[Cerita + Renungan] Mengapa Memilih Menulis?


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

WARNING: Tulisan ini mungkin kurang berbobot dibandingkan tulisan-tulisan ana lainnya, ‘afwan.

Okay, let’s get to the point.

Jadi, Kamis, 28 Agustus lalu, ada pesan masuk ke Facebook ana, yang basically menuntut ana untuk berhenti menulis buku (novel), menyebarkannya, mempromosikan, dan seterusnya.. Dan seterusnya.. Berikut cuplikan dari pesan—panjang lebar—seorang ikhwan yang sama sekali tidak ana kenal:

Don't get too affected by negative comments, Ukhtiy..

Don’t get too affected by negative comments, Ukhtiy..

Perempuan mana yang tidak menangis jika dihujat seperti itu? Tulisan tidak berbobot, hanya tahu oret-oretan, tidak punya modal ilmu—sama sekali, kriminal yang jahat, berlumur kesalahan, memberi pengarahan hidup yang salah, tidak bernilai kebaikan, lantas terjatuh dan tertimpa dinding. (But in all seriousness, tadi saat meng-screenshot pesan di atas, ana lihat FB-nya sudah tidak aktif. So like, what?)

Itu memang bukan negative comment pertama yang ana dapat. Sebelumnya ana pernah dibilang tidak berilmu, lebay, menyombongkan diri dengan bahasa Inggris, membesar-besarkan hal kecil, dst. Bahkan, seorang akhwat pernah berkata langsung di depan muka ana, “Aku benci sama kamu, Fi.”

Jadi bisa dibilang, I am sort of used to it now. So I should not even care about that terrible message.

Tapi, ana akui. Ana menangis membacanya, di detik pertama usai membaca.

Entah bagaimana dan kenapa, pesan si ikhwan memaksa ana merenung berkepanjangan. Apa karena ana merasa dia benar, bahwa ana tak lebih dari tong kosong. Apa karena memang karya-karya ana tak berbobot, atau ana memang kriminal jahat berlumur kesalahan. Entahlah, ana tidak tahu apa yang ana pikirkan. Yang jelas, ana tengah terjebak dalam situasi yang orang sebut pushed back into a corner.

Jika sedang kepikiran hal-hal semacam ini, ana bisa brainstorming sendirian tanpa tahu ujung, awal, tepi atau titik tengah pikiran ana. Pikiran itu membuat ana lupa pada semua kenangan manis dalam dunia kepenulisan. Semuanya seakan lenyap serentak sesaat ana baca pesan dari si ikhwan.

Entah bagaimana ana bisa lupa, bahwa telah banyak pembaca yang kirim private message, yang komentar di blog ini, yang share tulisan-tulisan ana, yang add di Facebook, atau follow di Twitter, termasuk yang memperkenalkan diri sebagai “fans”, menilai tulisan ana sebagai teko yang mampu menyirami taman hati yang tengah gersang. Pun, tidak sedikit di antara mereka yang berterima kasih dan menganggap tulisan ana telah mengubah hidup mereka.

Dan itu, hanya karena tulisan, satu dari sedikit hal yang ana punya.

Ana tidak tahu kenapa para pembaca sampai seperti itu. Mulai dari pembaca blog, novel, status atau catatan lain, menunjukkan respons positif dan perubahan yang positif pula. Walau Juli 2010 lalu, saat mulai menulis, ana tidak menebak—sama sekali—bahwa blog ini kini menjadi inspirasi. Ana tidak pernah menerka how big it could be, hingga akhirnya lahirlah novel “Ku Melangkah dengan Bismillah..”.

Dan ana juga tidak tahu, kenapa ana peduli amat dengan komentar si ikhwan. Orang yang ana tidak kenal—apalagi cinta, yang tiba-tiba saja hadir merusak hari-hari ana, yang meluncurkan kata-kata yang merendahkan ana. Yang mungkin tidak sadar bahwa kalimatnya adalah pedang yang bisa saja kembali menyerangnya.


Namun, Saudaraku.. Selalu ada yang manis dalam setiap taburan derita hidup.

