[Semangat] Ketika Hijab Ingin Kuruntuhkan


Islam itu pada awalnya ajaran yang asing

Dan nantinya ia akan kembali menjadi asing sebagaimana awalnya,

Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.” (HR. Muslim)

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalaamu’alaykum warohmatullaahi wabarakaatuhu..

Mata itu memandang, terpana padanya, menganga terpesona..

Jilbab lebarnya melambai tertiup angin ketundukan dan keanggunan. Kaus kaki tebalnya melangkah manis bersama kaki mungil yang dibungkusnya. Baju panjang dan rok bahan menutup rapat-rapat tubuhnya, bersama membentuk langkah-langkah di pertigaan Jatinegara. Tak lupa manset tangan menghiasi pergelangan yang lembut itu, yang suci tak tersentuh.

Ialah muslimah senja itu, berjalan menunduk dan bergegas. Merapat ke pinggir agar tak jadi perhatian orang. Bibirnya bertasbih memahabesarkan sukma Tuhannya, matanya memandang tanah menghindari mata-mata lain yang mengincar pandangan dengannya. Ekspresi wajahnya datar, kecuali ketika bercengkrama renyah dengan muslimah lainnya.

Ialah saudariku, yang kini tengah membaca tulisan ini. Ntah apa ia kebetulan nyasar ke lapakku. Atau ia sedang rapuh lalu terbesit untuk mengetik di search engine-nya; “bosan berjilbab”, “jilbab ini menyusahkan”, “jilbab ini terasa berat”, dst. Duh, sungguh ana paham ukhtiy, jika harus futur sekali-kali datang menghampiri keistiqomahan qalb dan sukma yang dikendalikannya.

Sungguh ana paham, jika terpikir bahwa hijab terlalu panas, pengap dan sumpek. Sungguh ana paham, jika ia terasa demikian berat dan memberatkan ketika aktivitas menuntut kelincahan sementara iklim kian tidak bersahabat. Dan sungguh ana paham, jika berjuang sendiri tanpa “dia” (suami? Nanti ya.. :p), hijab terasa begitu menyiksa. Hingga hati ini berkeluh, “Ketika Hijab Ingin Kuruntuhkan.

Namun demi ALLAH Yang Mahaindah, tiada yang lebih menggiurkan dari aroma syurga-Nya. Aroma yang ALLAH janjikan pada hamba-Nya yang berusaha sekuat nyawa dan penghambaan untuk menjadi ‘golongan yang sedikit’. Golongan yang diberkahi dan dirahmati oleh-Nya. Golongan yang kelak.. Akan mengalami momen paling indah ketika mata menikmati wajah-Nya. Aamiin.

Ukhtiy, boleh ana tanya? Sejak kapan anti memutuskan untuk berjilbab? Sudah satu atau berapa tahun? Atau baru beberapa hari? Alhamdulillah, kebetulan ana baru sekitar lima tahun. Pun baru sekitar setahun ini jilbab yang ana kenakan ana rasa telah sempurna.

Dulu, ketika pertama kali memutuskan hendak menjadi “akhwat” sejati (emang ada akhwat kacangan?), ana sempat gamang. Sempat sms ke murobbiyah ana dulu, “Mbak, dek fi masih ragu”. Itu kata ana. Galau istilah sekarang. Lalu kata beliau, kira-kira, “Dek, insya Allah akan dimudahkan. Nanti akan terbiasa, ingat loh, ALLAH menyaksikan..”.

Ah, betul, fi.. Gumamku. ALLAH menyaksikan. Ketika dulu aku belajar memasangkan jarum-jarum penyangga jilbab, belajar mengenakan rok dan kaus kaki dengan rapi, ALLAH menyaksikan. Ketika kini jemari ini mengetik kata, kepala mendesain rangkaiannya untukmu, ALLAH menyaksikan. Dan tiada satu noktah pun yang terlewat oleh-Nya. Lantas, kenapa aku harus ragu? Astaghfirullah.

Belum lagi kali pertama kaki berangkat ke sekolah dengan kain putih persegi membungkus kepala dan dadanya. Tiap mata memandang dengan curiga (mungkin cuma perasaan ana), “Eh, si fi dah berjilbab.” Simpang siurnya ana dengar, ada yang positif, ada yang negatif. Hm..

Rapuh? Iya. Ragu? Mungkin. Masih sesekali, dulu.

Namun ntah bagaimana Dia kuatkan hati ini untuk bertahan. Tetap melangkah dengan gegas tanpa gagap, seraya berbisik, “ALLAH, kuatkanlah..”. Ana sadar, ialah fitrah jika perempuan memang sensitif, lebih labil dari laki-laki. Maka bolehlah ana cerita, tidak gampang mempertahankannya..

