[Renungan] Omongan Sepanjang Lidah


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

“Omongan orang hanya sepanjang lidahnya.”

[Ustadz Dr. Khalid Basalamah, M.A.]

Nasihat yang sangat berharga, betul? 😋

Ah, walaupun kita dihina kampungan karena menutup aurat rapat-rapat, tidak usah peduli. Ada suami yang pujiannya menghadirkan pahala dan senyum-senyum luar biasa. 😍
Walaupun Anda (lelaki), dicap fanatik karena menundukkan pandangan dan tidak isbal, tidak usah gusar. Ada istri yang pandangan wajahnya menjanjikan surga dan bidadari-bidadarinya.

Pun, jika diri ini dipuji-puji karena kaya, jelita (atau tampan), cerdas, berprestasi, tidak usah kesemsem berlebihan. Semua akan lenyap kalau Allah mengambil​ kembali yang dititipkan-Nya. Yang cantik akan tua, yang sehat pernah sakit, dan yang kaya tetap akan mati juga.

Kacamata manusia buas dan bias. Buas karena setan. Bias karena prasangka. Karenanya, sangat sarat dengan perspektif yang esensinya adalah fana.

Sedang, kacamata Allah paling mulia, menyorot langsung ke hati kita, pada benih iman yang kita tanam dengan shalat dan dzikir kepada-Nya.
Pujian Allah ialah seindah-indahnya pujian, dengan janji surga di akhir cerita. 😍 Pun, murka-Nya Allah jauh lebih dahsyat dari cerocos dan aniaya berkepanjangan dari manusia. 😲

Sekali lagi, Saudaraku.

Omongan manusia hanya sepanjang lidahnya. Tak usah risau, tak usah bimbang. Ada Allah yang menyaksikan. Hanya penjurian Allah yang satu-satunya menuntun kita di sepanjang jalan di Padang Mahsyar. In syaa Allah..

 

Dalam gelisah menanti senja,

SK, 28 Maret 2017.

Omongan Orang

[Cerita] Minta Doa


Assalaamu’alaykum warohmatullahi wabarokaatuhu.

Ini puisiku yang sudah lama 😉

Sekuat baja terpanas kupanggil dikau, oh ibu

Makin terasa jauh, makin semu bayangmu, ragu aku

Setajam belati berpasir kupinta bertemu, ibuku

Makin kusadar takkan terkabul, hanya buatku rapuh Continue reading

[Puisi] Duhai Dua Sembilan


#Naskah yang ga lolos (lagi)#

Untukmu, duhai dua sembilan, kusulamkan rajutan pena dan tinta

Tentang satu mutiara yang datang setelah sebelas batu berbongkah iman

Satu penawar yang singgah setelah sebelas racun berkarat membinasakan

Satu rindu, satu hati menanti dikau, hai bulan Ramadhan

Continue reading

[Puisi] Duhai Baginda, Kekasih Sejati-Nya


Bulir-bulir kata yang kau lirih tatihkan

Ketika kau beranjak pergi, menutup waktumu

Menandakan betapa kau, hai Tauladan Umat

Merisaukan kami, kami yang mati tanpamu

Peluh-peluh kata yang kau ucap sukmakan

Saat sang Izrail merajut juang menjemputmu

Menandakan betapa kau, hai Penerang Sukma

Mencintai kaummu, menyayangi kaummu Continue reading

[Puisi] Demi Pena dan Tinta


Seindah rajutan kata antara koma dan titik

Senyaman jahitan selimut penghangat hati

Senikmat wangi teh China di pagi hari

Sehangat cahaya mentari, kuning dan wangi

Tak sehebat pencipta Ayat-ayat Cinta

Tak seindah penulis Rumah Tanpa Jendela

Tak pula secantik pun seanggun bidadari surga

Hanya muslimah biasa, mencoba merajut kata

Tanpa tulisan, dunia ini kosong dan hampa

Tanpa kata, halimun pun tak mampu tampak

Tanpa sastra, tak ada juga kata yang terkata

Tanpa pujangga, takkan ada kalimat seindah surga

Kau bangga bisa menulis?

Aku juga

Kau bahagia bisa berbagi?

Aku juga Continue reading

[Puisi] Hikmah Kesedihan


Kesedihan membelenggu qalbuku

hingga ragaku terjerat nestapa

Langit seakan tak lagi biru

Segala keindahan menghilang, hampa…

Murung pun tak kunjung beku

Siapa peduli? Tak ada!

Kini darah jadi tangisku

Ingin kumati saja!

Kurintihkan ketertatihan rindu

Kupinta Kau, wahai Maha Cinta

Hati ini hanya satu

Bantu aku mengisi hampanya Continue reading