[Renungan] Ketika Engkau Merasa Sendiri#Part2


Kalau belum baca: Part 1.

Namun, against all odds..

Di tengah perjalanan,

Ana tercengang, tertegun. Kaget dan menatap!

Mata ana terpaku ada seorang bapak yang salah satu kakinya tidak sempurna. Tumit kakinya bertempat di sisi depan kakinya; bukan di ujung belakang kaki. Tulang telapak kakinya berdiri tegak; bukan mendatar seperti kaki kita.

Ana bersepatu; beliau bertelanjang kaki. Ana dilindungi sepatu dan kaus kaki ana; beliau menginjak aspal yang panas di pagi yang terik. Belum sampai satu jam ana dapat musibah jatuh dari kopaja, ana sudah mengeluh berpanjangan. Namun, bapak itu terlihat sangat tabah dan tegar, meski entah sudah berapa lama beliau berkaki seperti itu.

Astaghfirullaah! Ana spontan berucap.

Ah, ALLAH..

Maha Cinta rupanya tengah menegur ana.

Serta-merta ana teringat dengan permintaan ana pada kakak untuk mencetakkan skripsi. Memang, rasanya normal-normal saja, seorang adik meminta tolong pada kakaknya. Tapi ana salah, karena itu tidak halal. Ana salah, karena memakai uang negara, yang bukan hak ana, hanya karena ana ingin hemat. Ana salah, karena melupakan itu.

Yaa Ghafuur..

Air mata yang belum kering kembali mengalir deras di pipi ana.

Ana terus berjalan, merenung, menangis, dan ber-istighfar sebanyak yang ana mampu. Mungkin, belakangan ini ana lupa bersyukur, maka ALLAH menegur ana. Mungkin, ana lupa pada-Nya, maka ALLAH menyapa ana agar ana kembali mengingat-Nya. Rabbiy..

 

putus asa

Every single detail of your life, including your sorrow, ALLAH knows ’em. He takes care of ’em, of you.

Kaki ana makin kesakitan dan membengkak.

Walau masih berlinangan air mata, ana tidak punya pilihan selain menyambung perjalanan dengan angkot 44 yang lain. Tiba di terminal Kampung Melayu, ana berjalan menuju kios fotokopian di dekat kampus.

Dan di tengah jalan,

Hati ana kembali digemuruhi oleh haru.

Ana melintasi sebuah balai kesehatan, melihat seorang nenek yang kira-kira berumur 70-80 tahun, duduk di kursi roda. Gemetar. Letih terukir di wajahnya. Ana tidak tahu sejak kapan beliau mengggunakan kursi roda, namun sekali lagi.. ALLAH melumuri ana dengan teguran-Nya, sungguh tidak pantas ana mengeluh hanya karena ana jatuh dari kopaja. Sementara orang lain, berdiri pun kadang tak mampu.

Ah, ana menangis lagi. Bukan karena kaki ana sakit, tapi karena haru mengetahui bahwa ALLAH benar-benar menyayangi ana. ALLAH memberi ana sakit fisik karena mungkin batin ana sedang sakit diserang skripsi. Ana terlalu sibuk mengejar-ngejar kelulusan sehingga lupa pada-Nya, lupa cara bersabar, lupa cara menahan air mata.

Ukhtiy, kadang kala dompet kita tipis betul, kita mengeluh. Kadang kala lelah badan bak mau rontok, kita mengeluh. Kadang kala panas penat mentari menyerang dengan ganas, kita mengeluh. Kadang kala orang lain lebih beruntung, kita mengeluh. Ya, memang sudah fitrah manusia menjadi pengeluh. Maka mereka yang mampu menjadi keluhan sebagai pantangan, sungguh subhanallaah..

Ana teringat, momen bahagia, Rabu, 18 September 2013, pukul 11.00-12.00, di ruang 321 STIS. Saat-saat ana menjalani sidang skripsi. Skripsi dengan judul “Pembangunan Mesin Pencari Statistik Berbasiskan Supervised Learning dan Relevant Feedback” akhirnya berhasil ana menangkan. Rupanya, ALLAH menghiasi masa-masa skripsi ana dengan pahit perjuangan dan perih kejatuhan, agar wisuda ana benar-benar manis dan menyenangkan, penuh kenangan.

Dan kini, ana sudah sarjana (wisuda 10 Oktober lalu). Kini, ana menuliskan sedikit kisah ana untuk antum baca. Saudariku, ana percaya, haqqul yaqin bahwa ALLAH tidak akan pernah menelantarkan kita. Walau kadang kita tertatih, sendiri dan tak ada teman, Ia tidak akan pernah menyia-nyiakan kita. Selemah apapun, sesakit apapun, selelah apapun kita, pertolongan ALLAH itu nyata. Janji ALLAH itu nyata. Kasih sayang ALLAH itu nyata.

Tak terasa bulir-bulir bening diam-diam mengucuri pangkuan ana. Ana yang sering mengeluh dan lalai ini, ALLAH tegur dengan jalan yang tak pernah mampu ana reka. Sungguh, demi ALLAH Yang Menguasai Hati, ALLAH kita benar-benar Maha Penyayang. Hanya kadang, kita lupa itu..

Dalam kebahagiaan yang melangit,

Kamar kosan

 

Nofriani

Rabu, 13 November 2013

“… Dan tiada sehelai daun pun yang gugur

melainkan Ia mengetahuinya (pula) ..”

[Q.S. al-An’aam: 59]

8 thoughts on “[Renungan] Ketika Engkau Merasa Sendiri#Part2

  1. Pingback: [Renungan] Ketika Engkau Merasa Sendiri#Part1 | Merajut Kata

  2. selamat ya kak dh di wisuda…sesudah kesulitan pasti ada kemudahan..
    Share aja ka, saya juga pernah jatuh dr angkot kronologinya jg hampir sama tp alhamdulillah gk knapa2.
    Syukran ka udah diingatkan kembali dr postingan nya 🙂

  3. Pingback: [Renungan] Keniscayaan Kesedihan Kita | Merajut Kata

Terima kasih atas komentar antum. :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s