Ketika pertama kali mengenakan jilbab ini, ana akui ana belum melengkapinya dengan kaus kaki dan manset (kebetulan kurang uang juga :p). Baru usai 3-4 minggu ana baru bisa menghiasinya dengan jilbab yang sempurna. Walau ana akui lagi, masih ada yang kurang. Apa itu? Ya, kadang-kadang masih agak tipis, masih sedikit ketat (apa ana yang gemuk? :p), masih tersingkap-singkap angin. Astaghfirullah.

Perjalanan terus berlanjut hingga ana lulus SMA. Dan selama masa 2 tahun itu (ana mulai berjilbab kelas XI), ana tidak merasa telah mengiringi jilbab tubuh ana dengan jilbab nyawa (hati). Sampai pada galau tingkat tinggi di awal masa kuliah ana (di Jakarta). Ntah bagaimana ana telah terlalu longgar pada diri sendiri dan lawan jenis. Masih suka mengenakan smiley ketika sms ikhwan, masih suka kelepasan tersenyum di tempat yang tak tepat, dll. Astaghfirullah.

Iya, Ukh. Ana tahu, kini ana tahu itu keliru. Bila boleh ana bilang, ana terlalu lamban memaknai hidayah ini. Padahal ia telah datang lama, namun baru ana resapi di waktu usia ana telah hampir 20 tahun. Saat kedewasaan ana telah menampakkan wujudnya. Setelah demikian banyak ana biarkan ikhwan (cowok) menyenangi ana. Setelah demikian sering ana biarkan pakaian ana di tahap “biasa”, berjilbab ala kadarnya. Sekadar kaus kaki dan jilbab garis-garis (yang bagi ana kini, itu masih tipis, masih kurang).

Ah, sudah. Malas ana bicara ini. Langsung saja, dua hal yang ingin ana sampaikan.. Pertama, jilbab tubuh itu tidak menjadi jaminan kita telah baik. Demi ALLAH, banyak yang ana lihat berjilbab rapat tapi masih pacaran, yang berjenggot lebat tapi masih suka “lebay”. Dan kedua, bila hidayah telah sampai, peganglah erat dan jangan sampai terlepas.

Sulit? Iya, kadang.

Namun ukhtiy, jika kita mau berubah, mengapa tidak?

Ana masih ingat, Minggu, 19 Juni 2011. Ana ‘merombak’ semua pakaian ana. Kemeja yang kini ana tidak suka ana kasih ke saudara ana, rok-rok yang kini ana tidak suka ana berikan ke sahabat ana. Termasuk jilbab garis-garis yang kini ana tidak suka ana wariskan ke saudari ana.

Hasilnya? Betul, semoga istiqomah. Ana lebih suka yang gelap-gelap. Walau kini bisa dibilang ana tidak punya apa-apa (baju dikit :p), insya ALLAH, ana bahagia. Bukan berarti ana memaksa ukhtiy harus begitu. Kebetulan kini ana lebih suka yang seperti itu, walau sebenarnya dulu ana suka yang cerah-cerah (nanti lah, kalau si “dia” minta :p, hehe). Lebih suka makan sedikit biar tidak ada pakaian yang kekecilan (semoga tidak tambah kedodoran :p).

Kini, ketika ukhtiy mungkin masih lupa mengenakan manset, roknya terlalu sempit, atau jilbab yang masih tipis, maka semoga ALLAH mengantarkan pada gerbang keindahan, berupa manisnya hidayah seperti yang Ia berikan pada ana. Demi ALLAH hidayah itu jauh lebih manis dari madu paling manis.. ^^

Lalu, pertanyaan ana sekarang, Ukhtiy.. Apakah ragu, rapuh, dan jenuh tengah memenuhi rongga dadamu? Bila tidak, maka mari kita saling menguatkan..

Namun bila iya..

Mari bersandar sejenak, Ukh, pejamkan sebentar mata ini. Bayangkanlah ketika Rasulullah tersenyum manis pada kita kelak. “Inilah umatku, ia berusaha menjalankan suruh-Nya & sunnahku”, kira-kira begitu khayalan ana, kelak di Yaumil Akhir. Aamiin.

Mari menoleh sejenak, Ukh. Di luar sana ada banyak saudara-saudari kurang beruntung yang ALLAH biarkan terlunta-lunta dalam kesenangan dunia. ALLAH biarkan mereka lupa, pada mati dan hidup setelah mati. Maka apakah itu tak cukup menyenangkan kita, Ukh? Bahwa kitalah manusia yang dhoif, namun ALLAH pilihkan untuk menjadi para penolong agama-Nya. Subhanallah.

Ukhtiy, mari kita berangkat dari keragu-raguan.

Bila ALLAH telah menolong kamu,” termaktub dalam Ali ‘Imran: 160, “Maka tidak ada yang dapat mengalahkan kamu.”

Lalu mari kita bangkit dari kesedihan karena “terasing”.

Laa Tahzan”, terekam dalam at-Taubah: 40, “InnALLAAHa ma’anaa.”

