[Flash Fictions] Naskah Juara Give Away I – KMDB


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Alhamdulillaah.

Dari sekitar 40 peserta Give Away Pertama Novel “Ku Melangkah dengan Bismillah…”, inilah naskah juara Puisi dan Status 🙂

Maasha Allah. Indah sekali tulisan mereka.. Semoga menjadi generasi novelis selanjutnya. Aamiin..

Pemilik Flash Fiction Terbaik I – Nova Munira:

Sejuta Cahaya di Balik Ayat-Ayat Cinta-Mu

Bismillahirrahmanirrahim..”

Wal ’ashri. Innal insaanalafil hushri. Illalladhina amanu wa ’amilushaalihaati. Wa tawaa shaubilhaq. Wa tawaa shaubilshabr.

 Tubuhku langsung bergetar, jantungku ikut berdebar, nafasku tertahan sebentar seperti berjumpa dengan huruf saktah dalam Al-qur’an, aku terbungkam tanpa suara ketika menyaksikan bintang kecil di hadapanku melantunkan hafalan ayat-ayat suci Al-qur’an. Bulir-bulir kristal bercucuran di pipiku, seakan ikut menyaksikan apa yang sedang aku saksikan.

“Aku malu!!!” batinku mendesah. Continue reading

[Cerpen] Mata Cantik Nadia#Part2


Ups, baca bagian satu dulu yaa.. ^^

           Keesokan harinya Nadia masih tidak masuk sekolah. Hanya diam di kamarnya. Sesekali memandang keluar jendela, menatap kosong langit Jakarta. Pikirannya hanya tertuju pada kehancuran nasib yang ia bayangkan. Belum pernah Nadia begitu. Kehilangan semangat hidup. Seakan-akan tak ada lagi yang bisa ia lakukan menghadapi kenyataan pahit buta warnanya.

            Nadia Aulena, gadis yang dikenal sempurna, ternyata tidak begitu. Dia hanya bisa menangis putus asa. Tidak tahu lagi caranya kembali bersemangat. Nadia benar-benar merasa sudah hancur. Bila ada kapur tua, maka dirinya lebih rapuh dari itu.

            Sudah seminggu tes buta warna itu berlalu. Continue reading

[Cerpen] Mata Cantik Nadia#Part1


           “Selamat,ya.”, ujar ibu Ika, wali kelas Nadia. Pagi itu adalah pembagian rapor, Nadia kembali mendapatkan juara umum di sekolahnya. Dengan senyum mengembang indah di bibirnya, Nadia mencium tangan bu Ika, sambil mengucapkan terima kasih.

            “Selamat, ya, Nak,” ujar pak Sudir, kepala sekolah Nadia. Hari itu Nadia menerima penghargaan sebagai siswa teladan se-Jakarta.

            “Selamat, ya, Nad,” kak Geri, kakak kelasnya, mengabarkan bahwa Nadia berhasil memenangkan juara 5 Olimpiade Biologi tingkat Nasional.

            “Yeeeey….!” Nadia dan teman-temannya bersorak riang. Mereka baru saja memenangkan ISDC Nasional.

            Begitulah hari-hari Nadia Aulena. Continue reading

[Cerpen] Gara-Gara Facebook


(Cerpen ini sudah ada versi bahasa Inggrisnya, khusus buat pembaca, klikJust Because Of Facebook“)

“Baik, sampai di sini perkuliahan hari ini, terima kasih, assalamu’laykum. “ Bu Gustina menutup kuliah  hari itu.

“Wa’alaykumussalam, Bu” Jawab para mahasiswa jurusan Hubungan Internasional itu berbarengan, masing-masing bergegas pulang. Di antara para mahasiswa tersebut, tidak ketinggalan Gina Aulia, kelihatan terburu-buru meninggalkan ruangan.

Panas banget hari ini. Kali kesepuluh Gina mengeluh hari itu. Dalam perjalanan pulang, Gina bergumam. Duh, ga sabar, nih, mau update status, ah. Hari ini update status apa, ya. Gadis manis itu senyum-senyum sendiri, membayangkan layar lepinya penuh dengan warna biru tua dan putih.

