[Cerita + Renungan] Ramadhan Terakhir


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ask Allah not for a long life, but for a good end.

Masih jelas di benak saya…

Pagi buta, 29 Oktober 2018, penjuru Nusantara diributkan oleh kecelakaan pesawat L**n Air yang hancur tenggelam di Perairan Karawang. Dewi Herlina, kakak kandung saya, ialah satu dari 189 korban tak selamat dalam tragedi pilu itu. Dan hingga detik ini, hingga saya tulis cerita ini, namanya tidak termasuk dalam daftar bagian tubuh yang berhasil diidentifikasi.

Walau, telah berbulan-bulan berpulang ke hadapan-Nya, saya merasa kakak masih hidup. Masih di tanah Jawa, tengah bermain petak umpet dengan putra sematawayangnya. Rasa-rasanya, Ramadhan tahun ini, ia pulang ke tanah Sumatra, kampung halaman kami, menengok anak saya yang masih dalam kandungan saat tragedi itu terjadi.

Ya Allah, sulit saya yakini, bilakah kakak telah tiada. Continue reading

[Flash Fictions] Naskah Juara Give Away I – KMDB


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Alhamdulillaah.

Dari sekitar 40 peserta Give Away Pertama Novel “Ku Melangkah dengan Bismillah…”, inilah naskah juara Puisi dan Status 🙂

Maasha Allah. Indah sekali tulisan mereka.. Semoga menjadi generasi novelis selanjutnya. Aamiin..

Pemilik Flash Fiction Terbaik I – Nova Munira:

Sejuta Cahaya di Balik Ayat-Ayat Cinta-Mu

Bismillahirrahmanirrahim..”

Wal ’ashri. Innal insaanalafil hushri. Illalladhina amanu wa ’amilushaalihaati. Wa tawaa shaubilhaq. Wa tawaa shaubilshabr.

 Tubuhku langsung bergetar, jantungku ikut berdebar, nafasku tertahan sebentar seperti berjumpa dengan huruf saktah dalam Al-qur’an, aku terbungkam tanpa suara ketika menyaksikan bintang kecil di hadapanku melantunkan hafalan ayat-ayat suci Al-qur’an. Bulir-bulir kristal bercucuran di pipiku, seakan ikut menyaksikan apa yang sedang aku saksikan.

“Aku malu!!!” batinku mendesah. Continue reading

[Cerpen] Ayah.. Maafkan Aku..


Bismillaahirrahmaanirrahiimm..

Assalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Ini adalah salah satu short stories yang pernah saya tulis. Berhubung saya sedang bingung ingin tulis apa, saya post tulisan lama saja, ya. ^__^ Semoga bermanfaat..

Ayah.. Maafkan Aku..

Oleh: Nofriani

 

Mata itu menatap lama. Berkaca-kaca, namun bulirannya tak kunjung meluncur dari bendungan. Bibir itu bergetar dan membiru, menggigil dalam hening. Kening itu berkerut dan berlipat-lipat. Giginya gemeritik membendung emosi yang telah sampai di puncaknya.

Serangkaian guratan rumit di wajah muda itu menyampaikan setunggal ekspresi memilukan; penyesalan.

Wajah itu kembali mengenang sepenggal masa lima tahun silam. Ketika violinist itu memintanya dengan lembut..

“Anakku.. Ini hadiah ulang tahun untukmu, Nak. Pertunjukannya hanya sebentar, ayah cuma minta 10 menit-mu, Nak..”

“Bohong!” Sahutnya dengan kasar. Aku benci!

[Cerita] Inspirasi Menulis, Menulis Menginspirasi


Bismillaahirrohmaanirrohiim.

Assslaamu’alaykum warohmatulloh wabarokaatuhu..

Waduh aku mau mulai nulis dari mana ya. ==’ Jarang banget soalnya bikin promosi buku begini. Hehe. Tapi biar buku kami laku jadi harus gencar jualan. ^^

Beberapa bulan lalu aku mengikuti sebuah lomba menulis. Yang ngadain mbak Tri Lego Indah, beliau mengajukan tema “Inspirasi Menulis”, jadi kenapa kita musti nulis—kenapa kita tidak harus selalu menjadi pembaca—kenapa kita perlu menorehkan tinta sebelum nafas berhenti—daan—kenapa aku ikut? @.@

Awalnya aku juga bingung mau ikut apa nggak, takut ga menang dan lain-lain. Tapi seorang saudaraku bilang, “Kalau antum ikut, antum sudah jadi pemenang untuk diri antum sendiri ukh.” Oh iya juga, ya, kenapa takut kalah tah? Kalau ga lolos aku bisa masukin karyaku ke blog ^^b