Begitu pun kisah ana dengan si ikhwan. Tidak seharusnya ana tenggelam dalam pikiran yang hanya menekan kinerja ana. Sebab selalu ada yang manis yang bisa kita sikapi dalam setiap cercah ujian hidup. Tidak seharusnya kita peduli dengan komentar-komentar masam yang berusaha menyerang semangat kita. Tak usah terlalu peduli. Kita hanya perlu ambil manisnya, ambil baiknya.

“Tiada lurus iman seorang hamba sehingga lurus hatinya,

dan tiada lurus hatinya sehingga lurus lidahnya.” [H.R. Ahmad]

Misal, seperti kisah ana, dari message yang si ikhwan kirim, setidaknya ana lebih belajar bercermin dan muhasabah, belajar lebih banyak tentang Islam, lebih kuat menghadapi para haters, dan lebih banyak memberi manfaat bagi para pembaca tersayang. Insha Allah (doakan).

Saudaraku yang dirahmati Allah.. Tinggalkanlah hal-hal yang hanya menyakiti kita. Tidak ada gunanya memendam kedengkian pada sesama kita.

Toh, yang paling penting adalah nama baik kita di hadapan Allah.

Bukan di hadapan dunia, bukan di hadapan manusia.


Anyway, ana sempat bercerita pada tiga orang teman. Ketiganya berkomentar kira-kira begini:

Fi.. Memang begitu risiko jadi orang terkenal..” (kalimat yang singkat, dalem. Makasih ya, Ukh.)

Saya juga dulu pernah diinbok kata-kata pedas, Fi. Tidak perlu takut. Karena menyampaikan kebenaran itu tidak mesti harus jadi ustad. Siapa pun bisa menyampaikan kebenaran walau satu ayat. Jangan gentar. Ini dakwahmu lewat novel Islam. Dia hanya orang yang tidak mampu, untuk menjadi seperti kamu. Hanya orang dengki yang tidak bisa apa-apa. Kalau tidak ada penulis seperti kamu, siapa lagi remaja yang peduli agamanya. Kamu maju terus. SEMANGAT FI. OKE? JANJI? Semangat ya?” (Terima kasih, Kak)

Menulis itu sodaqoh jariyah. Jika tulisan itu bisa membuat orang berubah menjadi lebih baik, pahalanya untuk kita, Fi. Dan akan terus berlanjut hingga ke liang lahat. Menulis itu juga gak perlu ilmu yang banyak atau cukup. Tahu Tere Liye, kan? Gimana karyanya? Banyak dibaca orang, memotivasi mereka untuk berubah. Padahal yang ia ajarkan sepele; arti memiliki, arti bahagia, arti bersabar dan bagaimana hidup bisa bermanfaat. Sepele sekali dasar ilmunya, tapi bisa memotivasi dan membuat banyak orang mau berubah menjadi orang baik.” (Makasih banyak, ya. Berbekas kata-katanya)

 

Ah, Maasha Allah.. Indah nian memiliki sahabat, betul?

Jadi, Saudaraku, ana menulis ini bukan agar antum mengasihani ana dan berjanji dalam hati untuk tidak asal ngomong kepada siapa saja. Bukan pula karena ana ingin pamer apalagi mempertontonkan ke-aku-an ana pada antum sekalian. Sungguh, tidak ada prestasi yang pantas ana banggakan saat ini. Namun ana tidak menagih simpati, apalagi selfpity.

Alasan ana menulis; entah itu blog, novel, atau apa saja; sebenarnya sederhana.

Sejak beberapa tahun yang lalu, ana sadar, ana tidak punya kemampuan dakwah selain menulis. Toh hingga detik ini, ana tidak sering dipake sebagai pemegang amanah dakwah, apalagi terkait hal-hal yang sifatnya amniyyah. Ana tidak cerdas atau hebat seperti mereka yang aktif superduper di lahan dakwah dan penegakan Islam. Ana tidak bakat organisasi atau dakwah besar-besaran seperti kebanyakan orang.

