[Cerita + Renungan] Mengapa Memilih Menulis?


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

WARNING: Tulisan ini mungkin kurang berbobot dibandingkan tulisan-tulisan ana lainnya, ‘afwan.

Okay, let’s get to the point.

Jadi, Kamis, 28 Agustus lalu, ada pesan masuk ke Facebook ana, yang basically menuntut ana untuk berhenti menulis buku (novel), menyebarkannya, mempromosikan, dan seterusnya.. Dan seterusnya.. Berikut cuplikan dari pesan—panjang lebar—seorang ikhwan yang sama sekali tidak ana kenal:

Don't get too affected by negative comments, Ukhtiy..

Don’t get too affected by negative comments, Ukhtiy..

Continue reading

[Renungan] Ketika Memaafkan Terlalu Berat


 “Sesungguhnya lubang jarum takkan terlalu sempit bagi dua orang yg saling mencintai.

Adapun bumi takkan cukup luas bagi dua orang yang saling membenci.”

(Al-Khalil Ibn Ahmad)

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Assalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh..

Ada satu ucapan, dengan satu napas ‘tuk menuturkannya..

Maaf.

Setunggal kata, singkat dan sederhana. Namun ia menjadi sarat makna, sarat kekuatan dan kedahsyatan bagi hati yang tidak terlatih ‘tuk memberikannya dengan ikhlas. Ialah sebuah perjuangan yang begitu pahit dan meletihkan, ‘tuk sepenuhnya memberi ruang di hati ini, ‘tuk dengan tulus menghaturkan, “Iya, aku sudah memaafkanmu..” Maafkanlah.. ^^

[Semangat] Ketika Hijab Ingin Kuruntuhkan


Islam itu pada awalnya ajaran yang asing

Dan nantinya ia akan kembali menjadi asing sebagaimana awalnya,

Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.” (HR. Muslim)

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalaamu’alaykum warohmatullaahi wabarakaatuhu..

Mata itu memandang, terpana padanya, menganga terpesona..

Jilbab lebarnya melambai tertiup angin ketundukan dan keanggunan. Kaus kaki tebalnya melangkah manis bersama kaki mungil yang dibungkusnya. Baju panjang dan rok bahan menutup rapat-rapat tubuhnya, bersama membentuk langkah-langkah di pertigaan Jatinegara. Tak lupa manset tangan menghiasi pergelangan yang lembut itu, yang suci tak tersentuh.

Ialah muslimah senja itu, berjalan menunduk dan bergegas. Merapat ke pinggir agar tak jadi perhatian orang. Bibirnya bertasbih memahabesarkan sukma Tuhannya, matanya memandang tanah menghindari mata-mata lain yang mengincar pandangan dengannya. Ekspresi wajahnya datar, kecuali ketika bercengkrama renyah dengan muslimah lainnya.

Ialah saudariku, yang kini tengah membaca tulisan ini. Ntah apa ia kebetulan nyasar ke lapakku. Atau ia sedang rapuh lalu terbesit untuk mengetik di search engine-nya; “bosan berjilbab”, “jilbab ini menyusahkan”, “jilbab ini terasa berat”, dst. Duh, sungguh ana paham ukhtiy, Jika..

[Renungan] Ketika Aku Jatuh Cinta#Part2


Biar mudeng, minta tolong baca yang pertama dulu ^___^v

Na’am, cinta sangat dianjurkan dalam Agama-Nya. Namun, sekali lagi ana ulang, cinta yang seperti itu akan ada setelah waktunya tiba. Kini kita hanya harus bersabar dalam usaha, bukan usaha tidak sabar. Daripada ALLAH marah, murka karena kita membutakan diri dengan cinta yang bukan karena-Nya, tidak halal dan “maksa”. Karena ketahuilah,

Asma’ binti Abu Bakar meriwayatkan, suatu saat beliau mendengar Rasululloh Shollollohu ‘Alayhi Wasallam bersabda, Tidak ada seorang pun yang lebih pencemburu, daripada ALLAH ‘Azza Wajalla.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wah, kalau seharian kita mikirin si diaa mulu, tiap saat ingat diaa terus. Sampai lupa makan lupa mandi, apa itu menyenangkan ALLAH? Tidak.. ^^ Rasanya semua sudah menangkap maksud ana, cinta yang halal adalah pilihan terbaik ‘tuk dijalani. Cinta yang karena-Nya, adalah jalan terbaik ‘tuk ditapaki. Mengapa sabar itu perlu?

[Renungan] Ketika Aku Jatuh Cinta#Part1


Hanya dengan mengingat ALLAH, hati kan terasa tenang..

Bismillaahirrohmaanirrohim.

Assalaamu’alaykum warohmatulllooh wabarokaatuhu.

Saudaraku, izinkanlah ana menuliskan sedikit tentang sebuah rasa, rasa aneh yang bersemayam di hati tiap-tiap diri. Mari kita bicara sedikit tentang cinta. Lebih tepatnya perihal yang terjadi saat kita memaksakan hal super rumit bernama cinta ini. 😉

Cinta, uhm.. Siapa sih yang tak kenal cinta? 😉 Ntah itu love, mahabbah, ai, sarang, apapun. Rasanya semua tahu apa itu cinta, hubungan batin antara sepasang anak manusia. Kata orang, manusia tidak bisa hidup tanpa cinta. Kata Nasionalis Legendaris dari India, Mahatma Gandhi, “Where there is love, there is life.” Kata Safira Khansa, “Jika aku jatuh cinta, maka itu haruslah saat aku telah memiliki seorang yang halal bagiku.” Sedangkan firman Sang Penguasa Cinta:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal sholih,

kelak ALLAH Yang Maha Pemurah

 akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.”

(Q.S. Maryam: 96)

Saudaraku.. Bagaimanakah cinta itu?

[Renungan] Jika Lidah Telah Berkata


Sabarlah dengan sebenar-benar sabar, akan ada masa harapan kita menjadi kenyataan. Insya ALLAH..

Bismillaahirrohmaanirrohiim.

Assalaamu’alaykum warohmatulloh wabarokaatuhu.

Tutur kata yang baik adalah sedekah.(HR. Bukhari dan Muslim)

Sebuah rekaman shohih seorang manusia pilihan ALLAH..

Saudaraku…

Kali ini, izinkanlah kumenuliskan tentang sepotong daging merah yang lembut dan lentur, namun juga kusut dan berlumpur. Tentang pemberian indah dari ALLAH, namun juga penuh resah bila tak dipelihara. Ya, tentang sepotong daging merah ini, lembaran super kritis yang dimiliki tiap-tiap makhluk. Yang dimiliki tiap manusia, makhluk lemah yang kadang lupa berhati-hati menjaganya.

Saudaraku, ketahuilah, bahwa jembatan paling efektif menuju titik dasar hati adalah lembaran daging merah itu. Daging merah yang panjang dan tak berkayu. Ialah lidah, lembaran merah muda tempat bersemayam sepucuk akhlak bernama lisan. Continue reading