Tapi nasib berkata lain, Alhamdulillah aku lulus.. T_T Walau cuma juara 3, aku klepek-klepek bukan kepalang. Sujud syukur sambil ngos-ngosan. Hehe. Subhanalloh, seketika aku sadar, ALLAH selalu menitipkan kelebihan di diri kita. Seburuk apapun, semalang apapun, selalu ada kekuatan yang dititipkan oleh-Nya. Want to know deeper? Click Here ^.^

[Cerpen] Mata Cantik Nadia#Part2


Ups, baca bagian satu dulu yaa.. ^^

           Keesokan harinya Nadia masih tidak masuk sekolah. Hanya diam di kamarnya. Sesekali memandang keluar jendela, menatap kosong langit Jakarta. Pikirannya hanya tertuju pada kehancuran nasib yang ia bayangkan. Belum pernah Nadia begitu. Kehilangan semangat hidup. Seakan-akan tak ada lagi yang bisa ia lakukan menghadapi kenyataan pahit buta warnanya.

            Nadia Aulena, gadis yang dikenal sempurna, ternyata tidak begitu. Dia hanya bisa menangis putus asa. Tidak tahu lagi caranya kembali bersemangat. Nadia benar-benar merasa sudah hancur. Bila ada kapur tua, maka dirinya lebih rapuh dari itu.

            Sudah seminggu tes buta warna itu berlalu. Continue reading

[Cerpen] Mata Cantik Nadia#Part1


           “Selamat,ya.”, ujar ibu Ika, wali kelas Nadia. Pagi itu adalah pembagian rapor, Nadia kembali mendapatkan juara umum di sekolahnya. Dengan senyum mengembang indah di bibirnya, Nadia mencium tangan bu Ika, sambil mengucapkan terima kasih.

            “Selamat, ya, Nak,” ujar pak Sudir, kepala sekolah Nadia. Hari itu Nadia menerima penghargaan sebagai siswa teladan se-Jakarta.

            “Selamat, ya, Nad,” kak Geri, kakak kelasnya, mengabarkan bahwa Nadia berhasil memenangkan juara 5 Olimpiade Biologi tingkat Nasional.

            “Yeeeey….!” Nadia dan teman-temannya bersorak riang. Mereka baru saja memenangkan ISDC Nasional.

            Begitulah hari-hari Nadia Aulena. Continue reading

[Cerita] Mercusuar Berbalut Sutera#Part2


Bagian Pertama dulu yaa : ^^ Klik

Akhirnya aku mengenakan seragam putih abu-abu. Prestasi belajarku yang sempat turun waktu SMP melonjak lagi di SMA. Setiap bagi rapor, aku selalu juara 1, kadang-kadang dapat juara umum juga. Tapi tak pernah sedikit pun ibu “memandang”-ku, apalagi memujiku! Bagi rapor untukku persis dengan hal penagihan hutang. Kalau pas ya sudah, dan kalau kurang bakal terus ditagih. Tapi, saat Ana baru masuk 10 besar saja, ibu malah syukuran! Keluarga dekat diundang hanya karena Ana berhasil masuk 10 besar! Padahal setiap semester aku selalu ranking 1 dan tak pernah sekalipun ibu bilang, “bagus”!

Aku juga sering memenangkan lomba-lomba tingkat propinsi. Tapi kawan, tak pernah sekalipun ibu menanyakan “gimana lombanya?”. Tak ada sama sekali sapaan “nak” yang selalu kudengar dari bunda. Tak ada lagi belaian hangat dalam tidur malamku. Bunda, aku rindu padanya.. Bagiku, lebih baik ayah menduda daripada harus menyiksaku begini!

Ya, akulah yang paling menderita di rumah itu, aku mirip dengan ayah, pemikir dan sakit-sakitan. Tapi karena ayah laki-laki, beliau lebih kuat dariku. Sedangkan aku, sebentar-sebentar sakit. Yang maag lah, tipes lah, anemia lah, dan seterusnya. Tapi itulah ibu, tak pernah sedikit pun memperlakukanku dengan baik! Kasar! Tiap aku jatuh sakit bukannya dimanja, tapi dimarahi karena aku tidak bisa jaga kesehatan dan hanya menghabiskan uang ke dokter. Maklum, ibu tidak kerja, sehingga hidup kami bertujuh, ayahlah yang menopangnya.

Ketika aku naik ke kelas 3, aku jatuh sakit lagi. Continue reading