Tapi, selain menulis membuat ana merasa punya teman cerita.. Selain menulis membantu ana menerbangkan sekelebat beban di kepala ana.. Ana ingin, setidaknya ana masih berguna untuk Islam, walau hanya dengan kata-kata. Ana ingin, jika ana sudah tiada, tulisan ana menjadi syafaat bagi ana di akhirat kelak. Ana ingin, walau hanya dengan menulis, ana masih boleh menjadi bagian dari kejayaan Islam. Walau betul, ana sadar, kontribusi ana tidak seberapa dibandingkan mereka..

“Dan hendaklah di antara kalian ada sekelompok yang menyeru kepada kebaikan dan

memerintahkan yang ma’ruf serta melarang yang mungkar.

Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” [Q.S. Ali ‘Imran: 104]

Maka bagi prajurit Allah, adakah yang lebih indah daripada janji surga sebagai hadiah keletihan?

Salahkan ana, jika ingin menjadi bagian dari kalian, Duhai Para Perindu Surga?

Walau mungkin, ana hanya seorang penulis?

Entahlah. Ana tak tahu. Wallahu a’lam.

Memang, ana senang bukan kepalang jika karya ana dibaca orang. Tapi ana jauh lebih senang jika karya ana itu, baik blog maupun novel, mampu memberikan manfaat, meninggalkan bekas di hati setiap pembaca, atau bahkan menjadi jalan hidayah bagi mereka untuk menuju pedoman hidup yang paling baik; Islam.

Ya, betul, ilmu ana masih jauh di bawah kurang.. Jauh sekali..

Maka.. Ana hanya bisa berdoa. Bahwa kalau memang jalan yang ana tempuh ini salah, biarlah Allah gagalkan usaha-usaha ana untuk mencari tempat di jannah-Nya, dengan mengajak dan mendakwahi saudara seiman di seluruh Indonesia. Namun, jika ini jalan yang diridhai-Nya, hanya kepada Allah lah ana berlindung. Berlindung dari kegagalan. Berlindung dari rasa rendah diri. Berlindung dari ke-aku-an.

Berlindung pada-Nya, hanya pada-Nya.

Saudaraku, usah kita risau dengan komentar pahit orang yang hanya ingin mengusik perjuangan dan keberhasilan kita. Tak usah kita gamang jika ada yang benci kita dan hal-hal yang kita lakukan. Selagi itu benar, selagi itu memberi manfaat.. Kenapa kita harus rapuh?

Bukan komentar dunia yang menentukan derajat kita.

Bukan komentar para haters yang kelak menghancurkan kita.

Sebab hanya Allah lah yang berhak menentukan posisi kita nantinya.

Hanya Allah. Hanya Allah… Hanya Allah saja..

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati,

padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya),

jika kamu orang-orang yang beriman.” [Q.S. Ali ‘Imran: 139]

Jakarta, kamar kos-kosan

Rabu, 3 September 2014

Kala Maghrib hendak singgah

-Safira Khansa-

SIDENOTE:

To Mr. Sender: I don’t know you, and I don’t want to. I don’t hate you, and I never will. But thank you for your message, I’ll try harder and harder. And I’ll never give up. So, just thank you.

13 thoughts on “[Cerita + Renungan] Mengapa Memilih Menulis?

  1. kak .. yang sabar ya … terkadang ada manusia yang bisa sepenuhnya berdakwah layaknya ustadzah, tapi kdang ada yang nggak. kaya saya, sya orgnya senang bercanda, walau latar belakang pendidikan agama, rasanya susah berdakwah layaknya ustadzah karena ilmu yg saya miliki sedikit, bahkan saya lebih nyaman lewat tulisan, karena kadang disana saya bisa menyelipkan satu atau dua ilmu yg bisa saya bagi, selain itu, novel Perempuan suci yg pertama kali saya baca boleh dibilang punya sisi negatif, karena mengajarkan seseorang membangkang pada ortunya dg mematikan seorang wanita yg dulu ceria mmenjadi pendiam, tapi saya merasa disana diselipkan bagaimana perjuangannya agar terbiasa dg kehidupan barunya bahkan menjadi wanita yg lebih mengenal dengan agamanya. bahkan saya lebih senang membaca cerita novel yg ada unsur islaminya, walau seharian akan saya sanggupi menyelesaikan karena ada konflik yg membuat urat menjadi tegang saat kantuk melanda, heee
    jangan takut kak, selama yg kita sajikan akhirnya dalam kebaikan …

