[Renungan] Setengah Jutanya Allah#Part2


Kalau belum baca: Part 1.

Langsung ana keluar menuju teras bank. Dengan sisa pulsa 37 ribu, ana menelepon nomor call center. Di seberang, Mas Operator cakap macam-macam, “Nomor ATM-nya berapa Bu Nofri?”, “Bisa diceritakan apa keluhannya, Bu Nofri?”, “Sebentar, Bu Nofri, kami alihkan ke petugas perbankan kami.”, “Sebentar, Bu Nofri, mohon tunggu satu menit,”, “Bu Nofri bisa bantu klarifikasi data-datanya? Nama? Tanggal lahir? Nama ibu kandung? Alamat? Nomor yang bisa dihubungi?” de el el. Tidak lupa pula dihiasi dengan kejujuran bahwa balance (saldo nasabah) belum tentu dapat di­-restored.

“Ibu Nofri, mohon tunggu satu menit, kami akan buatkan nomor pengaduannya.”

Ana menunggu.

“Ibu Nofri, terima kasih telah menunggu, kami … .”

Bip bip.

Telepon putus. Di saat genting pula. Ana coba telepon ulang. Dan benar, operator IM3 di berceramah “Sisa pulsa Anda tidak cukup untuk melakukan panggilan ini.”

OK, ana mulai kesal.

Tanpa pikir-pikir langsung ana berkeliaran mencari kios pulsa. Alhamdulillaah, ketemu. Ana isi lagi 25 ribu. Telepon lagi. Tapi, yang mengangkat di seberang orang yang berbeda. Akibatnya, ana ditanyai hal-hal yang sama, mulai dari nomor ATM sampai permintaan menunggu pembuatan nomor pengaduan.

Lalu,

Bip bip.

Telepon putus lagi. Pulsa 25+37 = 62 ribu ana habis dalam waktu 15 menit. Tepat sesaat setelah Mbak Operator meminta ana untuk tunggu satu menit pembuatan nomor pengaduan.

Beberapa saat, ana geming saja, memandangi HP kesayangan.

OK, ana akui. Ana sedih, sedih sekali.

Air mata ana langsung membanjir tanpa peringatan.

Ana menangis bukan hanya karena kegagalan mesin-mesin ATM di gedung UNJ itu (kecuali Bank Kuning). Bukan hanya karena mas dan mbak operator yang terlalu banyak cakap dan tanya sehingga membuang pulsa ana. Melainkan, ana menangis karena teringat betapa beratnya perjuangan ana untuk mendapatkan nominal gaji yang baru saja ditransfer tadi pagi..

Otak ana langsung berpacu menggali memori selama dua bulan ini.

Ana teringat, ketika vertigo ana kambuh di tengah perjalanan dari rumah siswa yang satu ke rumah siswa yang lain. Ana terngiang, saat demam ana masih berangkat ngajar, mengerjakan order-an terjemahan sampai larut. Ana terbayang, saat ana berhimpit-himpit ria dalam bus Transjakarta yang mampu ditumpangi nyaris 200 orang itu. Ana terpikir, pukul sepuluh malam ana masih di bus karena terjebak macet dan jauhnya rumah siswa-siswa ana.

Ana teringat, ketika ana tidak sempat sarapan atau makan siang karena dalam sehari ana bisa mengajar di tiga tempat berbeda. Dan ana teringat, perjuangan ana ingin menjadi anak yang tidak merepotkan orang tua. Anak yang mandiri, gadis yang mandiri, dan Insha Allah, kelak, istri+ibu yang mandiri pula.

Namun kini, 10 lembar uang biru-biru itu telah raib tanpa sempat ana nikmati wanginya.

Air mata ana masih mengucur.

Ana malu sebenarnya, menangis di tempat umum. Sendirian pula. Namun tangis ana tak bisa terbendung seperti biasa. Ana juga sedang tidak shalat sehingga tidak bisa mengadu di masjid terdekat. Hasilnya, ana hanya bisa pasrah dengan perasaan ana.

Dalam tangis, ana merenung.

Yaa Rahiim..

Harus ana urungkan niat ana untuk beli tas dan sepatu baru. Harus ana urungkan niat ana untuk menabung di “simpanan rahasia”. Harus ana urungkan pula, rencana-rencana ana untuk menikmati hasil keringat ana.

Akhirnya, yang ana lakukan adalah meng-sms kakak ana; minta ditelepon (habis pulsa).

Di telepon, ana menangis.

Entah kenapa, beliau tertawa ketika ana bercerita pulsa ana habis dua kali dalam masing-masing 5 menit itu. Namun, beliau bilang begini,

“Itu yang crash mesin ATM-nya, bukan bank-nya.”

Ana diam.

“Udah, diikhlaskan saja.”

Ana diam juga.

