[Renungan] Ketulusan Keikhlasan Kita


                 يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا            

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu,

dan manusia dijadikan bersifat lemah. [Q.S. an-Nisaa’: 28]

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ikhlas. Ikhlas dan ikhlas.

Sebuah rasa yang sering sekali luput dari hati kita. Namanya hanya terdiri dari enam huruf. Namun maknanya panjang, dalam dan luas. Ilmunya berat. Cara mendapatkannya susah bukan kepalang. Ciri-ciri keberadaannya juga sangat halus dan susah dirasakan. Dan yang paling penting, ia adalah hal yang tidak mungkin dimiliki bagi hati-hati manusia yang terlalu mencintai dunia dan dirinya sendiri.

Ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya ibadah kita, di samping bahwa amalan itu harus sesuai dengan ajaran Islam dan Rasul Allah. Tanpa ikhlas, amalan kita hanya sia-sia. Tanpa ikhlas, amalan kita tidak mendatangkan pahala. Seperti makanan yang dimasak tanpa garam. Tidak ada rasa, tidak ada nikmat, dan tidak ada bekas.

Ana teringat pesan Ibnu Qayyim, bahwa, “Amalan yang dilakukan tanpa disertai ikhlas dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagaikan seorang musafir yang membawa bekal berisi pasir. Bekal tersebut hanya memberatkan, namun tidak membawa manfaat apa-apa.”

Subhanallah. Begitu pentingnya peran sebuah keikhlasan dalam setiap langkah hidup kita. Ikhlas bahkan merupakan nama salah satu surat fenomenal dan favorit dalam al-Quran. Ikhlas adalah salah satu hal utama yang diajarkan ibu kita dari kecil. Ikhlas juga menjadi bahan dialog di film-film Islami, di novel-novel Islami (termasuk novel Ku Melangkah dengan Bismillah, hehe). Ikhlas juga merupakan sasaran utama bagi orang yang hendak memperbaiki diri dan hatinya.

Tapi,

Ketika ikhlas sering sekali kita ucapkan dengan gampang, apakah betul hati kita benar-benar ikhlas? Ketika orang lain melihat kita sebagai orang yang ikhlas, apa benar diri kita selamat dari kata riya’? Padahal, hanya Allah yang mengetahui isi hati kita. Dan Allah pula yang mengukur seberapa ikhlasnya kita. Tidak ada yang tahu pasti kadar ikhlas kita, termasuk mungkin diri kita sendiri.

“Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu

atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui”.

(Q.S. Ali Imran: 29)

Ikhlas selalu kita perjuangkan (atau lewatkan) dalam baaanyak sekali kesempatan. Entah itu dalam kesengsaraan atau kenikmatan. Entah itu dalam kebahagiaan atau kesedihan. Entah itu dalam pekerjaan atau pemberian. Entah itu dalam sabar, entah itu dalam cinta, dalam cemburu, entahlah. Setiap perkara selalu menuntut ikhlas agar ia menjadi berkah. Entah dari mana keberkahan datang jika kita tidak pernah mampu untuk ikhlas dalam mengisi hari kita.

Mari kita ingat-ingat, apakah kita sudah mampu mengisi hidup dengan ikhlas? Misalnya, ketika Allah mengambil titipan-Nya dari kita, apakah kita bisa segera ikhlas? Sekadar hilang uang dua puluh ribu, apa kita ikhlas? Teman kita pinjam seratus ribu dan belum dikembalikan, apa kita ikhlas? Kita sudah belajar mati-matian tapi masih juga gagal ujian, apa kita ikhlas? Orang lain bergaji 20 juta sebulan; gaji kita hanya cukup untuk makan, apa kita ikhlas? Dan di saat-saat kita bilang “Ikhlas, kok! Bener!” apa benar kita benar-benar ikhlas?

Entah, Saudaraku. Hanya kita dan Allah yang tahu itu.

