[Renungan + Cerita] Bapak Tukang Sol, Gigi Gingsul, dan Kesendirian Perjuangan#Part2


Kalau belum baca; Part 1.

Thayyib, sekarang kita masuk ke cerita kedua.

Awal bulan lalu, kira-kira pada 7 Mei, ana kembali mengeluhkan gigi drakula yang ana miliki. Gigi yang memiliki dua taring lancip di bagian atas, kiri-dan-kanan. Dua gigi seri atasnya berbentuk nyaris bundar, mirip dua biji jagung pucat yang ditempelkan.

Gigi taring dan seri bagian bawah membentuk “labirin”. Ibaratnya, jika seekor bakteri bertamasya di rongga mulut ana, mungkin ia tidak mampu mencari jalan keluar. Karena gigi ana; berantakan. Ana bahkan harus memiliki sikat gigi yang berambut halus dan fleksibel, agar mampu menjangkau dan membersihkan semua bagian “tersembunyi” di gigi ana. Antum yang memiliki struktur gigi serupa, tentu tahu apa yang ana maksud. 🙂

Ceritanya, dulu ketika kecil, orang tua ana mungkin menganggap ana sudah cukup besar untuk mencabut gigi sendiri. Beliau berdua sibuk mencabutkan gigi saudara kembar ana. Ana sendiri harus menunggu tumbuhnya gigi baru, agar ana dapat mencabut gigi-gigi susu ana dengan mudah. Alhasil, gigi ana hancur, sementara gigi beliau “seragam” dan sangat rapi.

“Aaargh..”Ana mengeluh.

Keluhan akan skripsi menambah serunya ana menyesali struktur gigi ana. Usia ana sudah lewat 21 tahun, namun mengeluhkan gigi sudah ana lakukan sejak gigi susu ana digantikan oleh gigi-gigi dewasa. Astaghfirullaah..

Pada hari itu juga, seorang kakak menasihati dan mengingatkan ana yang kufur nikmat ini. Beliau mengabari bahwa di Jepang telah ada trend baru; “memberantakkan gigi”. Membentuknya menjadi snaggle teeth (bahasa Inggrisnya gigi gingsul).

Di Amerika, orang berlomba-lomba memperbaiki gigi yang berantakan dengan biaya 5000 dolar, entah dengan operasi, entah dengan behel gigi. Perempuan Jepang justru berlomba “merusak gigi”-nya. Baik itu dengan operasi menarik pangkal gusinya, maupun dengan menambah tambalan semen gigi permanen atau nonpermanen di kedua ujung gigi taring atas. Katanya, agar terlihat lebih “manis” dan cantik, seperti kesan gigi kawat di Indonesia; “cute”.

Biayanya pun mahal betul. Untuk satu kali pembuatan gingsul, butuh uang sekitar 400 dolar. Berarti sekitar 4 juta rupiah. Itu adalah sekitar 5 kali lipat uang TID ana di STIS. :\

“Cintamu kepada sesuatu membuatmu buta dan tuli.”

(H.R. Abu Dawud dan Ahmad)

Awalnya, ana hanya tertawa kecil ketika browsing di Internet, menemukan bacaan yang kalau tidak salah berjudul “Another crazy trend in Japan.”

Namun kemudian, senyum ana lenyap. Tergantikan oleh kerutan kening lipat tujuh, yang menandakan ana sedang merenung dan kembali merasa tertegur.

Rupanya, gigi yang dulu menurut ana jelek dan memalukan, sekarang menjadi incaran wanita di negara canggih macam Jepang. Rupanya, gigi yang dulu membuat ana harus menutup mulut ketika tertawa, kini menjadi dagangan “mewah” dan mahal. Rupanya, gigi yang menurut ana lebih tepat disebut gigi drakula, gigi vampir dst, kini telah menjadi “good-looking teeth” di luar sana.

Dulu kala masih SMP dan awal SMA, ana malah sempat berniat mengenakan behel untuk memperbaiki gigi drakula ana. Ternyata kini, di luar sana, orang malah berlomba-lomba “merusak” gigi rapinya menjadi snaggle teeth, atau yang di Indonesia akrab dikenal dengan gigi gingsul.

If ALLAH's with us

There’s no one to fear except The One Above The Throne.

