Polosnya Ayahku


stupid story competition

“Yah, Ibu minta dibelikan Dunkin Donats, ya?”

“Okay, deh.”

“Wah, udah ‘okay deh’ duluan, nih.”

“Iyo, dong. Kan mau jadi orang kota.”

“Jangan salah beli, loh, Yah.”

“Ah, tenang aja, Bu. Ayah ga dusun, kok.”

Pak Herman sedang ada penataran di Bogor. Berangkat dari kampung, untuk menginap satu minggu di pulau Jawa.

“Nang, ayah di Bogor sekarang.”

Sahutan telpon dari Duren Sawit, “Penataran, ya, Yah?”

“Iyo.”

“Oh.”

“Eh, ternyata di sini ada juga ya, yang namanya martabak.”

“Iyo, dong, Yah. Tapi lebih enak martabak  di Curup.”

“Aih, ndak, eh, Nang. Enakan masakan ibu. Ayah tadi ditawari teman sekamar, katanya mahal, beli di restoran. Ayah ga enak mau nolak, jadi ayah paksa makan.”

“Hm.”

“…”

“Itu yang ada daging-daging di atasnya, ya, Yah?”

“Iyo.”

“Ada sayur-sayurnya?”

“Iyo, Nak.”

“Ada keju di pinggirannya, ga, Yah?”

“Iyo, Nang.”

“Dipotong-potong jadi segitiga gitu, Yah?”

“Iyo.”

“…”

“Kenapa?”

“Itu pizza, Yah. Hehe.”

“Lah, itu toh namanya pizza, baru tahu ayah.”

Anang tertawa, ayahnya lucu. Sang kacamata itu lalu menelpon anak bungsunya. Coba bertanya lagi tentang makanan lain yang ditemuinya.

“Halo, Nak.”

“Yo, Yah.”

“Ayah di Bogor sekarang nih. Tapi ndak bisa nyusulin ke Jakarta.”

“Iyo, Yah.”

“Jadwal penatarannya padat, soalnya.”

“Oh, ndak papa, Yah.”

“Ayah tadi diajaki teman makan bakwan.”

“Wah, enak tuh, Yah.”

“Ndak, Nak. Bakwannya bikin ayah muntah.”

“Lah, kok bisa, Yah?”

“Warnanya coklat, keras, kenyal-kenyal gitu.”

“Ehm.”

“…”

“Ada kuahnya, ya, Yah?”

“Iyo, dikit.”

“Makannya pake pisau sama garpu kan, Yah?”

“Iyo, Nak.”

“Ayah makan di restoran?”

“Bukan, Nak. Di hotel. Di tempat makan.”

“Yo, lah. Restoran hotel itu, Yah.”

“Oh, iyo, yo?”

“Ehm.”

“…”

“Itu steak, Yah.”

“Oh?”

Keluarga yang harmonis, hangat dan polos. Dua anaknya di Jakarta, sudah pernah melihat makanan yang diceritakan ayahnya. Seminggu kemudian, ayahnya pulang ke Bengkulu. Tak lupa membawa pesanan istrinya.

“Lah, kok malah beli ini?”

“Loh, benar, kan?”

“Bukan.”

“Lah?”

“…”

“Bukan Dunkin Donats?”

“Waduh, Yah.”

“Eh?”

“…”

“…?”

“Ini mah Sari Roti.”

18 thoughts on “Polosnya Ayahku

  1. wkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk, lucu-lucu…..
    ada orang bengkulu ke jogja, ga bisa bahasa jawa. eh malah sok sok tau bisa bahasa jawa. disana lihat gedung besar, tanya sama orang “mas mas, yang punya gedung ini siapa mas?”
    “boten ngertos” kata orang jogja
    “Wah hebat bener boten ngertos bisa bangun gedung semegah ini”
    habis itu sang pengelana dari curup jalan ke station, tanya lagi sama orang
    “mba mba, yang punya station ini siapa ya?” tnya nya.
    “Mboten ngertos” jawabnya
    “wah.. hebat bener boten ngertos itu, udah punya gedung mewah, station, kayaknya bakal kaya lau bisa kerja ma MBoten Ngertos it” ujarnya
    akhirnya sang pengelana melanjutkan perjalanannya kesatu masjid, kebetulan ada orang meninggal yang sedang disolatkan. dia tanya
    “mas siapa yang meninggal?”
    “Mboten Ngertos” jawabnya
    “waduh. nasib-nasib….. belum jadi kerja sama mboten ngertos, malah orangnya sudah meninggal……”

    (mboten ngertos = tidak tahu = I don’t know)

    • hehe, itu ayah fi, ka.. 😀

      semoga menang deh ^^ ayahku emang is the best! alah, hehe..

      pas pula yang nyelenggarain namanya sama dengan nama ayah..

      wah,, nyindir orang bengkulu nih.. -.-

  2. wkwkwkwkwkwk…… subhanallah…. aku suka sekali dengan ayahmu ini… apa adanya… mungkin aku juga akan seperti itu ya karena tidak pernah makan makanan seperti itu….

    • Hehe..
      Iya, subhanallah, ayahku emang sangat polos dan apa adanya, tampan, tegar, lembut, dst..

      saya juga pernah gitu.. he, sama aja saya juga ga terbiasa dengan makanan begitu.. syukron feedbacknya..

    • Dari hati fi, untuk ayah terhebat di mata fi..
      Dari pikiran, untuk pembaca..

      Dari impian, untuk ikut lomba di atas, hehe.. ^^

  3. baca ini jadi inget ayah juga, walopun ayah ibu kita bisa jadi bukan orang pintar tapi selalu mengharapkan yang terbaik dan mengusahakan dengan segala upayanya agar anaknya bisa jadi yang terbaik dan lebih baik dari diri mereka, hiks…

    • Iya.. orang tua.. saya selalu berusaha memahami perasaan mereka, sebelum telat, (Mereka dipanggil ALLAH atau saya dah keburu mati)

      Semoga kita bukan termasuk anak durhaka, Aamiiin..
      Btw, ayah saya keren! Hhe

  4. Pingback: Daftar Peserta “Stupid Story” Competition 2011 : (Kompetisi “Cerita Bodoh” 2011) Terregistrasi « OneMinuteOnline

  5. Pingback: Pemenang “Stupid Story” Competition 2011 : (Kompetisi “Cerita Bodoh” 2011) « OneMinuteOnline

    • hehe nggak saya kan perempuan ga bakal jadi ayah, hehehe..

      tapi kalau jadi ibu mungkin juga, itulah gunanya anak, mengenalkan teknlogi (salah satunya) 😉

Terima kasih atas komentar antum. :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s