[Cerpen] Aku Lagi Puasa


Panas, terik, kering, sumpek, ribut, padat, macet total. Siang yang melelahkan dan menyebalkan. Tiga dara cantik, Aina dan saudari kembarnya Aini, ditemani kakak sulungnya, Irfah, sedang duduk berdempetan di angkot, menunggu sang supir mengantar mereka ke pasar tradisional di Bidaracina.

Hari pertama puasa. Sangat melelahkan, dan tak akan terlupakan. Duduk di angkot yang panas bersama supir yang ugal-ugalan menambah kelengkapan cerita.

“Huaaaaa. Aku capek. Lapar.” Aina memulai.

“Aku lagi puasa,” ujar Aini. Gadis lima belas tahun itu mengelus dadanya. “Harus bisa, Kan puasa.”

“Mau bisa bagaimana?” suara Aina meninggi, “Aku capek, Coba deh, panas begini, sumpek, mana abang supirnya seperti orang gila lagi. Hari pertama saja udah begini. Mana tahan puasa sebulan. Huh.”

“Hufh, aku lagi puasa, na. Tidak ada waktu buat marah-marah.” Dengan senyum setengah terpaksa Aini mengelus dadanya.

“Alah. Dasar kamu lagi puasa saja, Nanti kalau udah beduk kamu marah-marah juga.” Aina masih berkukuh.

“Udah kubilang aku lagi puasa. Tidak ada gunanya marah sama kamu.” Dengan senyum dibuat-buat, Aini mencoba tenang, Dia mengelus dadanya. Awas nanti kalau udah buka, aku balas kamu, na. Hufh. Gumam Aini menggurutu. Ekspresi wajahnya bisa dibaca sang kakak. Irfah yang dari tadi hanya diam, geleng-geleng kepala melihat tingkah dua adiknya yang tidak mirip itu.

Angkot 19 berhenti. Lampu merah. Continue reading