[Renungan] Setengah Jutanya Allah#Part1


“Hidup dan makan dengan hasil keringat sendiri itu rasanya..

Tak tergambar. Tak terukur. Namun akan mengakar, akan mengukir..

beHappy();” [Safira, 2013]

 

Itu adalah sebuah status yang ana tulis di Facebook, 3 Desember 2013 lalu. Saat itu, ana baru saja menikmati gaji pertama ana sebagai tutor privat. Yah, memang tidak seberapa dibandingkan jika kelak, Insha Allah, ana menjadi PNS di BPS (ceritanya ana mengisi waktu sampai waktu magang tiba). Tapi ana bahagia dan bangga, karena sudah bisa hidup di atas kaki sendiri, tidak lagi di bawah TID (Tunjangan Ikatan Dinas) BPS, tidak lagi di bawah bantuan orang tua dan kakak perempuan ana.

Do your best to not relying to others, to stand on your own feet.

Do your best to not relying to others, to stand on your own feet.

Ngomong-ngomong, siswa-siswa yang ana ajar rata-rata berasal dari keluarga berada. Mereka tinggal di Kemang Apartement, Perumahan Ancol, Sunter, Depok, Tebet Barat Dalam, Tebet Utara, Duren Tiga, dan Penas Kalimalang. Jadwal mengajar ana juga hampir tiap hari, Sabtu-Minggu saja kadang masih ngajar.

Akibatnya, masalah yang biasa hinggap di perempuan itu terjadi juga pada ana; merasa kurang pakaian. Hehe. Ana kadang malu sih, sama siswa-siswa ana, jika tiap hari pakaian ana yang itu-itu saja. Maklum, selama kuliah di STIS, ana tidak perlu punya banyak baju karena kami kuliah dengan seragam (tidak seperti mahasiswa lain di PTN dan PTS).

“Verify Allah does not look to your faces and your wealth

but He looks to your heart and to your deeds.”

[Sahih Muslim]

Adapun, risleting depan tas ana juga sudah rusak karena mainan kuncinya ketarik-tarik ketika ana bersempit-himpit dengan penumpang lain di bus Transjakarta. Ana jahit tangan saja agar robeknya tidak bertambah besar. Telapak sepatu ana juga sudah lepas (dan itu lepasnya di tengah jalan),  karena dipakai tiap hari dan kadang sambil berlarian ketika hampir telat menuju rumah siswa. Jadi, juga harus ana ganti. Jujur, semua ana rasa perlu; tas, sepatu dan beberapa helai pakaian+jilbab, untuk keperluan ana mencari nafkah.

Dan alhamdulillaah, tadi pagi, sekitar pukul 09.30, ketika sedang mengajar siswa di Tebet, koordinator ana di perusahaan penyedia tutor privat (semacam lembaga les) mengirimkan pesan teks, menyampaikan kabar bahwa gaji ana bulan Desember lalu sudah ditransfer ke rekening (gaji bulan A ditransfer di bulan A+1).

“If ye are grateful, I will add more (favours) onto you;

But if ye show ingratitude, truly my punishment is terrible indeed.”

[Quran, Ibrahim: 7]

Alhamdulillaah. Ana riang, sama seperti bulan lalu ketika menerima gaji November. Pulang dari rumah siswa, ana bertasbih dan senyum-senyum di sepanjang jalan. Ana langsung teringat impian ana tadi; beli tas, sepatu dan beberapa helai baju+jilbab, juga menyedekahkan sebagian dari gaji ana.

Dari halte bus Pancoran Tugu, ana memulai perjalanan rencana shopping menuju BNN, terus transit ke Bidaracina, transit lagi ke Matraman, dan terakhir ke halte UNJ Rawamangun (depan toko muslim Raihan). Rencananya, ana hendak ambil uang dulu di kios ATM di UNJ.

Menuruni jembatan penyeberangan halte UNJ, ana masih berjalan girang dan senyum-senyum. Ana bersyukur dan tak henti merancang apa-apa saja yang hendak ana beli, yang harga berapa dan warna apa. Bismillaah, hari ini rencana ana akan berbelanja 500 ribu. Alias setengah juta. Cukup besar, ya? Rencana saja kok, hehe.. Dulu, di sini ana juga belanja segitu, untuk keperluan hijrah. Bedanya, dulu masih dengan uang tabungan TID+kiriman orang tua, sekarang sudah uang hasil sendiri.

Sesampainya di kios ATM gedung UNJ, ana mengeluarkan kartu ATM Bank Biru (anggaplah ada bank namanya Biru), dengan bangga dan masih tersenyum. Ana masukkan kartu ke mulut ATM, ketik PIN, kemudian cek saldo. Ah, alhamdulillaah, tabungan ana bertambah sekian rupiah.