ALLAHu Rabbiy.. SubhanaKa, Engkau telah menciptakan hamba dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Dalam bentuk yang dulu hamba durhakai, namun kini hamba syukuri. Bentuk yang kadang hamba sesali, namun kini hamba nikmati. AstaghfiruKa, astaghfiruKa.. Ampuni hamba-Mu ini yang kadang lupa bersyukur. Aamiin..

Dan beberapa hari yang lalu, ALLAH kembali menegur ana, memeluk ana dalam nur hidayah-Nya. Lewat proses yang cukup panjang:

Skripsi.

Satu kata yang mengangkat derajat mahasiswa menjadi sarjana. Satu kata yang mengangkat derajat diri di hadapan ayah dan ibu di rumah. Satu kata yang menuntut perjuangan dan air mata kelelahan. Satu kata tentang ana; skripsi.

19 November 2012 lalu, proposal penelitian ana disetujui. Tanpa revisi, tanpa kritik. Sang bapak, ketua jurusan kami saat itu (Komputasi Statistik, KS) memuji dan menyampaikan ketertarikan beliau dengan topik riset ana. Dosen terfavorit di jurusan kami, sekaligus salah satu dosen-dosen terhebat di kampus ini, secara tidak langsung menyatakan penawaran beliau untuk membimbing ana dalam pengerjaan judul tersebut (which of course he’s now my supervisor).

Sebenarnya, ana mengajukan dua proposal. Alhamdulillaah, keduanya diterima. Walaupun proposal pertama harus direvisi 4 kali. 🙂 Alhasil, ana diminta Jurusan untuk memilih topik yang akan ana jadikan tiket di riset skripsi. Tentunya, kelancaran pengajuan proposal kedua menambah keyakinan ana untuk lanjut skripsi lewat proposal tsb.

Oh iya, judulnya: Mesin Pencari Statistik.

Maka, Februari lalu, ana memulai riset. Mulai dari membaca literatur, meminjam buku dan bertanya kemana-mana. Ana juga sempat mendengar, ada teman yang menilai, topik ini terlalu sulit (untuk ana). Ana terima. Karena jujur, saat itu pengetahuan ana mengenai search engine dan embel-embelnya masih sangat kurang. Literatur yang bertimbunan dan bacaan yang tidak mampu ana pahami sepenuhnya justru membuat ana pusing dan semakin tidak mengerti.

Alhasil, ana kebingungan dan kehilangan arah.

Selain itu, dosen ana pun bukan tipe pemberi suapan yang langsung mengarahkan anak bimbingannya pada solusi terbaik terhadap topik risetnya. Beliau (menurut ana) sengaja membiarkan ana banyak membaca, beliau ingin ana belajar banyak sebelum mengarahkan ana pada solusi yang akan ana jalankan pada tahap perancangan kelak.

Akhirnya, selama satu bulan penuh ana hanya terkatung-katung pada pemilihan metode pembuatan search engine tsb. Which of course wasn’t easy at all. Setiap paper yang ana baca mengharuskan otak ana bekerja dua kali; memahami bahasa Inggris-teknisnya dan memahami bahasa komputer-teknisnya.

Akhirnya, pada bimbingan ketiga, setelah beberapa metode rumit yang ana pahami, dosen ana menyuruh ana mempelajari meta-search engine untuk pembuatan Mesin Pencari Statistik ini. Pulang bimbingan, ana kembali merombak rancangan arsitektur sistem, isi bab I dan II, serta paradigma yang sudah sebulan ana rekatkan di kepala ana.

Sampai pada bimbingan keenam, atau tepatnya 19 April lalu, ana masih “tersesat”. Sudah hampir dua bulan sejak memulai riset, ana masih pada proses pematangan konsep pikir dan pemahaman terhadap meta-search engine. Dosen ana masih beranggapan bahwa ana masih belum memahami riset ana sendiri, apalagi metode pemecahannya.

Awal Mei lalu, ana diminta mulai melakukan coding, which of course wasn’t easy at all. Ana harus membuat API loader (dari API tiga mesin pencari terdepan), text classifier, text parser, user interface, security mechanism, API mixer, web wrapper, dll. Oh iya, tentunya ana harus menulis juga di laporan skripsi ana.

Ana memulai dengan menggunakan API Google, CSE (Custom Search Engine). Rumit. Sulit. Bikin pusing. Bikin sakit dan memicu kambuhnya maag dan vertigo yang ana miliki. Dengan modal kemampuan programming yang sangat sederhana, ana mencoba dan mencoba. Gagal dan gagal. Lelah, tertatih dan jatuh bangun.

