[Renungan] Ketika Engkau Merasa Sendiri#Part1


Di sepanjang rentetan nada kehidupan, tak semakrosekonpun Ia pernah menelantarkan kita. Walau kadang kita mengeluh, terjatuh, menangis, marah, atau bahkan putus harap.. ALLAH selalu menampakkan cahaya cinta-Nya, mengembuskan kasih sayang-Nya, mengelus jiwa kita dengan pertolongan dan kuasa-Nya. Dengan cara-Nya, dengan rencana-Nya. Subhanallah..

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assaalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh.

 

12 September 2013

Satu memori, yang terjadi beberapa hari menjelang sidang (ujian skripsi).

Memori yang selalu ana kenang, ana syukuri.

babies

Semangat, Kakak! ^_^

So, kami yang hendak menjalani sidang diperintahkan mencetak draft skripsi sebanyak 3 rangkap (satu untuk dosbing ana yang keren, dua untuk tiap-tiap dosen penguji).  Kebetulan, kakak perempuan ana bekerja di kantor kementrian di Jakarta, alias ada printer sendiri untuk karyawan. Karena kondisi ekonomi yang “kebetulan” belum memihak mahasiswa, ana minta kakak mencetak skripsi ana dengan fasilitas di kantornya, untuk kemudian ana fotokopi.

Singkat cerita, kakak mengabari untuk mengambil hasil cetakan skripsi ke kantornya yang berada di Setiabudi (ana tinggal di Otista). Rapi-rapi dan penuh semangat ana berangkat sore itu, 12 September 2013, menumpangi angkot 44 ke Jalan Baru, kemudian menyambung perjalanan dengan kopaja 66 ke Setiabudi.

Hari itu, ana diajak makan di restoran (tentunya beliau yang traktir, hehe), lalu diajak jalan-jalan ke Matahari. Malamnya ana juga menginap di tempat beliau, menikmati wifi di kosnya, beliau juga memberi ana pakaian lengkap untuk ana kenakan di wisuda. Besok paginya, sebelum ana pulang ke kos ana dan berniat memfotokopi skripsi, kakak juga memberikan tambahan uang jajan.

Alhamdulillaah nyaman, semua lancar dan menyenangkan.

Lepas pamitan, ana berjalan menuju tempat kopaja mangkal.

Seharusnya, dengan tambahan uang jajan, ana mampu meriangkan hati. Tapi, langkah ana lesu, hati ana gundah. Ana malas naik kopaja, ingin naik Bus Transjakarta saja, walau kudu transit-transit di beberapa halte untuk sampai ke Otista. Macam ada kejanggalan yang ana tidak tahu apa, atau bagaimana, menahan ana untuk memilih naik kopaja.

Namun, kaki ana “keras kepala”, ana tetap menumpangi kopaja yang lewat. Di dalam kopaja pun ana melamun mikirin cara turun dari kopaja. Walau ana termasuk biasa menaiki kopaja (karena sering main ke tempat kakak), dan walau ana tahu harus kaki kiri duluan yang menginjak tanah, ana tetap resah memikirkan cara turun dari kendaraan yang nyaris tidak pernah berhenti itu.

Ketika roda-roda kopaja hampir sampai di depan Jalan Baru, ana bersiap turun.

Empty mind saat itu membuat melangkahkan kaki kanan ana ke muka jalan.

Ya, kaki kanan!

Entah kenapa ana menggunakan kaki kanan sebagai tumpuan.  Ana sempat hendak menukar kaki kanan dengan kaki kiri, tapi ana kalah cepat dengan kopaja. Tubuh ana belum seluruhnya keluar, eh kopaja yang tidak berhenti itu langsung ngebut! Mungkin supirnya mengira ana sudah turun.

Alhasil, kaki yang bingung melangkah itu kehilangan keseimbangan. Tubuh yang belum disuplai sarapan itu juga tidak bersedia jadi andalan. Belum lagi tiada tempat bagi tangan untuk berpegangan. Akhirnya dengan terpaksa tubuh ana pasrah akan keadaan terburuk yang mungkin segera terjadi.

Brak!

Ana jatuh.

Spontan ana panik menyelematkan diri. Tangan ana bersiap menjadi tumpuan.

Gagal.

Engsel kaki kanan ana terkilir karena entakan yang tiba-tiba. Siku kanan baju ana koyak, akibatnya tangan yang dibungkusnya turut luka. Map berisi cetakan skripsi pun terlempar dari tangan ana, laptop yang bersarang di backpack ana juga turut bertabrakan dengan aspal. Belum lagi rasa malu dilihatin orang-orang di jalan yang semakin memperparah perih yang ana rasa.

Yeah, that hurt bad.

Seorang bapak yang kebetulan menonton segera menghampiri, membantu ana berdiri dan duduk di trotoar. Beliau juga memberi ana minum. Ana menangis dan meringis kesakitan. Kaki ana serasa patah. Panas dan lecet. Siku ana juga berdarah. Padahal, hari itu ana harus memfotokopi, menjilid plus mengantarkan setiap draft ke setiap dosen. Pikiran ana langsung kalut, bagaimana ana menyelesaikan tugas-tugas itu dengan kondisi tubuh yang seperti itu?

More importantly, bagaimana jika kaki ana tak sembuh-sembuh?

Terus, ana gagal sidang?

Entah. Ana pasrah.

Dengan sisa kekuatan ana bangkit dari duduk, berpamit dan berterima kasih pada bapak yang menolong ana. Ana berjalan sambil menangis, seraya menunggu angkot 44 yang melintas.

ALLAH..

Ana bergumam. Pilu.

Kelu dan menyakitkan.

Tiba-tiba ana merasa sendiri, tak ada yang menolong. Tak ada yang tahu.

Angkot 44 lewat. Ana naik. Tapi belum sampai di Kampung Melayu si supir menyuruh ana turun di Stasiun Tebet, karena hanya ana sendiri penumpang yang tersisa. Padahal, susah amat mau turun-naik angkot dengan kaki pincang begitu.

Arrgh! Keluh ana lagi.

Bad.. This is bad..

Bad!

Ana menyeringai.

Tak satupun angkot 44 lain yang melintas. Nah, masak ana harus jalan kaki?! Geez, kaki nyeri begini harus jalan lagi?! Dan itu di bawah terik matahari pagi yang ganas dan panas amat. Mana belum sarapan.

Keluh. Tangis. Air mata ana tidak mau berhenti mengalir.

“… Dan ALLAH Maha Menyaksikan segala sesuatu.”

(Q.S. al-Mujaadilaah: 6)

Lanjut: Part 2.

One thought on “[Renungan] Ketika Engkau Merasa Sendiri#Part1

  1. Pingback: [Renungan] Ketika Engkau Merasa Sendiri#Part2 | Merajut Kata

Terima kasih atas komentar antum. :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s