  2. Salam.
    Saya setuju dengan komentar nomer tiga, “Menulis itu sodaqoh jariyah. Jika tulisan itu bisa membuat orang berubah menjadi lebih baik, pahalanya untuk kita, Fi. Dan akan terus berlanjut hingga ke liang lahat. Menulis itu juga gak perlu ilmu yang banyak atau cukup.”

    Kata Rasulullah, Ballighu ‘anni walau ayah. Kalau dia bilang banyak buku klasik milik para ulama yang isinya lebih baik, betul. Tapi untuk membacanya saja sudah susah apalagi memahaminya. Nah, buku yang kita tulis, saat bisa menjabarkan sedikit saja sesuai dengan pengalaman dan pemahaman yang kita miliki, kemudian membuat orang lain merasa termotivasi, tercerahkan, terobati, itu artinya karya tersebut sudah sangat berharga.

    Teruslah berjuang saudariku! Lakukan sesuai dengan bidang yang kita mampu, kebaikan tidak akan terlepas dari ujian, maka jadilah setegar karang, tetap tegak walau diterjang ombak.

    Tahukah Anti, bahwa buku-buku Anti yang sudah terbit menggugah saya membuka-buka file lama untuk menyelesaikan draft-draft buku yang dari dulu tidak jua selesai. Dari sini saja sudah ada bukti apa yang kau lakukan bermanfaat bagi orang lain.

    Orang lain banyak menulis buku untuk menghancurkan Islam dan pemeluknya begitu semangat dan didukung, Maka, jika bukumu isinya membela Islam, mensosialisasikan ajarannya, menggugah para pemeluknya, maka kenapa harus terhenti dengan satu kerikil tajam yang bisa dengan mudah engkau singkirkan!

    Keep writting!

  3. kak, Rosululloh SAW adalah seorang ‘uswatun hasanah’ suri tauladan yang baik bagi kita semua umatnya, namun, masih saja banyak yang tidak suka dengan Beliau, bahkan sampai ada yang melempari Beliau dengan kotoran hewan dalam menyebarkan agama Allah, namun begitu Beliau tetap sabar, dan terus mendoakan, memohonkan ampun atas perbuatannya.
    Meski demikian Beliau tidak pernah menyerah dalam berdakwah, justru dengan kelembutan sikap Beliau yang seperti ini banyak yang akhirnya masuk islam, apalagi kita manusia biasa yang sudah pasti banyak kekurangan, banyak kesalahan, dan banyak dosa, pasti lebih banyak yang tidak suka dengan kita, jadi tetaplah berdakwah kak dengan cara kakak sendiri, itu hanya ujian dari Allah, Allah ingin melihat seberapa kuat diri kita dalam berjuang menegakkan agama-Nya.

    Afwan jika ada kata2 saya yang kurang berkenan kak,,

    (dari pembaca rutin tulisan2 kakak)

  4. Semangat Kak…
    Allah selalu bersama kita kok, terlebih lagi niat kakak kan baik..
    Aku juga selalu baca setiap tulisan yg kakak posting dan menurut aku itu bagus. Selalu ada pelajaran yg bisa aku ambil.
    Sekali lagi terima kasih ya Kak, jangan berhenti menulis ya Kak 🙂

  5. Mungkin benar apa yang dikatakan ikhwan itu.
    Lebih baik Nofriani cukup berdakwah melalui blog ini, agar tidak terkesan mencari ketenaran dan uang.