Sesampainya di rumah, buru-buru pula Gina membuka Hurricane, begitu Gina menyapa kado ultah dari ayahnya itu. Laptop yang baru berusia 19 minggu.

Hah? Gina terbelalak, ada yang menerornya di facebook, passwordnya diganti. Berkali-kali Gina mencoba log in, tetap tidak bisa. Buru-buru Gina menyambar Dandelion, hape qwerty kesayangannya, kado ultah juga, dari ibu. Gina menekan tombol 4, lama, speed dial ke nomor abang Gusti, saudara Gina satu-satunya.

Tuuuut.. Continue reading

[Cerpen] Aku Lagi Puasa


Panas, terik, kering, sumpek, ribut, padat, macet total. Siang yang melelahkan dan menyebalkan. Tiga dara cantik, Aina dan saudari kembarnya Aini, ditemani kakak sulungnya, Irfah, sedang duduk berdempetan di angkot, menunggu sang supir mengantar mereka ke pasar tradisional di Bidaracina.

Hari pertama puasa. Sangat melelahkan, dan tak akan terlupakan. Duduk di angkot yang panas bersama supir yang ugal-ugalan menambah kelengkapan cerita.

“Huaaaaa. Aku capek. Lapar.” Aina memulai.

“Aku lagi puasa,” ujar Aini. Gadis lima belas tahun itu mengelus dadanya. “Harus bisa, Kan puasa.”

“Mau bisa bagaimana?” suara Aina meninggi, “Aku capek, Coba deh, panas begini, sumpek, mana abang supirnya seperti orang gila lagi. Hari pertama saja udah begini. Mana tahan puasa sebulan. Huh.”

“Hufh, aku lagi puasa, na. Tidak ada waktu buat marah-marah.” Dengan senyum setengah terpaksa Aini mengelus dadanya.

“Alah. Dasar kamu lagi puasa saja, Nanti kalau udah beduk kamu marah-marah juga.” Aina masih berkukuh.

“Udah kubilang aku lagi puasa. Tidak ada gunanya marah sama kamu.” Dengan senyum dibuat-buat, Aini mencoba tenang, Dia mengelus dadanya. Awas nanti kalau udah buka, aku balas kamu, na. Hufh. Gumam Aini menggurutu. Ekspresi wajahnya bisa dibaca sang kakak. Irfah yang dari tadi hanya diam, geleng-geleng kepala melihat tingkah dua adiknya yang tidak mirip itu.

Angkot 19 berhenti. Lampu merah. Continue reading

[Cerpen] Ketika Mas Gagah Pergi


Ketika Mas Gagah Pergi
Oleh : Helvi Tyana Rosa

Mas gagah berubah! Ya, beberapa bulan belakangan ini masku, sekaligus saudara kandungku satu-satunya itu benar-benar berubah!
Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah di Tekhnik Sipil UI semester tujuh. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja…ganteng! Mas Gagah juga sudah mampu membiayai sekolahnya sendiri dari hasil mengajar privat untuk anak-anak SMA.
Sejak kecil aku sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di antara kami. Ia selalu mengajakku ke mana ia pergi. Ia yang menolong di saat aku butuh pertolongan. Ia menghibur dan membujuk di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang sekolah dan mengajariku mengaji. Pendek kata, ia selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak bagiku.
Saat memasuki usia dewasa, kami jadi semakin dekat.Kalau ada saja sedikit waktu kosong, maka kami akan menghabiskannya bersama. Jalan-jalan, nonton film atau konser musik atau sekedar bercanda dengan teman-teman. Mas Gagah yang humoris itu akan membuat lelucon-lelocon santai hingga aku dan teman-temanku tertawa terbahak. Dengan sedan putihnya ia berkeliling mengantar teman-temanku pulang usai kami latihan teater. Kadang kami mampir dan makan-makan dulu di restoran, atau bergembira ria di Dufan Ancol.
Tak ada yang tak menyukai Mas Gagah. Jangankan keluarga atau tetangga, nenek-kakek, orang tua dan adik kakak teman-temanku menyukai sosoknya.
“Kakak kamu itu keren, cute, macho dan humoris. Masih kosong nggak sih?” Continue reading