Menangis? Ya, tentu.

Putus asa? Ya, hampir.

Ana sudah usaha bertanya di forum-forum, pada teman-teman ana, kakak-kakak tingkat, adik tingkat juga ana tanya. Bahkan dosen ana pun ikut berperan membantu ana dalam mencari jalan keluar dari ketersesatan ana dalam mengoperasikan Google CSE.

Yang menyedihkan adalah, hampir setiap orang yang ana tanya selalu menjawab pertanyaan serupa, seperti “Maaf Fi, ga ngerti..”, “Wah ga tahu, Fi.”, “Lagi sibuk, Fi.” dll. Ada juga yang hanya meninggalkan pesan “read” di message Facebook, dalam artian mengabaikan pertanyaan ana. Artinya, hampir tidak ada yang mau/bisa membantu ana jika ana bertanya mengenai error pada source codes, kesalahan konsep dan lain-lainnya.

Hanya ada tiga nama (empat dengan dosen ana), yang sejauh ini menurut ana sangat berperan membantu ana. Ah, hanya ALLAH yang mampu membalas kebaikan kalian, Kak, Teman, Pak.. ^^

Pertengahan Mei, ana semakin pusing dan tidak karuan. Bahkan ana lupa makan dan tidur, alhamdulillaah ana baru jatuh sakit sekali. Ana juga hanya keluar rumah untuk kuliah dan beli makan. Seharian dan semalaman ana mengedit source codes dan mengeceknya di localhost ana. Gagal dan gagal.

Ana sudah berusaha menahan air mata ana.

Namun rupanya, air mata ana tumpah juga. Ana hanyalah hamba yang lemah dan cengeng. Menangis pada-Nya menjadi pilihan untuk menjalani waktu dini hari itu. Ana menangis sekuatnya, memohon agar Ia menghadiahi ana “kemudahan setelah kesulitan” itu. Panjang dan khusyuk, terisak dan terengah-engah ana menagih janji dan pertolongan-Nya.

“Saat terdekat bagi seorang hamba kepada Robb-nya

 adalah pada saat ia bersujud.” (HR Muslim)

Badan ana dingin dan gemetar. Ketakutan akan kegagalan sidang September kelak juga merusak kepercayaan diri ini. Bayang-bayang senyum ayah dan ibu ana juga turut menghiasi pengaduan ana pada-Nya.

Lanjut: Part 3.

8 thoughts on “[Renungan + Cerita] Bapak Tukang Sol, Gigi Gingsul, dan Kesendirian Perjuangan#Part2

  1. Pingback: [Renungan + Cerita] Bapak Tukang Sol, Gigi Gingsul, dan Kesendirian Perjuangan#Part3 | Merajut Kata

  2. Pingback: [Renungan + Cerita] Bapak Tukang Sol, Gigi Gingsul, dan Kesendirian Perjuangan#Part1 | Merajut Kata

  3. masyaAllah, sungguh sebuah perjuangan yang tak mudah, namun saat keberhasilan menghampiri maka tawa bahagia menghiasi, alhamdulillah, saat ana menyelesaikan skripsi 3 tahun yng lalu, Allah melancarkan semuanya…. semoga tesis ditahun ini, lancar dan mampu dihadapai,…. semnagat fii….. kangen, lama tak tegur sapa 🙂

    • Oya, Mba.. Alhamdulillaah.. 🙂 Ana udah lulus 5 hari yang lalu, hehe..
      Wah, iya, ya, lagi S2 ya skrg.. Ma’annajah fii imtihaniki, Mba..
      Iya nih, skripsi menyita waktuku utk blog.. Hehe..

      • alhamdulillah, selamat yah dek, senang mengetahuinya..

        alhamdulillah ada dana dari dikti, secara gratis, jadi lanjut deh, mumpung ada dana gratisan 🙂 alhamdulillah , sesuatu tuh jika kuliah tnpa harus membebani keduaorangtua…

        semangat selalu yah dek,

      • Dikti itu apa, Mba? Ane juga pengen, Mba.. Lanjut kuliah…
        S1 udah gratis, mau gratisan juga S2-nya, Mba.. Bagi info, Ukhtiy Kabiir.. ><

Terima kasih atas komentar antum. :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s