al-Quran bisa menenangkan hati..
      semangat2!

  3. Pingback: Indriyani » Baik Dibaca

  4. Assalamu’alaykum yaa ukhti..
    Boleh menambahikah?
    Anti menuliskan “… Aku berusaha mengejar nilai semampuku. Tertatih-tatih. Karena standar ilmu di kuliah adalah nilai, bukan proses…”
    Ya, saya tahu anti juga menjelaskannya di bawahnya:
    ..”(Padahal seharusnya untuk mencari ridho ALLAH).”

    Allah itu menilai usaha seseorang dari 3 hal : niat, proses, dan hasilnya.
    1. Niat : Niat haruslah lurus, yaitu niat hanya ikhlas mengharap ridho Allah. Niat lurus ini yg paling sulit. Misal: kita belajar bukan niat untuk mendapatkan ilmu yg bermanfaat kemudian mengajarkannya karena Allah, menjadikannya jalan kita beribadah kepada Allah, tapi niat kita kuliah, belajar, adalah karena misal: orang tua, mengejar nilai, membuktikan bahwa diri kita “mampu” setara dg yang lain atau melebihinya, dan niat lain yang mencemari niat lurus itu sendiri. Kita tahu bahwa semua diawali dengan niat kan? Jika niat kita tidak murni, bagaimana Allah akan menilai usaha kita?
    2. Proses : bagaimana proses untuk berusaha juga dinilai. Apakah dengan cara halal ataukah haram? apakah kita menjalankan proses dengan benar? apakah kita sudah mencurahkan segala tenaga untuk proses ini?
    3. Hasil : nah, untuk hasil ini diserahkan kepada Allah. Apakah segala niat lurus dan usaha maksimal kita akan diberi hasil yg bagus? ataukah sebaliknya? kita sebagai manusia hanya bisa ikhtiar dan menyerahkan hasil kepada Allah. Harus sabar dan ikhlas apapun hasil yg kita terima.Yakinlah bahwa jalan Allah itu indah. Terkadang kita juga tidak mendapatkan hasilnya secara langsung, harus menunggu karena kebahagiaan akan tiba pada waktunya. Tapi perubahan (seperti yg adek tuliskan) tidak boleh menunggu.

    Nasehat buat adek yang mungkin merasa sakit-sakitan sejak kecil, ingatlah bahwa apa yang engkau rasakan tidak lebih parah dari yang orang lain rasakan. Tahukah engkau? aku mengenal banyak orang yang “sakit” secara fisik, tetapi, Subhanallah mereka justru punya mental yang kuat dan bisa menguatkan orang-orang di sekitarnya.
    – Adek teman (sudah meninggal, Innalillahi wa inna ilaihi rojiun), yang insyaAllah husnul khotimah. Terkena penyakit Lupus. Tahu kan penyakit langka yang belum ada obatnya itu? tahukah engkau bahwa dia (walau masih anak kecil kelas 2 SD ketika dipangil-Nya, kurus badannya, rontok rambutnya, lemah fisiknya, dan berbulan-bulan masuk ICU) TIDAK PERNAH MENGELUH. Dan apa yang dikatakannya kepada ibunya sebelum meninggal? ” Mama tidak boleh menangis, walau nanti Asa pergi, tapi Asa masih ada di hati Mama.Asa akan tetap jadi anak seperti nama Asa” (Asa = semangat)
    – Adek sendiri, yang menderita penyakit jantung bawaan, sudah SMA dan baru ketahuan, dokter mengatakan bahwa sudah tidak ada tindakan yg dapat dilakukan kecuali tindakan konservatif (menjaga). Jadi dia harus minum obat terus nanti untuk mengurangi resiko yang lebih berat. Obatnya tidak untuk menyembuhkan, tapi menjaga saja agar tidak semakin cepat keparahannya. Dia tetap ceria, tidak pernah mengeluh kecuali “kak, aku capek, istirahat dulu ya..”, dan aku terkadang tak tahu apa yang harus aku lakukan. Jika dia capek sedikit saja, hanya jalan tidak sampai 100 meter sudah capek, dia tetap berusaha kuat padahal nafasnya sudah ngos-ngosan dan bibir, tangan, dan kakinya sudah biru. Tapi, bagaimanapun, seorang anak adalah karunia Allah. Bagaimanapun keadaan anak, orang tua akan tetap menyayanginya. Keluarga kami bersyukur karena walau adik seperti itu, dia tetap jadi anak yang ceria dan pintar. Kasihan juga terkadang kalau dia kecapekan karena aksel terus. Kami hanya mengharap keajaiban dan diberi umur panjang agar dia bisa lebih banyak beribadah dan memberikan manfaat untuk orang lain.

    So, niatkan semuanya hanya demi Allah, terima apa yang Allah karuniakan kepada-Mu, karena apapun yang telah diberikan-Nya adalah anugerah.

    “Awal dari kesembuhan adalah semangat untuk sembuh”

    No mengeluh! No marah-marah!

    Syukur,,syukur,,syukur…

    CMIIW

    Wassalamu’alaykum

    • Wa’alaykumussalaam warahmatullaahi wabarakaatuh..
      Syukran tambahannya, Mbak.. Mungkin mbak cuma baca sepotong-potong blog ini ^^’ Jadi mungkin agak salah paham..
      Tp syukran, ya.. 🙂

  5. Tidak,,saya tidak salah paham. Saya hanya menambahi jika seumpama dari kita ada yang sedang futur. ‘Afwan ya jika mungkin ada kata yg salah dan misscom…
    Karena dari bahasa yang adek tuturkan, adek sedang bangkit…semoga selalu bangkit dan lebih berdiri kokoh walau terpaan datang. Entah sakit yang adek rasakan (ingat bahwa apa yg adek rasakan itu tidak lebih parah dr yang dirasakan orang lain, tetap bersyukur krn skit salah satu jalan meningkatkan derajat kita), cobaan yg lain misal kuliah (ingat, tujuan kuliah itu bukan untuk orang tua, semangat utama kita adalah Allah, bukan makhluknya => ini mah untuk semuanya ya? hehehe), etc etc etc….Mangga ditambahi..
    Dan saya setuju, perubahan itu harus!!
    ^_^

    • Uhm. Makanya saya bilang mbak salah paham, mungkin mbak baru pertama datang ke blog sya, belum baca tulisan2 saya yang lain.. Pas kebetulan datang langsung baca tulisan yang ini. Langsung ‘memahami’.
      Ini postingan diikutkan lomba, Mbak. Jadi harus cocok dengan kriteria lombanya..

      Kan katanya, “CMIIW”, toh.. Sudah saya CYIYW, 🙂
      Tapi tafaddoliy sih, kl mbak memang merasa nggak salah paham.. 🙂
      Saya hanya bisa tersenyum dan mengiyakan..

      Syukran..

Terima kasih atas komentar antum. :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s