Jujur, ana pribadi juga belum mampu cepat ikhlas dalam banyak hal. Walau sudah 23 tahun lebih ana meninggali Planet Bumi, ikhlas tetaplah ilmu yang tidak kunjung ana kuasai. Pun, satu-dua orang dari antum tentunya juga sama seperti ana; belum mampu menguasai keikhlasan. Karena itu, mari kita terus saling mengingatkan. Bahwa ikhlas adalah salah satu pondasi utama amal kita, pondasi iman dan hati kita. Namun ia adalah pondasi yang terlalu sering kita lupakan.

Ana jadi teringat, sebuah kalimat: “Ikhlas itu membersihkan amalan dari komentar manusia.”

Na’udzubillah. Jangan sampai komentar manusia menjadi satu-satunya penentu langkah hidup kita. Mari kita instropeksi. Apakah selama ini kita belajar banyak hal hanya karena ingin dinilai pintar? Apakah selama ini kita berprestasi hanya karena ingin dicap hebat? Apakah selama ini kita sedekah hanya karena ingin dinilai darmawan? Apakah selama ini kita berusaha sabar hanya karena ingin dinilai begitu? Ana kira, kita akan jawab “tidak.” Tapi jauh di dasar hati kita, tersisa ruang yang membantahnya, memberikan celah bagi kesombongan dan riya’ yang terus menghantui hidup kita.

Betapa sulitnya ilmu ikhlas ini, sampai-sampai suatu hari di kajian kampus (dulu) seorang ustadz menyampaikan, “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’. Beramal karena manusia juga riya’. Sedangkan ikhlas adalah jika kita selamat dari keduanya.”

Memang.. Ada banyak hal yang sering merusak keikhlasan kita. Ada banyak cerita pahit yang kadang-kadang masih berusaha meracuni kita dengan sakit hati dan dendam. Ada banyak hal yang menguras air mata namun harus dikubur dalam-dalam, sehingga menjelma menjadi kedengkian.

Tapi, musibah kecil tidak seharusnya menjadikan kita nestapa. Sebab ketiadaan ikhlas lah yang sebenarnya merusak kebahagiaan kita. Itulah mungkin.. Mengapa kita tak bahagia; karena kita tidak ikhlas. Padahal pintu syukur senantiasa terbuka lebar bagi kita. Celah-celah untuk melihat sisi positif musibah kita selalu ada di depan mata.

Apapun yang terjadi pada kita.. Itulah yang terbaik, yang terindah, yang paling kita butuhkan untuk tetap dekat pada-Nya. Itulah skenario paling manis untuk menjaga kita dalam koridor Islam. Maka ikhlas adalah hal terbaik yang harus mengisi hari-hari kita.

Terus, Mbak? Seperti apakah ikhlas itu?

Dari banyak kajian ana menyimpulkan, bahwa “Ikhlas mengendalikan kadar amal seseorang. Pujian tidak menambahnya, hinaan juga tidak menguranginya. Orang yang ikhlas adalah ia yang selalu khawatir akan kadar keikhlasannya. Jika ia khawatir bahwa ia tidak ikhlas, saat itulah ia benar-benar ikhlas.”

Dan kapan kita bisa mencapai titik keikhlasan yang seperti itu?

Ana juga tidak tahu. Tidak ada yang tahu kecuali Allah.

Yang bisa kita lakukan adalah berusaha, berdoa, dan bersabar. Selalu khawatir akan raibnya keikhlasan kita. Tidak mundur jika dicemooh, tidak angkuh jika disanjung. Lakukan semua karena-Nya. Hindari semua karena-Nya. Hanya karena-Nya.

Mari kita pinta pada Allah agar Ia berkenan menjaga kita tetap dalam kotak keikhlasan itu.

Semoga, in syaa Allah, ya. 🙂

 

Safira Khansa

Dalam kantuk tengah hari

Kota Bengkulu, 14 Juni 2015

Something beautiful doesn't come easy. :)

Something beautiful doesn’t come easy. 🙂

3 thoughts on “[Renungan] Ketulusan Keikhlasan Kita

Terima kasih atas komentar antum. :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s