“Kalau memang rezekimu uang itu bakal balik lagi.”

Ana masih diam, tapi sambil berpikir. Seraya menarik napas panjang dan menghelanya panjang-panjang. Ana hanya jawab,

Iyo, Yuk..” [Iya, Kak..]

Lepas telepon, ana masih menangis. Sebab antum semua tahu, uang setengah juta itu termasuk besar, sekitar 25% dari total gaji pokok PNS biasa. Hanya satu menit rupanya, ana boleh beriang hati melihat saldo tabungan ana, dan menyempatkan berfoto dengan tampilan layar ATM. Kerianghatian itu harus pudar, digantikan oleh air terjun Niagara di pipi ana.

Sakit itu.. Penghapus dosa..

Sakit itu.. Penghapus dosa..

Betul. Hari ini ana belajar banyak.

Ana belajar, bahwa memang, hidup dan makan dengan hasil keringat sendiri itu benar-benar membanggakan. Namun, kehilangan uang hasil berpeluhan itu lebih menyakitkan daripada kehilangan uang hasil menabungi pemberian orang tua. Sungguh.

Ana belajar, mungkin, Allah menegur ana karena ana terlalu sibuk cari uang. Sampai mungkin, sedekah ana, kurang. Allah menegur ana karena ana terlalu cengeng, lalu Ia kuatkan ana dengan cobaan-Nya. Allah menegur ana karena ana manja, lalu Ia kuatkan ana dengan musibah.

Ana belajar, mungkin, suatu saat nanti, ketika ana telah menjadi istri seseorang (aamiin ^^), dan kemudian menjadi ibu beberapa anak (aamiin lagi v^^), ada cobaan yang lebih berat daripada ini. Jika ana tak bisa kuat untuk 500 ribu saja, bagaimana ana bisa menjadi istri dan ibu yang baik jika kelak keluarga kami tertimpa musibah besar? (Allah, hamba bukan minta musibah, hanya introspeksi diri).

“There is no Muslim that is afflicted with a calamity,

Allah will give him something better to replace it.”

[Narrated by Muslim, Abu Dawud, Tirmidhi]

Ana belajar, adalah keniscayaan, bahwa semua yang ada di dunia ini hanya milik Allah. Mulai dari uang kita, pakaian kita, waktu kita, air mata kita, kekuatan kita, kesehatan kita, jodoh kita, cinta kita, iman kita, sampai sebutir sel eritrosit pun ialah milik Allah saja. Kita, hamba yang lemah tanpa Tuhannya ini, hanya dititipi. Allah bisa kapan saja mengambil titipan itu. Dan bagi ana, Allah bisa ambil kapan saja titipan setengah juta-Nya, walau ana mungkin tidak siap untuk mengikhlaskan.

Ana belajar, bahwa jika kita mau memahami cobaan hidup dengan bijak, maka sesungguhnya ia adalah bentuk nyata kasih sayang Allah karena kerinduan-Nya akan jeritan hamba-Nya menyebut nama-Nya. Apapun itu, susah kah, senang kah, selagi ada iman di hati kita, maka percayalah, adalah keniscayaan semua dari-Nya, milik-Nya, dan akan kembali pada-Nya.

Because everything you refer as “mine” is essentially all His.

Because Allah always gives more than He takes.

Because Allah cares for you, and at times,

He provides you with ways to remember Him. 🙂

Jakarta, Senin, 06 Januari 2014

Dalam haribaan kasih sayang-Nya

 

 

If you’re going through something difficult,

then know that Allah is not abandoning you.

Allah has never, does never, and will never ever does leave you alone..

 

5 thoughts on “[Renungan] Setengah Jutanya Allah#Part2

  1. Pingback: [Renungan] Setengah Jutanya Allah#Part1 | Merajut Kata

  2. Pada “pukulan” pertama seseorang tertimpa musibah, lalu ia berkata: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un dan berdoa: Allahuma jurnii fi musibatii wakhluf liya khairan minhaa (Ya Allah berilah aku pahala dalam musibah ini dan gantikanlah untukku dengan yang lebih baik daripadanya). Niscaya Allah akan memberinya pahala karena musibah itu dan menggantikan untuknya dengan yang lebih baik” (HR Muslim 2/632).

    Setidaknya, hikmah diturunkan-Nya musibah kepada umat muslim, tak lain sebagai kafarat (pelebur) dosa, agar menghadap Allah swt dengan suci. Mengganti musibah dengan pahala. Bukankah, Al Quran sudah mengajarkan, “Orang-orang yang apabila tertimpa musibah mereka mengatakan: “inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (Sesungguhnya kami ini milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya). Mereka itu mendapatkan shalawat (pujian) dan rahmah. Merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah 156-157).

Terima kasih atas komentar antum. :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s