[Puisi dan Status] Naskah Juara Give Away I – KMDB


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Alhamdulillaah.

Dari sekitar 40 peserta Give Away Pertama Novel “Ku Melangkah dengan Bismillah…”, inilah naskah juara Puisi dan Status 🙂

Maasha Allah. Indah sekali tulisan mereka.. Semoga menjadi generasi novelis selanjutnya. Aamiin..

Pemilik Status Terbaik I – Riska Nur Sagita:

Hidayah bisa datang kapan saja dan melalui perantara siapa saja, termasuk melalui orang yang belum dikenal atau yang kita benci sekalipun.

“… dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash: 56)

Haru-bahagianya ketika cahaya-Nya telah merasuk diri. Terasakan seolah-olah kitalah yang paling istimewa di sisi Allah. Betapa Allah masih, selalu, dan akan selalu sayang…

“Satu langkah kau datang kepada-Ku, seribu langkah Aku mendekatmu.”

Saat-saat seperti itu, menyadari itu, sambil berurai airmata biasanya hanya lirih kita mampu berucap, “Menuju-Mu ya Rabbiiy-ku, ku melangkah dengan bismillah.”

Continue reading

[Cerita + Renungan] Mengapa Memilih Menulis?


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

WARNING: Tulisan ini mungkin kurang berbobot dibandingkan tulisan-tulisan ana lainnya, ‘afwan.

Okay, let’s get to the point.

Jadi, Kamis, 28 Agustus lalu, ada pesan masuk ke Facebook ana, yang basically menuntut ana untuk berhenti menulis buku (novel), menyebarkannya, mempromosikan, dan seterusnya.. Dan seterusnya.. Berikut cuplikan dari pesan—panjang lebar—seorang ikhwan yang sama sekali tidak ana kenal:

Don't get too affected by negative comments, Ukhtiy..

Don’t get too affected by negative comments, Ukhtiy..

Continue reading

[LOMBA] Lima Novel Gratis “Ku Melangkah dengan Bismillah…”


GIVE AWAY – LIMA NOVEL GRATIS

“KU MELANGKAH DENGAN BISMILLAH…” – SAFIRA KHANSA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

“Subhanallah! Ini kisah yang manis. Penuh kejutan yang menggelitik. Recommended!”, begitu komentar Mas Hengki Kumayandi, seorang penulis novel bestsellerTell Your Father, I am Moslem”. Sebuah komentar yang membuat ana tersanjung, selaku penulis novel ini.

Sinopsis singkat novel ini bisa dibaca di sini, atau langsung kunjungi FacebookFi Nofriani”.

Bekerja sama dengan Penerbit Wahyuqolbu + Editor, kami mengadakan event “Give Away”. Teman-teman semua, tanpa batasan usia atau status, berhak mengikuti event ini. 🙂

Prosedur Awal:

  • Like fans page; “Wahyu Qolbu”.
  • Follow akun Facebook ana:Fi Nofriani (Safira Khansa), dan akun Twitter: @safirakhansa19
  • Share info event ini di note Facebook masing-masing (copy-paste catatan Facebook, bukan yang di sini), lalu tag akun Fi Nofriani, Mas Radindra Rahman dan 30 teman lainnya.
  • Selama event berlangsung (sampai pemenang diumumkan), setiap peserta WAJIB mengganti profile picture menjadi profpic yang sama dengan profpic penulis saat ini (kover novel KMDB).

Pilihan Tipe Kuis:  Baca lebih lanjut 🙂

[Renungan] Cahaya Allah dan Semesta-Nya


يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah desires ease for you; He does not desire difficulty for you. [Q.S. al-Baqarah: 185]

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Sebuah pesan emas yang harusnya menyelimuti iman: Allah never forgets you.


 

Kini, di dasar hati paling dasar, ana tengah merindukan empat sosok yang menempati posisi teratas di hati ana; almarhumah ibunda, ayah, ibu, dan saudari kembar ana. Plus sosok yang ana belum tahu siapa; jodoh tersayang ❤ ❤ ❤ hehe. Setiap kali ana bersedih dan merasa rendah diri, ingatan tentang mereka selalu setia menghiasi pikiran dan kerinduan. Dari kejauhan. Penuh kepiluan. Tanpa diketahui kelimanya.

Masha Allah. Baarakallahufiikum, yaa Ummi, Abi, wa Ukhti..