  6. Assalamu’alaykum.
    I believe you’ve noticed my name 🙂
    First of all, I swear I really envy you for you have those wonderful people around you, your best friends.
    People have their own perspectives of everything, kak, their own presumes.
    Some of them choose to say it out loud, some of them choose to keep it inside.
    I haven’t read your book, the probability is.. quite low, I should say.
    In fact, I have never read a novel in my life. even the greatest-of-all-time novel (that’s what they said), the Harry Potter novels, or the Sherlock Holmes series.
    But weirdly, I love to write, and I love when people read my writings.
    And what you said is so true, kak.
    I write to let out everything’s that keep bugging me inside my head.
    And, I write to share something that I hope would help people in some way.
    More importantly, I write for people like me, who is not all good in life.
    I write it for helping people like me to learn in a more understandable and comfortable way.
    That’s why, I believe that when you read my writings, it wouldn’t leave you any deep impressions.
    That’s what I see in the sender.
    He just, doesn’t get you. He doesn’t get how you do things, nor how you make your do.
    He’s like.. I would say, live in a different world.
    Well he’s probably gonna move in to your world, someday, but I don’t know.
    Well what I’m trying to say is, I believe that he’s not the first to do so, but the meanest one, I assume, but yet you got an entire troops of learners behind your back, kak. They got your back. You got their back first, of course, you’re the one who’s ‘giving’ in the first place.

    p.s I got annoyed a bit (sometimes a lot) when you nagged on how I forget to capitalize my ‘I’. oh but look, I capitalized all my ‘I’. Yes, I’m grateful to you now 😉

  7. Bismillaah..

    Saya pikir komentar ikhwan tersebut tidak perlu disikapi sebagai sebuah komentar kebencian sampai harus membalasnya dengan kalimat, “Dia hanya orang yang tidak mampu, untuk menjadi seperti kamu.”

    Sedikit cerita, beberapa hari yang lalu ada sesorang yang bekerja di sebuah penerbit yang cukup dikenal, nama penerbit itu sering saya lihat di Gramedia. setelah dia melihat tulisan-tulisan saya di ashfiya.com, dia menawarkan kepada saya untuk menerbitkan tulisan-tulisan saya menjadi buku melalui penerbit tersebut.

    Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, saya akhirnya menolak tawaran tersebut karena beberapa alasan. Salah satunya karena ilmu saya belum kokoh, setiap kesalahan ucapan dan akhirnya membuat orang lain terpengaruh maka pasti akan dipertanggungjawabkan di sisi Allah kelak. Dan itu yang paling saya takutkan. Saya selalu teringat ucapan Umar bin Abdul Aziz, “Orang beramal tanpa dasar ilmu, maka kerusakan yang ditimbulkan lebih besar dari pada kemaslahatannya.”

    Sebagai contoh dulu anti pernah posting sebuah permasalahan syari’at di blog dan anti menjawab pertanyaan-pertanyaan pengunjung dengan pendapat sendiri tanpa ada sisi keilmuan yang kokoh bahkan ada beberapa kesalahan. maka saya meminta untuk menghapusnya bukan karena saya benci tapi karena khawatir ketika orang lain terpengaruh dengan kesalahan itu maka kamu pasti ikut menanggungnya.

    Ini sama sekali bukan maksud saya menyudutkan anti, tapi cobalah untuk berfikir sejenak. Menulis boleh, berdakwah itu boleh, tapi syaratnya kita harus memiliki ilmu yang akan kita bicarakan. Kalau memang kita belum mengilmuinya maka tidak perlu dipaksakan untuk berbicara masalah-masalah yang tidak kita ketahui. “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang mengetahui kadar dirinya.” (Umar bin Abdul Aziz)

    Mungkin saya menyarankan sebelum menerbitkan atau memposting karya tulis, cobalah meminta seseorang atau beberapa orang yang memiliki ilmu di bidangnya untuk memuroja’ah, merevisi, atau membenarkan ketika ada kesalahan.

    Ini sebagaimana kita membuat tugas akhir/skripsi, apa kita langsung bisa menyelesaikannya tanpa ada konsultasi dengan pembimbing dan tanpa ujian skripsi dengan para penguji? tentu tidak. semua itu tujuannya agar tugas akhir itu dapat dipertanggungjawabkan. maka jika itu sekedar tulisan yang berorientasi dunia apalagi jika tulisan-tulisan itu berorientasi akhirat. tentu harus lebih bisa dipertanggungjawabkan lagi keilmiyahannya.

    wa billahit taufiq, semoga bisa sedikit membantu.

