[Renungan] Cahaya Allah dan Semesta-Nya


يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah desires ease for you; He does not desire difficulty for you. [Q.S. al-Baqarah: 185]

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Sebuah pesan emas yang harusnya menyelimuti iman: Allah never forgets you.


 

Kini, di dasar hati paling dasar, ana tengah merindukan empat sosok yang menempati posisi teratas di hati ana; almarhumah ibunda, ayah, ibu, dan saudari kembar ana. Plus sosok yang ana belum tahu siapa; jodoh tersayang ❤ ❤ ❤ hehe. Setiap kali ana bersedih dan merasa rendah diri, ingatan tentang mereka selalu setia menghiasi pikiran dan kerinduan. Dari kejauhan. Penuh kepiluan. Tanpa diketahui kelimanya.

Masha Allah. Baarakallahufiikum, yaa Ummi, Abi, wa Ukhti..

 

Ceritanya, beberapa bulan yang lalu, saat magang di BPS RI baru dimulai, ana mendapatkan informasi langsung dari atasan ana, di salah satu subdit di BPS RI (Jakarta Pusat), bahwa selesai magang nanti ana akan ditempatkan di subdit beliau. Karena kebetulan, alhamdulillaah, ana menempati kursi nomor 19 (angka favorit ana) di antara seluruh lulusan dari jurusan ana (Komputasi Statistik).

Antum mungkin tidak tahu, betapa senangnya ana hari itu, rasanya macam habis dilamar orang yang dikagumi! (Walaupun ana belum tahu rasanya gimana sih, hehe). Ana tidak bisa berhenti senyum. Apalagi kalau ingat nada riang dan bangga dari orang tua tersayang, saat mendengar berita gembira. Juga saat teringiang almarhumah ibunda yang pergi 16 tahun silam, semoga beliau pun turut bangga memiliki anak seperti ana (aamiin). Ditambah lagi, soulmate hadiah dari Allah (kembaran) yang selalu setia mendengarkan ana bicara dan bercerita.

Masha Allah, bahagianya.. Alhamdulillah.

[Cerita] Mercusuar Berbalut Sutera#Part2


Bagian Pertama dulu yaa : ^^ Klik

Akhirnya aku mengenakan seragam putih abu-abu. Prestasi belajarku yang sempat turun waktu SMP melonjak lagi di SMA. Setiap bagi rapor, aku selalu juara 1, kadang-kadang dapat juara umum juga. Tapi tak pernah sedikit pun ibu “memandang”-ku, apalagi memujiku! Bagi rapor untukku persis dengan hal penagihan hutang. Kalau pas ya sudah, dan kalau kurang bakal terus ditagih. Tapi, saat Ana baru masuk 10 besar saja, ibu malah syukuran! Keluarga dekat diundang hanya karena Ana berhasil masuk 10 besar! Padahal setiap semester aku selalu ranking 1 dan tak pernah sekalipun ibu bilang, “bagus”!

Aku juga sering memenangkan lomba-lomba tingkat propinsi. Tapi kawan, tak pernah sekalipun ibu menanyakan “gimana lombanya?”. Tak ada sama sekali sapaan “nak” yang selalu kudengar dari bunda. Tak ada lagi belaian hangat dalam tidur malamku. Bunda, aku rindu padanya.. Bagiku, lebih baik ayah menduda daripada harus menyiksaku begini!

Ya, akulah yang paling menderita di rumah itu, aku mirip dengan ayah, pemikir dan sakit-sakitan. Tapi karena ayah laki-laki, beliau lebih kuat dariku. Sedangkan aku, sebentar-sebentar sakit. Yang maag lah, tipes lah, anemia lah, dan seterusnya. Tapi itulah ibu, tak pernah sedikit pun memperlakukanku dengan baik! Kasar! Tiap aku jatuh sakit bukannya dimanja, tapi dimarahi karena aku tidak bisa jaga kesehatan dan hanya menghabiskan uang ke dokter. Maklum, ibu tidak kerja, sehingga hidup kami bertujuh, ayahlah yang menopangnya.

Ketika aku naik ke kelas 3, aku jatuh sakit lagi. Continue reading

[Cerita] Mercusuar Berbalut Sutera#Part1


Aku punya tiga orang tua. Dan aku tidak tahu yang mana yang paling kusayang.

Dalam duduk kuberpikir, apa yang akan kutuliskan tentang mereka? Terlalu banyak kisah pahit dan manis yang kualami, satu buku pun tak kan habis bila kugunakan untuk memajang kisahku dan ketiga orang tuaku. Cerita ini dimulai tahun 1998, saat aku masih duduk di kelas 2 SD. Ibu kandungku sedang sakit parah, kanker payudara! Sebut saja beliau “bunda”. Aku memang tidak ingat betul kejadian itu. Tapi yang kurasa, bunda benar-benar kesakitan. Sudah setahun bunda menderita begitu. Tubuhnya membesar sebelah, payudara kanannya bengkak dan membusuk, ada kerak menempel di kulitnya. Tangan kanan beliau membesar dan berair, sedangkan tangan kirinya sekurus tanganku dulu, tangan anak SD!

Minggu, 1 November 1998.

Usiaku tujuh tahun kurang 18 hari, shubuh-shubuh jam 4 pagi bunda dijemput Malaikat Izrail saat umurnya masih 41 tahun. Kakak cerita beliau meninggal saat sedang duduk menunggu adzan. Subhanallah! Semoga Allah merahmatimu, Bunda..

Seingatku, kala itu wajah bunda sangat pucat, tubuhnya dibalut kain putih. Continue reading

[Renungan] Bakti Beta pada Ayah dan Bunda


Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Assalaamu’alaykum.wr.wb.

“… dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’”

Sobat.. Kumaha, damang? ^^.. Lama tak bersua.. *ga ada yang nanya, hehe..

Subhanallah sekali, ya.. Allah azza wa jalla memerintahkan sedetil itu kepada kita untuk bersikap kepada dua manusia paling berjasa dalam hidup kita.. Terjemahan surah Al Isra ayat 23 dan 24 di atas membawa kita pada sebuah renungan.. Renungan yang mungkin sangat jarang kita lakukan..

Tidak terasa, ya.. Kita sudah dewasa.. Rasanya baru kemarin kita berayun di pelukan ibu.. Sekarang kita sudah bisa berlari.. Rasanya baru saja kita menangis merengek pada ayah, minta dibelikan Barbie dan robot-robotan.. Sekarang kita sudah bisa mengatur finansial kita. *aku ada temennya ga ya? Aku blm bisa :p. Rasanya baru sebentar sekali berlalu kita tidur di pelukan ibu, baru sebentaar sekali berlalu kita digendong ayah saat kita menangis.. Continue reading

[Puisi] Untukmu, Ibu..


Ibu..

Sekuatku kupanggil dikau..

Semakin terasa jauh..

Sekuatku kuingin bertemu..

Semakin sadar takkan terkabul..

Aku rindu dekap hangatmu..

Sekali ini saja, aku ingin ibu..

Tak tahu aku, ingin ibu memelukku..

Menepis jarum-jarum yang menusukku..


Ibu..

Ananda tidak punya sapu tangan..

Untuk menghapus air mata.. Continue reading