[Renungan] Keniscayaan Kesedihan Kita


                قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ      

“Katakanlah, ‘Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu

atau kamu melahirkannya,

pasti Allah mengetahui’.” [Q.S. Ali Imran: 29]

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Barusan, ana melihat-lihat arsip tulisan-tulisan ana di blog kesayangan. Sejarahnya, Juli 2010, ana memulai perjalanan ana merajut kata, hingga akhirnya writing has been a place I can escape to. Dan sejak Oktober 2010, ana menjalaninya dengan peluh dan perjuangan beristikamah. Ada banyak cerita yang telah ana toreh, mulai dari kisah sedih, mempertahankan hijab, ana yang kehilangan uang, ana jatuh dari kopaja, ana menanti jodoh, vertigo, dan seterusnya. Dan seterusnya.

Jika ana telaah lagi; sepertinya, banyaaak sekali tulisan ana yang membahas soal jodoh dan kesedihan. Entah itu kesabaran dalam penantian, jika kita jatuh cinta, kekotoran hati, merasa tidak cantik, susahnya memaafkan, maupun hati yang angkuh melampaui derajat kuasa manusia.

Dan sepertinya pula, diri ana pribadi, tidak bisa lepas dari yang namanya sedih, rapuh, lelah, futur, jenuh, tangis, entah apalah namanya. Entah, apa mungkin ana gagal menata hati, walau sudah empat tahun ana merajut kata-kata motivasi berlandaskan dakwah. Tapi, ana kira antum mengakui, bahwa paling tidak, dalam satu atau dua bulan, ada masa antum harus ragu dan menangis (atau paling tidak bersedih, bagi laki-laki).

Ya. Betul, Saudaraku.

Hidup ini macam kurva sinus dan kosinus (gelombang transversal). Ada saatnya kebahagiaan kita melangit di angka maksimum, saat kita berada pada puncak kedamaian hari. Ada saatnya kita berada di garis Y=0, saat kita merasa biasa saja, mungkin sedikit bosan. Ada saatnya kita berada pada lembah kelam beralaskan kepiluan. Dan, ada saatnya kita sendirian di lembah itu, tanpa satu tangan pun datang menjemput kita. (By the way ini teori ana saja. Hehe.)

Pilu dalam kesedihan bisa disebabkan oleh kita yang merasa tak punya teman, kita yang jenuh dengan rutinitas sehari-hari, kita yang sering dimarahi orang tua, kita yang ingin menikah tapi jodoh belum sampai-sampai, kita yang disalahkan ketika menjadi pihak yang teraniaya, atau sekadar kita yang baru dapat nilai jelek di ujian matematika. Macam-macam sebab sedih. Macam-macam juga cara kita memendam kesedihan itu.

Namun, satu hal yang pasti, parasit kesedihan itu akan selalu mencari inang untuk disinggahi. Tak peduli dengan kenyataan bahwa tak ada satu orang pun yang dengan senang hati mau tenggelam lama-lama dalam kesedihan. Walau mungkin, banyak di antara kita yang tak kunjung sanggup meraih permukaan kesyukuran, mengukirkan busur senyum di wajah kita.

Teori ana, kesedihan itu macam flu. Dengan menelan obat, sebenarnya kita tidak membunuh penyakit flu, tetapi membentuk antibodi terhadap jenis virus yang sedang merasuk. Dan jika ada virus baru yang menyerang dan tubuh kita belum memiliki antibodinya, atau antibodi tengah melemah, kita akan kembali terserang flu. Cuaca dingin, sedang demam, kehujanan, sedang kurang gizi juga bisa memicu flu. Bahkan, flu juga bisa menular jika sistem imun tubuh kita kurang tangguh.

Begitu juga dengan kesedihan. Obat yang kita “konsumsi”, misalnya tilawah, tidak selalu dapat membuat kita berbahagia selamanya. Kesedihan bisa datang lewat bermacam jalan, terutama ketika kita sedang lengah. Misal, kita lupa baca mushaf dalam sehari atau dua hari, antibodi hati terhadap virus kesedihan bisa melemah. Atau, ada sebab kesedihan baru yang belum ada antibodinya di hati kita. Karenanya, kita bisa sedih lagi. Sedih juga bisa merasuk ketika kita telat shalat, kurang sedekah, kurang bersyukur, atau ada percikan kesedihan orang lain yang menerobos pertahanan kita.

Jadi.. Kesedihan itu pasti. Itu fitrah kita. Bukan kuasa kita untuk mampu selalu berbahagia. Bukan kuasa kita untuk mampu membuat hidup berjalan mulus seperti di film-film. Bukan kuasa kita, untuk meneriakkan pada dunia, layaknya di negeri dongeng, “Mereka hidup abadi dan berbahagia selama-lamanya.” Yang bisa kita lakukan adalah berusaha sekuatnya untuk melawan tanda dan sebab kesedihan, serta tabah berobat (baca: sabar dalam futur) ketika kesedihan itu datang.

