[Renungan + Cerita] Bapak Tukang Sol, Gigi Gingsul, dan Kesendirian Perjuangan#Part1


Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assaalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh.

“Duhai Yang Membolak-balikkan hati,

kokohkanlah hatiku di dalam agama-Mu.” (H.R. Tirmidzi)

 

Saudaraku, apa kabar? 🙂 Semoga senantiasa dalam kebaikan dan kesyukuran. Aamiin.. Lama sekali rasanya ana tidak menyapa, ya. Semoga tulisan ana dapat mewakili ana untuk berbicara dan menyapa.

Ternyata, sudah cukup lama pula ana tidak menulis. Apalagi menyentuh blog kesayangan, Merajut Kata. Mungkin, sebagian antum sudah tahu bahwa ana sedang berada di pertengahan semester 8 kuliah ana. Yang artinya, Insha ALLAH, ana akan segera lulus Oktober 2013 ini. Insha ALLAH.. Aamiin.. 🙂

Sebenarnya, ana ingin berhenti menulis beberapa waktu, hingga kelak ana lulus. Ana punya amanah penting; menulis buku skripsi dan menulis kode-kode program untuk Mesin Pencari Statistik yang tengah ana bangun. Namun rasanya, beberapa waktu belakangan, hati ana gundah, ingin sekali memainkan jemari, merajut kata untuk pribadi baik yang kini tengah membaca. Ada banyak hal yang ingin ana bagikan. Akhirnya, ya, ana putuskan meluangkan waktu ‘tuk menulis lagi.

Karena sudah dua bulan ana bergeming dalam kata, cukup banyak hal yang ana lalui dan telaahi. Setelah jalinan memori bermusyawarah di otak ini, ana putuskan berbagi tiga pengalaman ana. Yang Insha ALLAH, akan sama-sama mengingatkan antum dan diri ana pribadi. Yaitu: Bapak Tukang Sol, Gigi Gingsul, dan Kesendirian Perjuangan.

Ana ceritakan berdasarkan runtutan waktunya. Baca saja, Insha ALLAH tidak rugi. 🙂

I love ALLAH

I do 🙂

Pertama, akhir April lalu. Ketika ana sedang gundah, galau, lelah, atau apalah namanya, terhadap kode-kode program yang belum berhasil, lembaran buku skripsi yang belum kunjung penuh, dst. Siang itu, ana berjalan lamban dan malas, menuju kampus di seberang. Mengamati sepatu robek yang membungkus kaki ana. Sepatu itu sudah cukup tua, ada robekan lebar di pinggiran sepatu sebelah kanan, telapaknya pun sudah bocor.

Langkah kakiku terhenti ketika seorang bapak tukang sol tampak dari kejauhan, berjalan berlawanan arah dengan ana. Berdendang dengan gaya khas tukang sol sepatu di Jakarta, menawarkan jasa solnya. Tanpa berpikir dua kali ana menyapa beliau dan menyodorkan sepatu kanan ana. Kami berdua pun duduk di pinggir jalan. Sang bapak membuka tasnya, sedang ana duduk diam menonton.

“Kuliah di STIS ya, Neng?” ujar beliau, memulai pembicaraan.

“Iya, Pak.” Ana melihatnya dengan tangkas menyiapkan bahan-bahan penyesolan.

“Udah mau lulus ya, Neng?” beliau bertanya tanpa mengangkat kepalanya.

Hehe,” ana tertawa kecil, “iya, Pak.. Insha ALLAH akhir tahun ini.” Ana memandangi tangan beliau yang sudah mulai keriput.

“Ng..” Ana menyambung lagi, “Sudah berapa lama sol sepatunya, Pak?”

“Wah,” ujarnya, “Bapak dari tahun ‘80, Neng.”

“Wah,” ujarku pula, “Sudah lama juga ya, Pak.”

“Iya, Neng. Dulu sempat jadi buruh bangunan beberapa tahun.”

Ana menyimak.

“Bapak mah ndak tamat SD, Neng. Tahun ’78 sudah putus sekolah. Jadi, yaa, cuma begini kerjanya, Neng.”

Ana tertegun.

“Orang-orang seperti Neng mah kudu bersyukur. Dikasih sama ALLAH kuliah gratis, pinter lagi. Langsung kerja, kan, ya?”

“I, iya, Pak..”

“Nah, kan tidak harus kesusahan seperti anak-anak lain yang mesti keteteran cari uang untuk kuliah, Neng. Cari kerja juga susah.”

Hehe. Iya, Pak..” Ana hanya tertawa, tak tahu bagaimana harus merespons. “Ng, seharinya dapat berapa, Pak?” Sebuah pertanyaan yang cukup lancang, ana luncurkan.

“Yah, berapa dapatnya lah, Neng. Berapa orang mau kasih. Kalau lagi beruntung ya lumayan lah. Kalau tidak ya berapa adanya, Neng. Toh rezeki sudah ada yang ngatur.”

Sang bapak mengangkat kepalanya, tersenyum. Ramah dan sejuk. Tangannya menyodorkan sepatu yang sudah terjahit dengan rapi.

Ana tersenyum kecil, menyambut sepatu itu dan memakaikannya di kaki kanan ana. Tangan ana lincah merogoh kantong, memilihkan uang ‘tuk disodorkan kepadanya.

“Terima kasih ya, Neng.” Ujar sang bapak.

“Iya, Pak.” Ana tersenyum lagi.

“Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk-bentuk tubuhmu dan hartamu,

akan tetapi Allah melihat hati-hatimu dan amal-amalmu.”

(H.R. Muslim)

Ana berpamit dan berterima kasih sekali lagi. Kemudian, ana melanjutkan perjalanan menuju kampus. Di sepanjang sisa perjalanan itu, ana merenung dan tertegun berkali-kali.

Ah, subhanallaah..

Hati ana merasa ditinju oleh palu raksasa yang mengingatkan ana tentang syukur dan sabar. ALLAH menyampaikan ana pada takdir bertemu dengan sang bapak, yang mengingatkan ana tentang akhlak kesyukuran, jauh di atas syukur sekitar 20 ribu anak-anak lain yang dulu juga mengikuti USM STIS. Bersyukur karena ALLAH memilih ana ‘tuk menduduki salah satu kursi di 4KS2, STIS. Bersyukur karena ALLAH memberi ana kesempatan kuliah di Jakarta, gratis, diberi TID (Tunjangan Ikatan Dinas), diberi jaminan langsung kerja, plus diberi baju seragam yang menurut saudara ana “keren”.

Bersyukur karena semua hal tak terbilang yang ALLAH anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya, semua hal yang kadang ana lupakan..

Alhamdulillaah.. SubhanaKa yaa Rahmaan.. SubhanaKa..

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhan-mu memaklumkan;

‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu,

dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’ ”

(Q.S. Ibrahim: 7)

 Lanjut: Part 2, Part 3.

3 thoughts on “[Renungan + Cerita] Bapak Tukang Sol, Gigi Gingsul, dan Kesendirian Perjuangan#Part1

  1. Pingback: [Renungan + Cerita] Bapak Tukang Sol, Gigi Gingsul, dan Kesendirian Perjuangan#Part2 | Merajut Kata

  2. Pingback: [Renungan + Cerita] Bapak Tukang Sol, Gigi Gingsul, dan Kesendirian Perjuangan#Part3 | Merajut Kata

Terima kasih atas komentar antum. :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s