    Dan ini sedikit nukilan (tidak ada hubungannya dengan postingan, hanya sekedar pengingat saja) supaya kita bisa tetap ikhlas dalam menulis, tidak silau dengan ketenaran, dan cinta pujian serta rekomendasi.

    Ibnu Rajab rahimahullah berkata,

    فلهذا كان من علامات أهل العلم النافع : أنهم لا يرون لأنفسهم حالا ولا مقاما ويكرهون بقلوبهم التزكية والمدح ولا يتكبرون على أحد

    “Di antara tanda orang yang memiliki ilmu yang bermanfaat adalah ia tidak melihat dirinya memiliki status maupun kedudukan khusus. Hatinya membenci rekomendasi dan sanjungan orang lain. Ia juga tidak takabbur di hadapan orang lain.”

    Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullah berkata,

    اعلم أن أصل الجاه هو حب انتشار الصيت والاشتهار، وذلك خطر عظيم، والسلامة في الخمول. وأهل العلم لم يقصدوا الشهرة، ولم يتعرضوا لها ولا لأسبابها، فإن وقعت من قبل الله تعالى، فروا عنها، وكانوا يؤثرون الخمول

    “Ketahuilah, pondasi dari suatu kedudukan adalah senang tersebarnya reputasi, cinta ketenaran, dan kemasyhuran, padahal itu merupakan bahaya yang sangat besar. Adapun keselamatan itu terdapat pada lawannya, yakni menjauhi ketenaran. Para ulama tidak bertujuan mencari kemasyhuran. Tidak pula mereka menampakkan dan menawarkan diri untuk tujuan tersebut. Mereka juga tidak menempuh sebab-sebab yang menyampaikan ke arah sana. Apabila ternyata kemasyhuran tersebut datang dari sisi Allah Ta’ala, mereka berusaha melarikan diri darinya. Mereka lebih mengutamakan ketidaktenaran.”

    رحم الله تعالى عبداً أخمل ذكره

    “Semoga Allah Ta’ala merahmati seorang hamba yang tidak ingin dirinya tenar/dikenal.” (Al-Fudhail bin Iyadh)

    http://www.ashfiya.com/2014/04/sudah-bertahun-tahun-ngaji-tapi-tak-ada.html

    semoga Allah senantiasa menjaga keikhlasan dan menunjuki kita jalan yang lurus..

  8. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
    (Al-Baqarah: 216)

  9. “ikatlah ilmu dengan tulisan”. berapa banyak ulama salaf tanpa teknologi mampu memproduksi karya/buku/kitab mulai dr belasan, puluhan, dan bahkan ratusan dan ribuan kitab. Semoga terus berkarya memproduksi tulisan-tulisan bermanfaat dan mencerahkan bagi umat Nabi Muhammad saw, jadikan kritikan, hujatan, dan celaan orang lain yg menghujam hati, jadi pemicu dan pelecut untuk berkarya (tulisan) lebih baik lagi. Sebab, sanjungan dan pujian yang menyelinap di batin kita, justru akan melemahkan dan meruntuhkan iman kita. Teruslah berkarya dengan niat yg tulus, Barokallohu fiki.

  10. Teman…
    Apabila suatu hari engkau mengalami keadaan yang engkau tidak sukai, lalu membuatmu berduka, terluka… maka hapuslah ia dengan senyuman. 🙂 Tersenyumlah lagi dan lagi, seraya mengingat banyak kebaikan yang engkau peroleh bersama keadaan tersebut. Karena yakin dan percayalah bahwa tidak semua orang mempunyai kesempatan yang sama sebagaimana yang engkau alami. Maka berteguhlah, tegar dan kuatlah.

    Teman…
    Memang tidak semua hal yang kita inginkan menjadi kenyataan. Oleh karena itu, engkau perlu terus berjuang, berusaha dan bergerak. Hingga engkau menemui keadaan yang engkau jalani adalah yang engkau benar-benar menginginkannya. Walaupun lama, bersabarlah. Meskipun sulit, berusahalah. Ingat pesan Ibunda ku, bahwa “Untuk mencapai impian tidak mudah, namun terkadang kita alami susah, lelah dan payah.” Namun Allah telah berfirman dalam Q.S Ar Ra’d : 11 yang maknanya bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum kalau kaum tersebut tidak berjuang untuk mengubah keadaan yang ada pada diri mereka. Begini .