Ikhwah fillah, ana tidak sedang memprovokasi antum untuk bersedih berjemaah. Ana hanya mengingatkan; kalau-kalau antum tengah futur, ingat, kita tidak sendiri. Paling tidak, dalam radius 1 km, ada seonggok tubuh lain yang tengah menangis dalam pilu, mungkin lebih parah daripada kita karena ujiannya lebih berat. Jadi, jangan pernah sekali pun merasa bahwa kita adalah makhluk paling sial di seluruh penjuru bumi-Nya. Jangan pernah.

Toh, bukan hanya kita yang bisa sedih, Rasulullaah saja pernah bersedih. Bukan hanya kita yang menangis sendiri kala tahajud di dini hari. Bukan hanya kita yang tidak memiliki teman untuk disandari bahunya. Bukan hanya kita yang sedang ditimpa kesusahan. Dan bukan hanya itu, ketahuilah bahwa Allah, Tuhan kita Yang Mahacinta, mendatangkan kesedihan tidak lain karena Ia sayang kita.

“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa,

hamba yang hatinya selalu merasa cukup

dan yang suka mengasingkan diri.” [H.R. Muslim No. 2965]

Ana rasa, antum sudah pernah dengar, bahwa susah itu ujian keimanan, senang itu juga ujian keimanan. Banyak orang gagal dalam ujian kesusahan, misalnya mereka yang menyalahkan takdir. Namun, lebih banyak lagi orang gagal dalam ujian kenikmatan, lupa pada kodrat sebagai manusia lemah yang tidak akan mampu membalikkan telapak tangannya jika Allah melupakannya.

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

[Q.S. al-Insyirah: 5-6]

Beginilah hidup, tidak semua yang kita impikan akan jadi kenyataan. Tidak semua yang kita harap mampu kita raih dengan mudah. Tidak setiap hari kita bahagia dan riang hati. Tidak setiap malam kita mampu tidur tenang dengan perut kenyang. Tidak setiap kita diberi limpahan harta dan kemewahan. Karena Allah sayang kita, ia beri ujian hidup sesuai dengan tingkatan iman kita.

True. Because something beautiful doesn’t always come easy.

Usah kita risau ketika kita harus rapuh, gagal, sendiri, miskin, lemah atau apapun kondisi yang tampaknya tidak sudi memihak kita. Macam orang bilang, bahwa mereka yang terus menerus gagal masih lebih mulia daripada mereka yang tidak pernah mau mencoba. Seperti kata Nabi tampan Yusuf dalam Yusuf ke-33, “… Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku…”. Seperti firman Allah dalam sebuah Hadits Qudsi, “Pergilah pada hambaku lalu timpakanlah berbagai ujian padanya kerana Aku ingin mendengar rintihannya.” [HR.Thabrani dari Abu Umamah]

Mungkin.. Allah sedang rindu pada rintihan kita yang dulu sering, sekarang mulai menjarang. Mungkin.. Allah sedang rindu panggilan sayang kita pada-Nya yang mulai memudar ditelan kesibukan. Mungkin, sudah jarang sekali kita mengingat-Nya karena sibuk dengan maksiat. Mungkin, di saat itulah Allah tunjukkan kerinduan-Nya lewat cobaan dan ujian untuk menegur kita, ingin didengar-Nya kembali rintihan kita yang manja mengadu pada-Nya.

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

 “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka

menjadi tenteram dengan mengingat ALLAH, ingatlah hanya dengan

mengingat ALLAH-lah hati menjadi tenteram.” [Q.S. ar-Ra’d: 28]

Maka, Saudaraku, jangan sampai kita gagal menggubris kerinduan Allah pada kita. Jangan sampai cobaan yang ditaburkan malah membuat kita mendustai keberadaan-Nya. Misal, saat kita diuji dengan kelaparan beberapa menit, jangan sampai kita lupa mengingat-Nya atas rezeki yang telah Ia berikan sebelumnya (ayo makan dulu, hehe). Saat kita diberi limpahan harta yang memadai, jangan sampai kita lupa mengingat-Nya, yang tanpa-Nya tak sepeser pun uang kita miliki (mari sedekah).

Saudaraku, jangan biarkan hati kita gersang oleh pilunya hidup. Jadikan ujian-ujian hidup kita sebagai pemantik semangat kita mengingat Allah. Jika kita mengaku cinta Allah, sudah sepantasnya kita membuat-Nya senang dan sayang kita juga, dengan mengingat-Nya, dengan bergantung hanya pada-Nya.

Ini hadits penutup tulisan ana hari ini:

“Barangsiapa yang menutut ilmu yang sebenarnya harus ditujukan hanya untuk mengharap wajah Allah, namun ia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan materi duniawi, maka ia tidak akan pernah mencium bau surga pada hari kiamat nanti.” [H.R. Abu Dawud dan Ibn Majah]

 

Rabu, 12 Februari 2014

Kamar kos-kosan

Di sela-sela istirahat mengajar

Semangat, Ukhtiy..

Semangat, Ukhtiy..

11 thoughts on “[Renungan] Keniscayaan Kesedihan Kita

  1. Subhanalloh Ukh Fi.. luar biasa, ane sampe berkaca2 baca nya, ga nyangka sekelas sama seorang penulis yang inspiratif sprt ukhti, barokalloh ya 🙂 sukses selalu..

Terima kasih atas komentar antum. :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s