[Cerpen] Ayah.. Maafkan Aku..


Bismillaahirrahmaanirrahiimm..

Assalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Ini adalah salah satu short stories yang pernah saya tulis. Berhubung saya sedang bingung ingin tulis apa, saya post tulisan lama saja, ya. ^__^ Semoga bermanfaat..

Ayah.. Maafkan Aku..

Oleh: Nofriani

 

Mata itu menatap lama. Berkaca-kaca, namun bulirannya tak kunjung meluncur dari bendungan. Bibir itu bergetar dan membiru, menggigil dalam hening. Kening itu berkerut dan berlipat-lipat. Giginya gemeritik membendung emosi yang telah sampai di puncaknya.

Serangkaian guratan rumit di wajah muda itu menyampaikan setunggal ekspresi memilukan; penyesalan.

Wajah itu kembali mengenang sepenggal masa lima tahun silam. Ketika violinist itu memintanya dengan lembut..

“Anakku.. Ini hadiah ulang tahun untukmu, Nak. Pertunjukannya hanya sebentar, ayah cuma minta 10 menit-mu, Nak..”

“Bohong!” Sahutnya dengan kasar. “Ayah terlalu sibuk jadi violinist! Bilang saja ayah tidak punya waktu merayakan ulang tahunku. Cari-cari alasan!”

“Nak..”

“Tidak!” Kini matanya melotot lebar-lebar. “Ibu sudah dua tahun meninggalkan kita, dan ayah masih kekanakan begini?!”

Kedua sosok itu saling pandang beberapa detik. Satu mata memandang pilu dan haru, mata yang lain menatap garang dan ganas.

Mata merah itu perlahan menghilang bersama hentakan kaki yang kasar, meninggalkan sosok yang tengah memangku biola tua di tepian lehernya. Meninggalkan satu-satunya keluarga yang masih ia miliki. Meninggalkan sosok, yang mungkin tak lagi mampu mendentingkan nada-nada dawainya.

“I love you, Dad..”
Have you ever said it to your dad? ^^

“Neng, cepat ke rumah sakit. Bapak koma dari kemarin.”

“Hah?! Bibik kok baru bilang sekarang?!” Ia sontak.

“Maaf, Neng. Soalnya dari kemarin Neng Tia tidak bisa dihubungi. Lemah jantung bapak kambuh saat pertunjukan, Neng.”

Prang!

Telepon genggam itu telah terjun dari genggaman, retak. Ia tak peduli. Dalam sekejap kaki-kaki panjangnya meluncur ke rumah sakit. Gemetar dan ketakutan. Jika ia tak lari dari rumah mungkin kini ayahnya baik-baik saja.

Tis-tis.

Air mata itu menetes perlahan, lalu dalam sekejap bertransformasi menjadi miniatur Niagara.

Di dalam taksi ia terngiang nada-nada indah dari gesekan biola ayahnya. Biola tua yang mengangkat derajat mereka menjadi keluarga berada. Biola yang mengisi hati sang ayah ketika kerinduan pada mendiang ibu datang bertandang. Biola yang kini tengah tergeletak di sebelah dipan di rumah sakit. Bersama tubuh kurus ayahnya, violinist yang sabar, yang tabah.

Lebih menyakitkan lagi ketika pembantunya bercerita bahwa ayahnya telah menyiapkan kejutan ulang tahun untuknya. Sendirian beliau menghubungi teman-temannya, mengatur izin menggunakan aula gedung pertunjukan. Tak lupa dikemasnya pula kado ulang tahun untuk Tia; satu set gamis merah muda dan jilbab putih susu.

Ah..

Gadis itu terlambat.

Rumah sakit itu telah tersihir menjadi rumah duka. Didapatinya tubuh sang ayah telah mendingin. Ruh violinist itu telah berangkat meninggalkan bumi. Meninggalkan biola kesayangan yang telah kehilangan tuan.

Keheningan biola tua itu menggoreskan cerita yang takkan sanggup dilupakan sang puteri. Meninggalkan bekas luka, memaksanya terus mengenang kesalahannya. Menorehkan sebuah umpama, bahwa dawai hati seorang ayah itu seperti dawai biola. Keindahan yang tak terganti, yang jika putus takkan lagi tersambung.

Kini, gadis itu hanya mampu menatap podium aula gedung itu, dari kursi tempat biasa ia duduk menyaksikan permainan ayah. Tempatnya menyaksikan tangan ayah menggesekkan dawai-dawai dengan penuh penghayatan, penuh kebahagiaan memandangi senyum manis puterinya dari kejauhan.

Ayah dan biola, seperti gelas kaca dan air di dalamnya. Saling membutuhkan, saling melengkapi. Dan keduanya begitu berharga bagi Tia, musafir yang kehausan dan kesepian.

Dalam getir, bibir itu berujar lirih, “Ayah.. Maafkan aku..”

 

-Safira Khansa. Selasa, 28 Agustus 2012-

14 thoughts on “[Cerpen] Ayah.. Maafkan Aku..

  1. cerpennya bagus, walau ceritanya pendek tapi klimaksnya kena banget. gaya bahasanya juga bagus dan mengalir. walaupun ada beberapa kata yg sedikit membuat bingung. 🙂
    but i like this story. 🙂

    • Iya ana sedang sibuk, Pak..
      Maklum skripsi dan ujian komprehensif sudah di depan mata.. Hehe..

      ‘Afwan belum bisa rajin berkunjung spt dulu.

Terima kasih atas komentar antum. :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s