 

Ceritanya, beberapa bulan yang lalu, saat magang di BPS RI baru dimulai, ana mendapatkan informasi langsung dari atasan ana, di salah satu subdit di BPS RI (Jakarta Pusat), bahwa selesai magang nanti ana akan ditempatkan di subdit beliau. Karena kebetulan, alhamdulillaah, ana menempati kursi nomor 19 (angka favorit ana) di antara seluruh lulusan dari jurusan ana (Komputasi Statistik).

Antum mungkin tidak tahu, betapa senangnya ana hari itu, rasanya macam habis dilamar orang yang dikagumi! (Walaupun ana belum tahu rasanya gimana sih, hehe). Ana tidak bisa berhenti senyum. Apalagi kalau ingat nada riang dan bangga dari orang tua tersayang, saat mendengar berita gembira. Juga saat teringiang almarhumah ibunda yang pergi 16 tahun silam, semoga beliau pun turut bangga memiliki anak seperti ana (aamiin). Ditambah lagi, soulmate hadiah dari Allah (kembaran) yang selalu setia mendengarkan ana bicara dan bercerita.

Masha Allah, bahagianya.. Alhamdulillah.

[Renungan] Keniscayaan Kesedihan Kita


                قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ      

“Katakanlah, ‘Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu

atau kamu melahirkannya,

pasti Allah mengetahui’.” [Q.S. Ali Imran: 29]

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Barusan, ana melihat-lihat arsip tulisan-tulisan ana di blog kesayangan. Sejarahnya, Juli 2010, ana memulai perjalanan ana merajut kata, hingga akhirnya writing has been a place I can escape to. Dan sejak Oktober 2010, ana menjalaninya dengan peluh dan perjuangan beristikamah. Ada banyak cerita yang telah ana toreh, mulai dari kisah sedih, mempertahankan hijab, ana yang kehilangan uang, ana jatuh dari kopaja, ana menanti jodoh, vertigo, dan seterusnya. Dan seterusnya.

Jika ana telaah lagi; sepertinya, banyaaak sekali tulisan ana yang membahas soal jodoh dan kesedihan. Entah itu kesabaran dalam penantian, jika kita jatuh cinta, kekotoran hati, merasa tidak cantik, susahnya memaafkan, maupun hati yang angkuh melampaui derajat kuasa manusia.

Dan sepertinya pula, diri ana pribadi, tidak bisa lepas dari yang namanya sedih, rapuh, lelah, futur, jenuh, tangis, entah apalah namanya. Entah, apa mungkin ana gagal menata hati, walau sudah empat tahun ana merajut kata-kata motivasi berlandaskan dakwah. Tapi..

[Renungan + Cerita] Bapak Tukang Sol, Gigi Gingsul, dan Kesendirian Perjuangan#Part2


Kalau belum baca; Part 1.

Thayyib, sekarang kita masuk ke cerita kedua.

Awal bulan lalu, kira-kira pada 7 Mei, ana kembali mengeluhkan gigi drakula yang ana miliki. Gigi yang memiliki dua taring lancip di bagian atas, kiri-dan-kanan. Dua gigi seri atasnya berbentuk nyaris bundar, mirip dua biji jagung pucat yang ditempelkan.

Gigi taring dan seri bagian bawah membentuk “labirin”. Ibaratnya, jika seekor bakteri bertamasya di rongga mulut ana, mungkin ia tidak mampu mencari jalan keluar. Karena gigi ana; berantakan. Ana bahkan harus memiliki sikat gigi yang berambut halus dan fleksibel, agar mampu menjangkau dan membersihkan semua bagian “tersembunyi” di gigi ana. Antum yang memiliki struktur gigi serupa, tentu tahu apa yang ana maksud. 🙂

Ceritanya, dulu ketika kecil, orang tua ana mungkin menganggap ana sudah cukup besar untuk mencabut gigi sendiri. Sehingga

[Puisi] Duhai Dua Sembilan


#Naskah yang ga lolos (lagi)#

Untukmu, duhai dua sembilan, kusulamkan rajutan pena dan tinta

Tentang satu mutiara yang datang setelah sebelas batu berbongkah iman

Satu penawar yang singgah setelah sebelas racun berkarat membinasakan

Satu rindu, satu hati menanti dikau, hai bulan Ramadhan

Continue reading