    Teman…
    Hari ini, lepaskanlah segala beban yang membuat engkau berat untuk melangkah. Turunkanlah sejenak segala keberatan yang memaksamu untuk berhenti karena tidak sanggup memikulnya. Sejenak saja, ya, sejenak. Seraya menarik nafas, pejamkanlah matamu dan kemudian buka lagi seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling.

    Teman…
    Hapuslah luka dengan senyuman, maka engkau menjadi orang paling bahagia dalam hari-harimu. Sampaikan pada dirimu sendiri bahwa engkau mampu dan bisa menjalaninya. Engkau mampu berbahagia setelah luka itu ada. Maka engkau benar-benar mampu.

    Teman…
    Hari ini aku menyimak suara seorang teman di sana. Kami berjumpa melalui nada suara yang mengalir. Aku menangkap dari nada suara beliau, sedang ada beban berat yang sedang beliau pikul. Pun dari ekspresi suara yang ku dengar perlahan, beliau sedang untuk menjadi tegar dan kuat.

    Teman…
    Aku memang tidak dapat menyaksikan raut mukamu saat kita bertukar suara hati ini. Namun, semoga engkau di sana dalam kondisi baik-baik saja yaa. Percayalah teman, bahwa sesudah kesulitan ada kemudahan dan hapuslah lukamu dengan senyuman, segera. Segera maafkan sesiapa saja yang menyisipkan getir di sudut hatimu, lalu tersenyumlah. Maafkan sesiapa saja yang menyisakan pahit di ujung rasamu, lalu tersenyumlah. Tersenyumlah dengan ringan seakan engkau sedang menerima sebuah hadiah terindah. Lalu, bersiaplah membukanya dengan perasaan yang penuh ketakjuban. Segeralah tersenyum. Karena dalam keadaan apapun yang sedang engkau alami, pasti ada hikmahnya.

    Teman…
    Dalam waktu-waktu yang kita jalani, maka kita akan bersua dengan pergantian musim. Terkadang musim semi, musim gugur, musim hujan pun musim panas. Maka ketika saat ini engkau sedang berbasah-basah keringat dengan kelelahan yang menerpamu, yakinkan dirimu, sebentar lagi akan hadir musim berikutnya. Ya, tidak akan lama engkau berterik-terik di bawah sinar mentari, bukan? Yakin dan percayalah. Lalu, teruskan langkah dan gerakmu. Berjuanglah lagi dan berjalan lah dengan senyuman. Karena engkau tidak sendiri dan tidak akan pernah menjalaninya sendiri. Masih banyak orang-orang di luar sana yang juga mengalami keadaan serupa. Namun mereka mau bergerak dan melangkah lagi, bersama keyakinan yang mereka tanam di dalam jiwa. Keyakinan yang membuat mereka makin kuat dan semakin mantab.

    Teman…
    Dalam hari-harimu, engkau mungkin melihat keadaan yang engkau tidak sukai.
    Dalam hari lain engkau bertemu dengan keadaan yang sangat engkau sukai.
    Namun satu pesan ku, “Jangan Lupa Tersenyum, yaa. Walaupun tidak mudah, namun engkau bisa!” 🙂

    Teman, tentang duka dan airmata yang engkau alami saat ini. Ia tidak akan berlangsung selamanya. Namun kedatangannya adalah untuk mengajakmu percaya, tentang makna kehadirannya. Supaya engkau dalam memaknai kebersamaan dengan nya. Ya, kebersamaan yang mungkin akan terjadi saat ini saja, kalau engkau percaya, bahwa ia akan segera berlalu. Hanya berpikir positif dan percaya. Maka engkau mampu tersenyum lagi.

    Salam Ukhuwah wahai saudariku…
    ^_^

Terima kasih atas komentar antum. :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s