[Renungan] Setengah Jutanya Allah#Part2


Kalau belum baca: Part 1.

Langsung ana keluar menuju teras bank. Dengan sisa pulsa 37 ribu, ana menelepon nomor call center. Di seberang, Mas Operator cakap macam-macam, “Nomor ATM-nya berapa Bu Nofri?”, “Bisa diceritakan apa keluhannya, Bu Nofri?”, “Sebentar, Bu Nofri, kami alihkan ke petugas perbankan kami.”, “Sebentar, Bu Nofri, mohon tunggu satu menit,”, “Bu Nofri bisa bantu klarifikasi data-datanya? Nama? Tanggal lahir? Nama ibu kandung? Alamat? Nomor yang bisa dihubungi?” de el el. Tidak lupa pula dihiasi dengan kejujuran bahwa balance (saldo nasabah) belum tentu dapat di­-restored.

“Ibu Nofri, mohon tunggu satu menit, kami akan buatkan nomor pengaduannya.”

Ana menunggu.

“Ibu Nofri, terima kasih telah menunggu, kami … .”

Bip bip.

Telepon putus. Di saat genting pula. Ana coba telepon ulang. Dan benar, operator IM3 di berceramah “Sisa pulsa Anda tidak cukup untuk melakukan panggilan ini.”

OK, ana mulai kesal.

Hilang..

[Renungan] Setengah Jutanya Allah#Part1


“Hidup dan makan dengan hasil keringat sendiri itu rasanya..

Tak tergambar. Tak terukur. Namun akan mengakar, akan mengukir..

beHappy();” [Safira, 2013]

 

Itu adalah sebuah status yang ana tulis di Facebook, 3 Desember 2013 lalu. Saat itu, ana baru saja menikmati gaji pertama ana sebagai tutor privat. Yah, memang tidak seberapa dibandingkan jika kelak, Insha Allah, ana menjadi PNS di BPS (ceritanya ana mengisi waktu sampai waktu magang tiba). Tapi ana bahagia dan bangga, karena sudah bisa hidup di atas kaki sendiri, tidak lagi di bawah TID (Tunjangan Ikatan Dinas) BPS, tidak lagi di bawah bantuan orang tua dan kakak perempuan ana.

Do your best to not relying to others, to stand on your own feet.

Do your best to not relying to others, to stand on your own feet.

Ngomong-ngomong, siswa-siswa yang ana ajar rata-rata berasal dari keluarga berada. Mereka tinggal di Kemang Apartement, Perumahan Ancol, Sunter, Depok, Tebet Barat Dalam, Tebet Utara, Duren Tiga, dan Penas Kalimalang. Jadwal mengajar ana juga hampir tiap hari, Sabtu-Minggu saja kadang masih ngajar.

Akibatnya, masalah yang biasa hinggap di perempuan itu terjadi juga pada ana; merasa kurang pakaian. Hehe. Ana kadang malu sih, sama siswa-siswa ana, jika tiap hari pakaian ana yang itu-itu saja. Maklum, selama kuliah di STIS, ana tidak perlu punya banyak baju karena kami kuliah dengan seragam (tidak seperti mahasiswa lain di PTN dan PTS).

“Verify Allah does not look to your faces and your wealth

but He looks to your heart and to your deeds.”

[Sahih Muslim]

Hilang