Ini sedikit hadiah dari ALLAH:

 “… Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan syurga-syurga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.” (Q.S. al-Baqarah: 25)

Cukup, Ukh? Sudah tenang? Alhamdulillah. Maka semoga ALLAH menjaga keikhlasan dan niatan kita karena-Nya dan untuk-Nya. Semoga ALLAH merahmati sepasang mata cantik yang menjelajahi lapak sederhana ana.. Semoga ALLAH, kelak, mempertemukan kita di kampung megah dan indah, ialah jannah-Nya.. Bersama para mujahid dan syuhada, Aamiin.. Aamiin.. Aamiin..

So, what’s next? Keep istiqomah. ^^ Pilihan ini adalah pilihan kita, sekaligus pilihan yang dipilih salafus sholih.. Sebuah pilihan, yang demi ALLAH, selalu diridhai & dinaungi-Nya.. Allahuakbar!

Semoga bermanfaat 🙂

Dan semoga ALLAH melimpahkan berkah dan karunia tiada berbilang pada mereka yang menjadi jalan hidayah itu tiba di relung qalbuku. Aamiin..

PS: ‘Afwan jiddan untuk ukhtiy dan akhiy yang alhamdulillaah subscribe ke Merajut Kata ^^ rada sibuk, hehe 🙂 Jazaakumullaah khaiir sudah membaca, semoga menjadi amal mencari ilmu.. Aamiin..

Jilbab

Karena ada seseorang yang menginginkanmu menjadi wanita yang menjaga diri dan martabatnya ukhtiy.. Ialah calon suami yang ALLAH pilihkan.. Semoga nanti ia tak kecewa.. Aamiin.. ^^

44 thoughts on “[Semangat] Ketika Hijab Ingin Kuruntuhkan

  1. subhanallah mbak,tulisannya benar2 membuatku sy malu n brgtar..slm knal mbak smga Allah sllu mmbrikan hidayahNya utk kt smw.keep istiqomah

      • punten.sy blm knl sm mba.mba jg blm knl.Alhamdulillah Allah tlh mnggrakan hti sy utk searching mslh ni,dan trnyta sy tdk slah klik.slm knl mba mksh ats ilmu n pncrahanya.

  2. Gemeter sendiri bacanya kak…
    #nyetrum 😛
    Iyaa saya jd nyadar sndiri jilbab saya masih jauh dari kata syar’i. Apalagi masa remaja saya ada di tengah2 tren jilbab yang warni2, yg modis2 gitu. Astaghfirullah deh…
    Semoga ALLAH melindungi kita dari bisikan & godaan syaithan dan iblis yg terkutuk. Dan semoga kita dihindarkan dari siksa api neraka.
    Aamin yaa robal ‘aalamin 🙂

    • Aamiiin..
      Insha ALLAH.. Minta sama ALLAH kekuatan agar Ia menjaga hati dan diri kita, menjaga kehormatan kita, menjaga jodoh kita yang satu2nya berhak atas perhiasan kita. 😉 OK.. Semangat berhijab!!

  3. subhanallah ^^
    sy wnita usia 21 thn,dn tlah brhijab 3 buln lalu..
    tp sy blum “brhijab hati”,
    pkaian sy pun msih blum bisa di bilang syar’i,msih pkai clana jeans,jilbabnya pun tipis..
    sy brjuang keras mlawan setan dlam diri sy, sy ingin mnjdi wanita muslimah yg ssungguhnya..

    • Hmm..
      Saya mesti komentar apa ya? 🙂

      Tips berjuangnya: berdoa sama ALLAH biar dikasih hidayah, bergaul dengan muslimah shalihah, sering nonton/dengar/ikut kajian tentang jilbab, dll..
      Semoga ukhtuna Sylvia dihadiahi kado manis dari ALLAH; hijab yg sempurna. Esok, lusa, dan seterusnya. Aamiiin..

      Sy juga baru sekitar 6 tahun berhijab, Mba.. Hijab yg saya rasa udah benar baru berlangsung sekitar 2 tahun, hehe.. Semoga semakin baik ke depannya, ya, Mba.. Aamiin..

  4. Pingback: [Renungan] Setengah Jutanya Allah#Part1 | Merajut Kata

  5. Pingback: [Renungan] Keniscayaan Kesedihan Kita | Merajut Kata

  6. “Betul, semoga istiqomah. Ana lebih suka yang gelap-gelap. Walau kini bisa dibilang ana tidak punya apa-apa (baju dikit :p), insya ALLAH, ana bahagia. Bukan berarti ana memaksa ukhtiy harus begitu. Kebetulan kini ana lebih suka yang seperti itu, walau sebenarnya dulu ana suka yang cerah-cerah (nanti lah, kalau si “dia” minta :p, hehe).”

Terima kasih atas komentar antum. :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s