Ana juga memfoto layar ATM yang menampilkan account balance information: Rp […]. Hehe, lucu, ya? Mungkin malah aneh. Tapi wajar sih, sebab ana riang betul. Karena uang itu, walau tak seberapa, lebih mampu bikin senyum daripada uang dengan jumlah yang lebih tapi dari kakak atau orang tua ana.

Klik, klik, klik.

Ana bidik foto tiga kali, tak lupa tangan ana nongol di depan layar ATM membentuk tanda peace, sebagai perpisahan dengan nominal uang yang akan segera berkurang setengah juta. Lepas berbangga ria ana menekan yes untuk Would you like to do another transaction?. Kemudian, ana tekan tombol di sebelah bilangan 500.000.

Mesin ATM diam tanpa respons, beberapa detik kemudian:

Your transaction is temporarily unavailable.”

Begitu kata layarnya. Kening ana mengernyit.

Ana coba sekali lagi, pesan yang sama muncul, kali ini ana terbaca kata “Sorry” di bagian atas.

Sorry. Your transaction is temporarily unavalilable.”

Ana nyerah, ana coba mesin ATM yang berada di sebelah kanan (di kios yang bersebelahan), kali ini milik Bank Hijau. Pesan yang sama tampil, “Your transaction is not available.” Ana langsung menuju ATM yang ada di paling kanan, milik Bank Biru Tua. Eh, pesan yang sama juga tampil.

OK, ana menghela napas.

Mau macam mana ana mau beli-beli kalau di tangan ana hanya ada cash sekitar 50 ribu? Ana juga tidak punya kartu kredit, jadi ana harus punya cash. Lantas mata ana berkeliaran mencari ATM terdekat lainnya. Beruntung, tampak berdiri kios ATM milik Bank Kuning di sisi lain gedung UNJ.

Kebetulan, ATM itu sedang digunakan orang, di luar juga sudah ada seorang mengantri. Cukup lama ana menunggu, mungkin sekitar 15 menit.

Tiba di dalam kios, ana memasukkan kartu ATM dan mencoba cek ulang saldo (ceritanya mau foto layarnya sekali lagi). Ana masukkan PIN, tekan tombol another transaction, terus account information, dan..

Astaghfirullah!

Ana menjerit dalam hati, mata ana terbelalak lebar-lebar dan jantung ana berdegup kencang. Saldo ana berkurang setengah juta tanpa selembar pun uang keluar dari 3 ATM yang ana kunjungi sebelumnya. Ana panik, ana cek berkali-kali saldo masih sama: berkurang 500 ribu.

Aduh, bagaimana ini?

Ana mencoba tenang. Akhirnya ana ambil saja lagi 500 ribu. Karena ana sudah jauh-jauh sampai UNJ untuk belanja, rugi kalau mau langsung pulang, mungkin ATM-nya lagi rusak saja.

Tenang, tenang. Ana menghibur diri.

Namun, lepas keluar dari kios ATM, ana tidak bisa tenang. Ana langsung balik lagi ke kios-kios yang tadi ana kunjungi, kalau-kalau tadi uangnya telat keluar dan ana gagal menyadarinya. Namun, di setiap kios tak ada satupun tanda-tanda uang ketinggalan. Lagipula ana juga yakin semua transaksi gagal dan uangnya tidak nongol di badan mesin.

OK, ana makin panik.

Ana berencana pulang ke Otista (dekat kos ana) untuk mengunjungi Bank Biru yang ada di sana. Namun, hari sudah menunjukkan pukul setengah dua, ana takut bank tutup sebelum ana sampai. Lantas ana berlarian menyapa polisi lalu lintas yang kebetulan ada di dekat situ. Buru-buru ana tanya di mana Bank Biru terdekat. Rupanya, kata Pak Polisinya, ana harus sambung busway/kopaja, melewati sekitar 3 halte untuk sampai ke sana.

Sesampai di halte Putera Rawamangun, ana berlarian pula menuju Bank Biru di seberang jalan. Itupun nyaris ketabrak mobil saking paniknya. Di dalam bank, ana menceritakan seluk beluk kejadian kehilangan itu secara tergesa-gesa dan sambil serak menahan tangis. Dengan mata yang berkaca-kaca ana memaparkan. Namun, against all odds, si mbak customer service malah menyuruh ana telepon call center-nya Bank Biru, katanya tidak bisa mengembalikan saldo dari bank itu langsung.

OK, ana kecewa.

Lanjut? Part 2 (end).

4 thoughts on “[Renungan] Setengah Jutanya Allah#Part1

  1. Pingback: [Renungan] Setengah Jutanya Allah#Part2 | Merajut Kata

  2. Pingback: [Renungan] Keniscayaan Kesedihan Kita | Merajut Kata

Terima kasih atas komentar antum. :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s