[Cerpen] Mata Cantik Nadia#Part2


Ups, baca bagian satu dulu yaa.. ^^

           Keesokan harinya Nadia masih tidak masuk sekolah. Hanya diam di kamarnya. Sesekali memandang keluar jendela, menatap kosong langit Jakarta. Pikirannya hanya tertuju pada kehancuran nasib yang ia bayangkan. Belum pernah Nadia begitu. Kehilangan semangat hidup. Seakan-akan tak ada lagi yang bisa ia lakukan menghadapi kenyataan pahit buta warnanya.

            Nadia Aulena, gadis yang dikenal sempurna, ternyata tidak begitu. Dia hanya bisa menangis putus asa. Tidak tahu lagi caranya kembali bersemangat. Nadia benar-benar merasa sudah hancur. Bila ada kapur tua, maka dirinya lebih rapuh dari itu.

            Sudah seminggu tes buta warna itu berlalu. Continue reading

[Cerpen] Mata Cantik Nadia#Part1


           “Selamat,ya.”, ujar ibu Ika, wali kelas Nadia. Pagi itu adalah pembagian rapor, Nadia kembali mendapatkan juara umum di sekolahnya. Dengan senyum mengembang indah di bibirnya, Nadia mencium tangan bu Ika, sambil mengucapkan terima kasih.

            “Selamat, ya, Nak,” ujar pak Sudir, kepala sekolah Nadia. Hari itu Nadia menerima penghargaan sebagai siswa teladan se-Jakarta.

            “Selamat, ya, Nad,” kak Geri, kakak kelasnya, mengabarkan bahwa Nadia berhasil memenangkan juara 5 Olimpiade Biologi tingkat Nasional.

            “Yeeeey….!” Nadia dan teman-temannya bersorak riang. Mereka baru saja memenangkan ISDC Nasional.

            Begitulah hari-hari Nadia Aulena. Continue reading

[Puisi] Duhai Baginda, Kekasih Sejati-Nya


Bulir-bulir kata yang kau lirih tatihkan

Ketika kau beranjak pergi, menutup waktumu

Menandakan betapa kau, hai Tauladan Umat

Merisaukan kami, kami yang mati tanpamu

Peluh-peluh kata yang kau ucap sukmakan

Saat sang Izrail merajut juang menjemputmu

Menandakan betapa kau, hai Penerang Sukma

Mencintai kaummu, menyayangi kaummu Continue reading

[Cerita] Mercusuar Berbalut Sutera#Part2


Bagian Pertama dulu yaa : ^^ Klik

Akhirnya aku mengenakan seragam putih abu-abu. Prestasi belajarku yang sempat turun waktu SMP melonjak lagi di SMA. Setiap bagi rapor, aku selalu juara 1, kadang-kadang dapat juara umum juga. Tapi tak pernah sedikit pun ibu “memandang”-ku, apalagi memujiku! Bagi rapor untukku persis dengan hal penagihan hutang. Kalau pas ya sudah, dan kalau kurang bakal terus ditagih. Tapi, saat Ana baru masuk 10 besar saja, ibu malah syukuran! Keluarga dekat diundang hanya karena Ana berhasil masuk 10 besar! Padahal setiap semester aku selalu ranking 1 dan tak pernah sekalipun ibu bilang, “bagus”!

Aku juga sering memenangkan lomba-lomba tingkat propinsi. Tapi kawan, tak pernah sekalipun ibu menanyakan “gimana lombanya?”. Tak ada sama sekali sapaan “nak” yang selalu kudengar dari bunda. Tak ada lagi belaian hangat dalam tidur malamku. Bunda, aku rindu padanya.. Bagiku, lebih baik ayah menduda daripada harus menyiksaku begini!

Ya, akulah yang paling menderita di rumah itu, aku mirip dengan ayah, pemikir dan sakit-sakitan. Tapi karena ayah laki-laki, beliau lebih kuat dariku. Sedangkan aku, sebentar-sebentar sakit. Yang maag lah, tipes lah, anemia lah, dan seterusnya. Tapi itulah ibu, tak pernah sedikit pun memperlakukanku dengan baik! Kasar! Tiap aku jatuh sakit bukannya dimanja, tapi dimarahi karena aku tidak bisa jaga kesehatan dan hanya menghabiskan uang ke dokter. Maklum, ibu tidak kerja, sehingga hidup kami bertujuh, ayahlah yang menopangnya.

Ketika aku naik ke kelas 3, aku jatuh sakit lagi. Continue reading

[Cerita] Mercusuar Berbalut Sutera#Part1


Aku punya tiga orang tua. Dan aku tidak tahu yang mana yang paling kusayang.

Dalam duduk kuberpikir, apa yang akan kutuliskan tentang mereka? Terlalu banyak kisah pahit dan manis yang kualami, satu buku pun tak kan habis bila kugunakan untuk memajang kisahku dan ketiga orang tuaku. Cerita ini dimulai tahun 1998, saat aku masih duduk di kelas 2 SD. Ibu kandungku sedang sakit parah, kanker payudara! Sebut saja beliau “bunda”. Aku memang tidak ingat betul kejadian itu. Tapi yang kurasa, bunda benar-benar kesakitan. Sudah setahun bunda menderita begitu. Tubuhnya membesar sebelah, payudara kanannya bengkak dan membusuk, ada kerak menempel di kulitnya. Tangan kanan beliau membesar dan berair, sedangkan tangan kirinya sekurus tanganku dulu, tangan anak SD!

Minggu, 1 November 1998.

Usiaku tujuh tahun kurang 18 hari, shubuh-shubuh jam 4 pagi bunda dijemput Malaikat Izrail saat umurnya masih 41 tahun. Kakak cerita beliau meninggal saat sedang duduk menunggu adzan. Subhanallah! Semoga Allah merahmatimu, Bunda..

Seingatku, kala itu wajah bunda sangat pucat, tubuhnya dibalut kain putih. Continue reading

[Puisi] Demi Pena dan Tinta


Seindah rajutan kata antara koma dan titik

Senyaman jahitan selimut penghangat hati

Senikmat wangi teh China di pagi hari

Sehangat cahaya mentari, kuning dan wangi

Tak sehebat pencipta Ayat-ayat Cinta

Tak seindah penulis Rumah Tanpa Jendela

Tak pula secantik pun seanggun bidadari surga

Hanya muslimah biasa, mencoba merajut kata

Tanpa tulisan, dunia ini kosong dan hampa

Tanpa kata, halimun pun tak mampu tampak

Tanpa sastra, tak ada juga kata yang terkata

Tanpa pujangga, takkan ada kalimat seindah surga

Kau bangga bisa menulis?

Aku juga

Kau bahagia bisa berbagi?

Aku juga Continue reading